Wednesday, May 16, 2012

Musik dan Politik

Saidiman Ahmad ; Pemerhati Masalah Sosial
SUMBER : KOMPAS, 12 Mei 2012



Tuts piano dimainkan. Suaranya mengalun dari balik pintu. Para serdadu penjaga panik. ”Ada suara?” ”Suara apa itu?” Mereka saling berpandangan. Mata nanar menatap pintu. Sebagian lainnya bergegas meraih senapan.

”Itu namanya musik!” kata David Thewlis yang duduk di se- buah kursi tak jauh dari pos serdadu. Terselip senyum di bibirnya. Para serdadu membuang napas lega. Pemimpin serdadu mengangguk-angguk. Yang tadi meraih senapan meletakkan kembali senjatanya.

David Thewlis sedang memerankan Michael Aris dalam film The Lady. Musik bagi para serda- du yang menahan Aung San Suu Kyi (Michelle Yeoh) itu adalah suara-suara asing. Bagi mereka yang dipenuhi prasangka, alunan musik patut dicurigai. Dan itu menunjukkan betapa tak berpendidikan para serdadu itu.

Adegan dalam The Lady itu mengingatkan kembali pada paparan Plato dalam The Republic. Plato adalah filsuf Yunani kuno yang menawarkan suatu konsep negara ideal. Salah satu ciri negara ideal yang dibayangkan Plato, selain dipimpin seorang filsuf, adalah adanya serdadu atau tentara yang beradab. Keberadaban serdadu dipenuhi melalui pendidikan musik.

Pada masa itu, ”musik” mencakup keseluruhan kesenian. Para serdadu diwajibkan menerima pendidikan musik dan sastra. Ketentuan ini diberlakukan untuk membedakan tentara negara dari berandal pengganggu.

Pengetahuan tentang musik akan menjadikan tentara memiliki kecerdasan yang pada akhirnya menumbuhkan sikap cinta negara. Cinta kepada negara adalah suatu sikap yang melampaui cinta kepada diri sendiri. Patriotisme hanya mungkin muncul dari mereka yang berpengetahuan dan memiliki kedalaman jiwa. Musik menyediakan itu semua.

Ajakan Plato agar tentara mempelajari musik (dan sastra) muncul 3.000 tahun silam. Namun, ajakan itu tetap terasa relevan hingga kini. Tentara adalah kelompok masyarakat yang diberi kekuasaan memegang senjata. Betapa mengerikan jika kelompok ini tak memiliki kedalaman jiwa dan patriotisme. Betapa mengerikan jika kelompok bersenjata ini dipenuhi angkara murka dan kebodohan. Mereka harus dibedakan dari berandal karena sangat berbahaya jika mereka menjadi berandal bersenjata.

Tentu ajakan mempelajari musik dan sastra tak melulu kepada tentara. Seluruh masyarakat sepatutnya juga memiliki kedalaman jiwa dan patriotisme. Betul bahwa sekarang ini kita sudah berada di alam demokrasi. Hak-hak politik rakyat semakin terpenuhi. Namun, sejumlah kelemahan aparatus negara menyebabkan pemenuhan kebebasan itu belum maksimal.

Ke Mana Akal Sehat Pergi?

Di banyak tempat masih tersua praktik pelanggaran hak suatu warga negara terhadap warga negara lainnya. Komunitas marjinal dan minoritas belum sepenuhnya bisa mengakses udara kebebasan. Masih ada pengungsi Ahmadiyah di Transito, Lombok. Masih ada jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia di Jawa Barat yang dilarang beribadah di tanah milik sendiri. Masih ada pembatasan keyakinan keagamaan. Masih ada tanah-tanah warga pinggiran yang dirampas.

Melalui media internet, praktik pelanggaran kebebasan disajikan telanjang. Beberapa di antaranya tampak memalukan. Sebuah rekaman memperlihatkan sekumpulan jemaat HKBP Filadelfia beribadah di dalam tenda di pinggir jalan. Mereka terpaksa memasang tenda untuk ibadah karena tanah mereka disegel Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Kasusnya sudah disidangkan pengadilan dari tingkat tinggi sampai Mahkamah Agung. Semua menguatkan hak jemaat HKBP Filadelfia beribadah di tanahnya. Namun, Pemerintah Kabupaten Bekasi bersikukuh melakukan penyegelan. Terpaksalah jemaat itu membangun tenda di depan pagar bersegel. Pendeta menyampaikan khotbah. Jemaat sibuk mengipasi diri yang panas. Suara pendeta tenggelam oleh suara lain dari luar tenda.

Lima corong pelantam suara diletakkan di seberang jalan menghadap langsung ke tenda ibabah. Suara lagu tahun 1980-an diputar keras-keras. Pendeta menyampaikan nasihat agama. Yang terdengar: suara lagu 1980-an berjudul ”Perdamaian”.

Musik dan lagu yang diputar untuk mengganggu orang sembahyang sungguh ironis. Musik adalah sarana menghaluskan budi pekerti, bukan alat teror. Memasang pelantam menghadap orang beribadah sama sekali tak mencerminkan perilaku orang berbudi halus.

Di Banten, tiga nyawa melayang, belasan orang terluka. Semuanya warga jemaat Ahmadiyah. Di Sampang, Madura, rumah dibakar dan penduduk diusir. Di kedua kasus itu, akal sehat dipermainkan. Deden Sujana (Ahmadiyah) dan Ust Tajul Muluk (Syiah) ditetapkan sebagai terdakwa dan tersangka. Korban ditangkap. Pelaku dibiarkan melenggang. Ke mana akal sehat?

Untuk mereka yang menyerang orang lain, untuk para aparatus negara yang membiarkan gangguan, untuk penegak hukum yang menangkap korban dan membebaskan pelaku, pelajaran musik perlu disampaikan. Agar hati yang kaku jadi lembut, pikiran yang kalut menjadi lurus.

Pada film The Lady sekali lagi kita disuguhkan suatu praktik politik rezim tentara yang demikian beringas. Aung San Suu Kyi melakukan perlawanan terhadap kebodohan itu. Suu Kyi meraih anugerah Nobel Perdamaian tahun 1991. Ia melancarkan perlawanan terhadap para berandal bersenjata di Burma melalui aksi tanpa kekerasan.

Dari balik kurungan rumahnya, Suu Kyi memainkan musik klasik. Alunan musik itu mengalir ke pos penjaga. Diam-diam para serdadu mengangguk-angguk berirama.

No comments: