Wednesday, July 27, 2011

SAJAK NEGRI PARA MAFIA

SAJAK NEGRI PARA MAFIA

Dunia orang adalah dunia mengerang
Dari segenap penjuru, banyak yang berang
Sajak ini tak lebih daripada amarah dan pemberontakan
Orang bijak sudah lama jadi bromocorah

Istana Penguasa penuh kecoak dan intrik
Rumah menteri penuh tikus busuk dan nafsu
Rumah hakim,jaksa,polisi penuh aroma kolusi
Semua telah sepakat merampok dan memperkosa Ibu Pertiwi

Jaring laba-laba loba telah menjerat
Aneka konferensi dan pernyataan hanya retorika basi
Mereka bertopeng suci dengan hati keji
Dan aroma busuk kian tidak bisa ditutupi

Jangan percaya politisi berdasi
Karena di dalam jasnya tersimpan pistol dan duri
Dan dalam hati, ada nafsu memperkaya diri
Persetan jerit petani, buruh dan TKI

Jangan lagi pergi ke Tanah Suci
Kalau Tanah Sucipun kau kotori dan kau kencingi
http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/06/21/sajak-negri-para-mafia/

SAJAK RINDU BERITA GEMBIRA

Membaca koran atau menonton tv hari-hari ini

seperti ada debu yang tiba-tiba terbang

lalu menusuk mata memedihkan hati

Berita kelabu selalu saja itu

Korupsi, kekerasan, kebencian, lalu di mana ceria?

Media kenapa memuja kehitaman?

Ganti saja pena hitam itu dengan yang lain

Buang saja tas penuh jelaga duka

Kamera jangan terus memotret ke bukit keresahan

Derita serasa sudah memuakkan

Sekali-kali tertawa,boleh kan?

Segerombolan wartawan berkerumun di sebuah gedung parpol

Seorang petinggi partai meminta kasus bagi-bagi uang jangan diberitakan lagi

Tak lupa amlop-amplop juga dibagi

Ada kegembiraan, tapi semu dan manipulatif

Televisi masihkah perlu ditonton?

Koran masihkan enak dibaca?

Lebih baik pergi ke gunung

Mencari kegembiraan purba nan sejuk

http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/07/05/sajak-rindu-berita-gembira/