Fachry Ali; Direktur Lembaga Studi dan Pengembangan Etika Usaha (LSPEU) Indonesia
SUMBER : KOMPAS, 05 Mei 2012
Ada masa dalam sejarah sosial-politik Indonesia: kelas menengah, kaum intelektual, dan negara ”menyatu”. Ini terjadi antara 1966 dan awal 1970-an ketika kekuatan ”Kiri” tersingkir dan kekuatan ”Kanan” bangkit mengontrol kekuasaan pada tingkat negara.
Menjelang pertengahan 1970-an, keretakan hubungan kedua pihak tak terhindarkan, yang ditandai dengan peristiwa 15 Januari 1974, ketika kelas menengah dan kaum intelektual berselisih paham tentang strategi pembangunan dengan negara.
Inti pertentangan pendapat itu tidak terlalu penting dicatat. Yang jelas, negara kian teguh memperlihatkan diri sebagai, miminjam frase Herbert Feith, developmentalist regime. Itulah rezim yang, tanpa memedulikan aspek ideologis dan artikulasi kehendak masa, secara struktural harus bertindak sebagai agen pembangunan.
Berhubungan langsung dengan—melalui proyek pembangunan—rakyat yang dipahami sebagai ”obyek pasif”, negara merenggangkan diri dengan kelas menengah dan kaum intelektual. Ketegangan antara developmentalist state dan absennya prakarsa dan partisipasi masyarakat inilah yang menjadi latar bagi artikulasi pemikiran-pemikiran M Dawam Rahardjo. Tak terasa, pemikir produktif kelahiran Solo, 20 April 1942, itu telah hidup selama 70 tahun.
Apa yang secara intelektual menantang Dawam pada periode ketegangan struktural ini? Saya kira ia terbawa arus pemikiran tentang esensi kemandirian: sebuah usaha mencari tempat mengartikulasikan diri di luar lingkup negara. Kesadaran ini bertemu dengan prakarsa ekonom ”raksasa” Soemitro Djojohadikusumo yang [bekerja sama dengan Friedrich Naumann Stiftung di bawah Partai Demokrat, Jerman Barat] mendirikan Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) pada 1971 di bawah payung Yayasan Bina Sosial Ekonomi bentukannya.
Di lembaga itulah, setelah keluar dari Bank of America, Dawam menemukan wadah kemandirian itu. Maka, yang terjadi dengan Dawam Rahardjo dan LP3ES adalah kisah tarik-menarik antara negara yang kian konsentrik dan usaha kaum intelektual menjaga kesintasan kemandirian. Itulah yang terefleksi dalam hampir semua tulisannya sepanjang 1970-an dan 1980-an.
Latar Kegelisahan Itu
Seperti kini dapat dilihat dalam buku yang baru terbit di bawah suntingan Tarli Nugroho, Ekonomi Politik Pembangunan, yang merupakan kumpulan karangan Dawam Rahardjo dalam jurnal Prisma sepanjang kurun itu, butir-butir pemikirannya adalah tebaran wacana yang kontinu kepada publik untuk menemukan jalan lain dari yang ditawarkan negara.
Dalam konteks ideologi pembangunan, misalnya, Dawam dengan sengaja menguraikan model pembangunan China berbasis ”tenaga rakyat”. Pilihan wacana ini berjalan sebanding dengan usahanya melihat peran koperasi dan industri kecil dalam pembangunan. Bagaimanapun, baik koperasi maupun industri kecil adalah tenaga-tenaga rakyat yang terhimpun dalam aktivitas ekonomi.
Para pembaca yang sadar tentu memahami bahwa basis pemikiran strategi pembangunan Orde Baru, dalam konteks mental dan sosiologis, adalah—meminjam frase WF Wertheim—betting on the strong. Itulah sebuah usaha mendorong pertumbuhan ekonomi melalui koalisi negara dengan aktor kapital mampu. Dalam konteks teoretis, upaya ini dilekatkan pada strategi big push, derivatif dari gagasan John Maynard Keynes.
Situasi peralihan antara perekonomian Orde Lama dan Orde Baru, menarik pelajaran dari Keynes tentang Great Depression 1929-1930, telah dianggap sebagai ”pembenar” usaha penyelamatan sistem kapitalisme. Yaitu dengan mendorong negara berperan aktif dalam ekonomi dengan melakukan investasi besar-besaran, big push, dengan sasaran lahirnya dampak ganda: siklus penyerapan tenaga kerja dan peluang swasta berinvestasi oleh meningkatnya daya beli.
Tata cara yang menekankan strategi pembangunan bersifat betting on the strong inilah yang menjadi latar kegelisahan intelektual Dawam Rahardjo untuk menemukan ”jalan lain” itu. Dengan dalih ”krisis masa transisi” itu, negara menjadi absah membangun hegemoni dan mengontrol secara ketat aktivitas masyarakat di luar ekonomi.
Saya masih ingat pada awal 1980-an bagaimana Dawam Rahardjo, dalam percakapan pribadi, mengkritik ucapan Menteri Dalam Negeri Amir Machmud yang mengesankan bahwa pemerintah adalah ”tuan yang murah hati”: rakyat secara ekonomi bergantung dan, karena itu, secara politis rakyat harus mendukung partai berkuasa.
Maka, seperti buah pemikiran kaum intelektual lainnya, butir-butir gagasan Dawam Rahardjo menjadi referensi ketika publik mencari sumber gagasan di luar negara. Sebuah latar percaturan gagasan yang romantis, yang ditandai oleh tarik-menarik antara negara dan kaum intelektual. Romantisme ini kini telah hilang dalam hiruk-pikuk politik pascareformasi. ●
Sunday, May 6, 2012
Belajar Hidup Berdamai
Sunday, 06 May 2012
Dalam teori konflik, suatu konflik dapat melahirkan integritas. Bahkan tanpa konflik sebuah integritas tidak akan pernah tercapai. Akan tetapi justru konflik akan berujung dengan kekerasan ketika konflik tidak dapat diselaraskan.
Ketika kesepahaman sulit ditemukan, konflik akan selalu melahirkan kekerasan-kekerasan yang tidak terselesaikan.Perdamaian pun sulit dicapai. Dalam hal ini, perdamaian hanyalah menjadi impian setiap orang untuk hidup damai dalam keluarga, masyarakat, dan negara, perdamaian yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.Akibat dari konflik yang selalu berujung pada kekerasan, perdamaian pun sulit ditemukan dan seolah tidak menemukan solusi untuk mengubah kekerasan pada perdamaian.
Sesuai dengan maknanya, filsafat sebagai ilmu yang cinta akan kebijaksanaan akan mengajarkan pada seseorang untuk berprilaku bijaksana. Tidak sekadar itu,filsafat akan menuntun seseorang lebih memaknai kehidupan. Buku Filsafat Perdamaian karya CB Mulyatno ini merupakan cabang dari ilmu filsafat yang memasukkan fenomena konkret yang terdapat dan dialami oleh seseorang dalam kehidupannya, yaitu perdamaian. Betapa pentingnya hidup yang damai.
Filsafat perdamaian mencoba mengelaborasi problem-problem yang timbul dengan teoriteori filsafat untuk menemukan relevansinya dengan fenomena yang terjadi.Juga filosof dengan pemikirannya yang dapat diambil dan diteladani bagaimana perjuangannya atas sebuah kehidupan yang damai tanpa kekerasan meskipun konflik sering kali terjadi sehingga kehidupannya dijalani dengan kedamaian.
Eric Weil misalnya adalah salah seorang filosof yang berjuang agar filsafat memberi pencerahan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan hidup sehari-hari. Ia menjelaskan tautan antara filsafat dan perjuangan untuk mewujudkan perdamaian. Konflik, pertikaian, dan perang yang melanda dunia telah memorak-porandakan pilarpilar hidup damai. Merupakan tugas setiap orang dan khususnya filosof untuk membangun kembali kehidupan yang damai.
Kerinduan untuk hidup damai dan keprihatinan terhadap berbagai peristiwa kekerasan, konflik,dan perang akibat dari keragaman yang mengancam perdamaian bisa menjadi tali pengikat persaudaraan yang mendorong berkembangnya gerakan hidup damai. Di Indonesia sebagai negara yang majemuk, mengandung keragaman, perdamaian tidak semudah seperti apa yang dialami para tokoh filosof serta gerakan-gerakan yang memperjuangkan hidup damai.
Keragaman justru menjadi pemicu lahirnya konflik yang berujung pada kekerasan. Salah satu yang menarik dari buku ini ternyata Weil menolak metafisika. Metafisika dianggap telah mewariskan sikap dogmatis yang melanggengkan kekerasan. Metafisika berbicara soal kebenaran tertinggi. Sementara kehidupan seorang filosof bukanlah kebenaran, melainkan absennya kebenaran atau penolakan terhadap kebenaran.
Absennya kebenaran dan penolakan terhadap kebenaran adalah kekerasan. Kekerasan yang menyebabkan hidup tak pernah damai. Setidaknya buku CB Mulyatno setebal 114 halaman ini sangat menginspirasi untuk mewujudkan perdamaian. Hidup sejahtera, damai tanpa perselisihan dan kekerasan dapat dicapai dengan cara membaca dan belajar kepada filosof Eric Weil yang dijelaskan dalam buku filsafat perdamaian ini.Penjelasannya padat, ringkas, dan mudah dipahami.
Setelah beberapa lamanya terjebak pada perbedaanperbedaan yang bermotif ras, etnis, bahasa, budaya, bahkan agama yang telah menjauhkan hidup dengan perdamaian, seharusnya ditinggalkan dan segera merangkai hidup damai dengan tali persaudaraan tanpa konflik antarsesama. Temukan dalam buku filsafat perdamaian ini. Rafi’uddin Derektur Center Philosophy andReligion (CPR) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Dalam teori konflik, suatu konflik dapat melahirkan integritas. Bahkan tanpa konflik sebuah integritas tidak akan pernah tercapai. Akan tetapi justru konflik akan berujung dengan kekerasan ketika konflik tidak dapat diselaraskan.
Ketika kesepahaman sulit ditemukan, konflik akan selalu melahirkan kekerasan-kekerasan yang tidak terselesaikan.Perdamaian pun sulit dicapai. Dalam hal ini, perdamaian hanyalah menjadi impian setiap orang untuk hidup damai dalam keluarga, masyarakat, dan negara, perdamaian yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.Akibat dari konflik yang selalu berujung pada kekerasan, perdamaian pun sulit ditemukan dan seolah tidak menemukan solusi untuk mengubah kekerasan pada perdamaian.
Sesuai dengan maknanya, filsafat sebagai ilmu yang cinta akan kebijaksanaan akan mengajarkan pada seseorang untuk berprilaku bijaksana. Tidak sekadar itu,filsafat akan menuntun seseorang lebih memaknai kehidupan. Buku Filsafat Perdamaian karya CB Mulyatno ini merupakan cabang dari ilmu filsafat yang memasukkan fenomena konkret yang terdapat dan dialami oleh seseorang dalam kehidupannya, yaitu perdamaian. Betapa pentingnya hidup yang damai.
Filsafat perdamaian mencoba mengelaborasi problem-problem yang timbul dengan teoriteori filsafat untuk menemukan relevansinya dengan fenomena yang terjadi.Juga filosof dengan pemikirannya yang dapat diambil dan diteladani bagaimana perjuangannya atas sebuah kehidupan yang damai tanpa kekerasan meskipun konflik sering kali terjadi sehingga kehidupannya dijalani dengan kedamaian.
Eric Weil misalnya adalah salah seorang filosof yang berjuang agar filsafat memberi pencerahan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan hidup sehari-hari. Ia menjelaskan tautan antara filsafat dan perjuangan untuk mewujudkan perdamaian. Konflik, pertikaian, dan perang yang melanda dunia telah memorak-porandakan pilarpilar hidup damai. Merupakan tugas setiap orang dan khususnya filosof untuk membangun kembali kehidupan yang damai.
Kerinduan untuk hidup damai dan keprihatinan terhadap berbagai peristiwa kekerasan, konflik,dan perang akibat dari keragaman yang mengancam perdamaian bisa menjadi tali pengikat persaudaraan yang mendorong berkembangnya gerakan hidup damai. Di Indonesia sebagai negara yang majemuk, mengandung keragaman, perdamaian tidak semudah seperti apa yang dialami para tokoh filosof serta gerakan-gerakan yang memperjuangkan hidup damai.
Keragaman justru menjadi pemicu lahirnya konflik yang berujung pada kekerasan. Salah satu yang menarik dari buku ini ternyata Weil menolak metafisika. Metafisika dianggap telah mewariskan sikap dogmatis yang melanggengkan kekerasan. Metafisika berbicara soal kebenaran tertinggi. Sementara kehidupan seorang filosof bukanlah kebenaran, melainkan absennya kebenaran atau penolakan terhadap kebenaran.
Absennya kebenaran dan penolakan terhadap kebenaran adalah kekerasan. Kekerasan yang menyebabkan hidup tak pernah damai. Setidaknya buku CB Mulyatno setebal 114 halaman ini sangat menginspirasi untuk mewujudkan perdamaian. Hidup sejahtera, damai tanpa perselisihan dan kekerasan dapat dicapai dengan cara membaca dan belajar kepada filosof Eric Weil yang dijelaskan dalam buku filsafat perdamaian ini.Penjelasannya padat, ringkas, dan mudah dipahami.
Setelah beberapa lamanya terjebak pada perbedaanperbedaan yang bermotif ras, etnis, bahasa, budaya, bahkan agama yang telah menjauhkan hidup dengan perdamaian, seharusnya ditinggalkan dan segera merangkai hidup damai dengan tali persaudaraan tanpa konflik antarsesama. Temukan dalam buku filsafat perdamaian ini. Rafi’uddin Derektur Center Philosophy andReligion (CPR) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
SEPUTAR BISNIS KUBURAN-PERISKOP SINDO 6 MEI 2012
Melenyapkan Kesan Angker
Monday, 07 May 2012
Padang rumput hijau yang tertata rapih terhampar luas. Beberapa batang pohon menambah asri di lokasi hijau tersebut. Begitulah pemandangan yang terlihat di taman pemakaman San Diego Hills Memorial Park and Funeral Homes, Karawang, Jawa Barat.
Dalam pantauan Seputar Indonesia (SINDO), Kamis (3/5), di areal permakaman seluas 500 hektare (ha) itu tak terlihat ilalang yang semrawutan. Apalagi pohon kamboja yang selalu ada di setiap makam pada umumnya. Deretan batu nisan pun dibuat rata dengan tanah. Kesan yang muncul, taman permakaman ini layaknya tempat rekreasi.Tak ada kesan bahwa lahan ini sebagai tempat bersemayamnya orang meninggal.
Pemakaman San Diego Hills lebih nampak seperti lapangan golf yang dihiasi perbukitan indah bernuansa serba-hijau. Public Relation Manager PT Lippo Karawaci Jeanny Wullur menjelaskan, lahan perkuburan ini didirikan oleh Mochtar Riady.Tokoh bisnis ternama itu sengaja membuat areal permakaman asri ini dengan tujuan menghilangkan citra seram dan menakutkan seperti yang selama ini tergambar pada permakaman pada umumnya.
“Sebuah tempat yang pantas untuk mengantar dan mengenang kepergian mereka menuju alam keabadian, sekaligus nyaman dikunjungi seluruh keluarga yang ditinggalkan,” ujar Jeanny. San Diego Hills dilengkapi fasilitas keluarga seperti kolam renang, restoran La Collina,minimarket, marketing gallery, jogging track, tempat bermain, toko cenderamata, dan perkemahan.
Selain itu,terdapat fasilitas lain untuk menyelenggarakan acara-acara umum seperti pernikahan dan dua ruang pertemuan, Heavenly Dome dan Assembly Hall. Meski begitu,permakaman mewah ini tidak melulu berorientasi bisnis.San Diego Hills juga menyediakan lahan bagi para mereka yang dianggap pahlawan bangsa. “Kami juga mempunyai area yang dinamakan Heroes Plaza. Lahan ini tidak dijual kepada umum tapi gratis bagi mereka yang memiliki jasa sebagai pahlawan.
Kriterianya bagi mereka yang telah mengharumkan nama bangsa,” ujar salah seorang saleslapangan,Anggy,kepada SINDO saat prosesi permakaman mantan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih,Kamis (3/5). San Diego Hills, yang disebut Kota Tuhan (City of God),juga menawarkan konsep persiapan pemakaman (preneed). Setiap orang yang ingin memesan kavling bisa memilih sendiri lokasi, keramik yang dijadikan batu nisan, dan model prosesi pemakaman.
Istilahnya,ada semacam event organizer tersendiri,yang mengurusi segala keperluan si mayat,namun tetap sesuai dengan permintaan keluarga yang ditinggalkan. Menurut keterangan salah satu staf bagian pelayanan fasilitas San Diego Hills yang tidak ingin disebutkan namanya, bisnis permakaman ini tidak hanya berhenti pada soal melayani lahan untuk peristirahatan terakhir saja.Tetapi juga ada tim yang menjadi penghubung dengan keluarga yang ditinggalkan untuk melayani segala kebutuhan yang mereka perlukan.
“Tim yang bernama Family Service Conselor ini bertugas menghubungi pihak keluarga jenazah mengenai jam berapa akan dimakamkan, upacaranya bagaimana, dan transportasinya ke tempat pemakaman bagaimana,” katanya saat dihubungi SINDO. Pelayanan tersebut sudah tidak lagi ditarik tarif karena satu paket dengan pemesanan lahan, baik yang pesan dengan pola pre-need maupun yang pesan sesudahnya.
Termasuk, ketika prosesi upacara pemakaman, seperti penyediaan master of ceremony (MC) dan panitia yang mengawasi jalannya prosesi pemakaman. Namun,penggunaan function room,yang biasa digunakan untuk mensalati jenazah muslim, dikenakan biaya tambahan sekitar Rp1,2 juta per dua jam. “Jadi, intinya EO ini dalam manajemen, kami sebut Family Service Conselor. Semua pelayanan ini berusaha untuk semakin memudahkan pihak keluarga yang ditinggalkan. Ini sudah tidak bayar lagi,”ujarnya. nafi’ Muthohirin
Potret Makam nan Asri
Monday, 07 May 2012
Mendengar kata makam, boleh jadi sebagian besar orang akan mengidentikkan dengan suasana menyeramkan. Permakaman sebagai tempat peristirahatan terakhir sering disandarkan pada kata angker. Tetapi, tidak demikian dengan San Diego Hills, sebuah kompleks permakaman yang dirancang jauh dari istilah angker.
Kompleks permakaman seluas 500 hektare di wilayah Karawang, Jawa Barat, ini merupakan proyek properti prestisius PT Lippo Karawaci Tbk. San Diego Hills Memorial Parks and Funeral Homes sejak awal didesain lewat studi mendalam dengan mengadopsi taman permakaman terkemuka dunia,Forest Lawn Memorial Parks dan Mortuaries di California,Amerika Serikat (AS).
Karena itu, jangan pernah membayangkan sebuah suasana angker di kawasan ini.Seperti disebutkan dalam situs resminya, San Diego Hills merupakan kawasan permakaman pertama di dunia yang menawarkan kelengkapan fasilitas dan layanan berkualitas seperti taman permakaman eksklusif, danau seluas 8 ha,kapel,musala,restoran Italia, kolam renang, toko bunga (florist) dan toko cendera mata (gift shop), padang rumput asri bagi aktivitas alam bebas (outdoor activity), hingga gedung serbaguna berkapasitas 250 orang.
Kawasan ini juga kerap digunakan mereka yang melangsungkan pernikahan. Di permakaman ini juga terdapat fasilitas layaknya taman rekreasi seperti jogging track yang bisa dinikmati bersama keluarga di tengah hamparan pemandangan indah yang panjangnya 3,5 km mengelilingi Danau Lake Angeles dengan suasana alam menyegarkan. Di area permakaman ini siapa pun bisa mengayuh sepeda karena ada bicycle track.
Bahkan, ada kolam renang di teras La Collina Restaurant yang buka setiap hari. Keakraban keluarga pun semakin terasa dengan adanya camping ground & outing.Lingkungan asri dan jaminan keamanan membuat keluarga nyaman menikmati petualangan yang menggembirakan. Untuk mengenang anggota keluarga yang sudah meninggal, keluarga juga bisa mengadakan pesta pernikahan di tempat ini.
Kompleks permakaman seluas 500 hektare ini seakan memberikan pesan bahwa orang yang dikubur akan dengan mudah dikunjungi semua kerabat dengan penuh gembira. “Sebuah tempat yang pantas untuk mengantar dan mengenang kepergian mereka menuju alam keabadian, sekaligus nyaman di kunjungi seluruh keluarga yang ditinggalkan,” begitu tulis pengelola di halaman situs resminya.
Di San Diego Hills ada berbagai pilihan lokasi.Pilihan ini biasanya sesuai dengan corak kepercayaan masyarakat. Misalnya,makam di permakaman Islam akan mengarah ke kiblat yang telah ditentukan. Begitu juga dengan lokasi lain yang menampilkan ciri khas kepercayaan penganutnya. Selayaknya fasilitas yang diberikan, tidak heran jika sepetak makam di tempat ini harganya jauh lebih mahal dari makam lain di Indonesia.
Tipe Single Burial Muslim, yaitu Mansion Isya harganya mencapai Rp30 jutaan (net price), Mansion Al Maajid Rp25,9 jutaan, dan Mansion Wisdom Rp22,2 jutaan. Jika membeli sembilan unit Mansion Al Maajid, harganya mencapai Rp148 jutaan. Sementara, tipe Single Burial Universal, yaitu Mansion Sovereignty harganya Rp32,3 jutaan, Mansion Peacefulness Rp23,2 jutaan,dan Mansion Light Rp22,8 jutaan.
Adapun,tipe Semi Private (dua makam) harganya bisa mencapai Rp100 juta dan tipe Private Estate sekitar Rp500 juta. Makam yang termahal disebut-sebut mencapai miliaran rupiah. Wajar jika yang layak menjadi penghuni hanyalah mereka yang berkantong tebal. Kendati begitu, keluarga yang memakamkan anggotanya di perkuburan ini tidak perlu lagi membayar pajak tahunan seperti yang diterapkan permakaman umum yang dikelola pemerintah.
Sebab,pengelola telah menyatakan bahwa keluarga yang ditinggalkan tidak perlu membayar biaya tambahan selain ongkos yang telah dibayar pertama kali. Biaya perawatan termasuk dalam harga tersebut.Malah,untuk setiap satu unit yang dibeli,pembeli mendapatkan satu sertifikat.
Hal ini tentunya membuat calon penghuni tidak khawatir tentang masa depan “istana abadi” mereka.Keluarga tidak perlu khawatir jika tidak sempat membersihkan makam, atau khawatir makam digusur. Karena harga yang telah mereka bayarkan telah menjamin tempat peristirahatan terakhir keluarga mereka aman. islahuddin
Peristirahatan Terakhir Para Superkaya
Monday, 07 May 2012
Permakaman yang bernuansa indah dan asri di beberapa negara di dunia sengaja dibangun berdasarkan sisi bisnis.Makam didesain dengan gaya arsitektur bernilai seni tinggi dan memiliki fasilitas lengkap untuk menarik minat para superkaya memakamkan anggota keluarga mereka.
Amerika Serikat (AS) adalah negara yang memiliki paling banyak kompleks permakaman mewah.Salah satunya, Santa Barbara Cemetery, kompleks permakaman terindah yang ada di California. Selain menawarkan atmosfer permakaman yang tenang dan damai, Santa Barbara Cemetery menawarkan pemandangan indah dan eksotis. Lokasinya yang berada di atas bukit menghadap langsung ke Samudera Pasifik, dengan pemandangan hempasan ombak, menimbulkan efek kedamaian.
Seperti dilansir Forbes dalam artikelnya yang bertajuk “America’s Most Expensive Cemeteries”, harga taman permakaman yang ditawarkan sesuai dengan segala pemandangan indah dan fasilitas lengkap yang mereka tawarkan. Harga kavling pemakaman paling murah di tempat ini dibanderol dengan harga USD3.300 (sekitar Rp30 juta). Tipe Mauseloum,misalnya,harga yang ditawarkan USD7.200 (Rp 65,5 juta).
Sementara,Mauseloum yang letaknya dekat lautan dibanderol USD21.000 (Rp191,2 juta).Adapun makam yang terletak di atas bukit dibanderol USD83.000 (Rp755,9 juta). Selain Santa Barbara Cemetary, tempat makam mewah lain yang ada Negeri Paman Sam yang juga cukup terkenal ialah Green Wood Cemetery.
Kompleks pemakaman mewah ini dibangun pada 1838 di daerah Brooklyn, King Country,New York. Dengan kontur tanah yang dramatis seluas 1,9 kilometer persegi, makam ini berada di atas bukit dengan ketinggian 60 meter di atas permukaan laut. Menurut thirteen.org,permakaman ini adalah kuburan paling terkenal dan prestisius di New York. Bahkan, The New York Times pernah menulis bahwa warga New York terobsesi untuk bisa tinggal di kawasan bergengsi Fifth Avenue dan dimakamkan di Green- Wood Cemetery.
Untuk bisa membeli rumah masa depan di tempat ini, biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Sebab, membeli kavling makam dengan model nisan biasa saja harganya sudah sebesar USD1.515 (Rp13,7 juta). Bila ingin dimakamkan di komplek Mausoleum, harga yang ditawarkan berkisar antara USD17.850 (Rp162,5 juta) hingga USD27.800 (Rp253,1 juta). Jika ingin lebih pretisius lagi, Green Wood juga menawarkan dua jenis bangunan makam khusus yang dikenal dengan nama Situs Sarkofagus dan Situs Mousolem dengan harga berkisar antara USD150.000 (Rp 1,36 miliar) hingga USD300.000 (Rp2,73 miliar).
Tak cuma lokasinya yang eksotis, Green-Wood Cemetery juga berarsitektur elegan.Hal ini dapat terlihat jelas dari gerbang utamanya yang didesain dengan gaya Mediteranian yang terlihat kokoh dan mewah.Selain itu,beberapa lokasi peristirahatannya juga yang didesain seperti vila ala Italia dan Swiss. Arsitektur dan desain yang beragam dan indah inilah yang membuat Departemen Dalam Negeri AS menobatkan kompleks permakaman ini sebagai National Historic Landmark pada tahun 2006.
Bahkan, karena keindahannya yang sangat eksotik,sejak awal dibangun,permakaman ini sudah dijadikan tujuan wisata para turis lokal maupun mancanegara. Menurut situs resminya, ada banyak paket wisata yang dapat dipilih para pelancong, salah satunya adalah wisata kereta yang ditawarkan dengan harga sebesar USD15 per tiket/orang. Untuk wisata jenis ini, selain akan dibawa mengelilingi Green Wol. Para turis juga akan mendapatkan penjelasan lengkap tentang tempat pemakaman itu. cheerli
Jenazah Juga Butuh Hotel
Monday, 07 May 2012
Bisnis pemakaman tidak hanya berupa penyediaan lahan kuburan. Masih ada beberapa hal yang menjanjikan dari bisnis ini. Mulai dari pemeliharaan hingga menyediakan hotel khusus jenazah.
Bisnis hotel jenazah telah dilakukan pengusaha asal Jepang, Hisayoshi Teramura, 71. Hotel yang diberi nama Lastel Hotel atau Hisayoshi Teramura Inn ini terletak di Yokohama. Dari jauh tidak terlihat ada perbedaan dengan hotel lain. Karena itu,tidak sedikit turis mancanegara yang mengira hotel ini sebagai sebuah tempat penginapan. “Kami mengatakan kepada mereka kita hanya memiliki ruangan yang dingin,” kata Teramura, menyindir pengunjung yang sering salah datang ke hotelnya.
Jika dilihat ke dalam,semakin jelas jika hotel ini diperuntukkan bagi “konsumen” yang sudah tidak bernyawa lagi. Sebagaimana diberitakan Reuters,hotel kecil ini menyediakan sejumlah layanan,seperti layanan kamar.Namun, ada juga layanan khas pada jenazah yaitu penyediaan peti mati cantik, rangkaian bunga indah, hingga perlakuan layaknya raja dan ratu.Semua jenazah diberikan baju yang bagus dan dandanan yang menarik.
Dan,tentu temperatur udara yang dingin agar jenazah awet. Tarif yang ditawarkan hotel ini sebesar 12.000 yen atau sekitar Rp1,3 juta per malam.Keluarga yang menggunakan jasa hotel jenazah ini biasanya mereka yang merencanakan untuk kremasi jenazah. Selama masa penginapan, keluarga dan teman bisa mengunjungi dan memberikan penghormatan kepada jenazah.
Warga Jepang rata-rata membayar 1,2 juta yen (sekitar Rp13,881 juta) untuk bunga,guci, peti, dan biaya pemakaman. Dalam setahun setidaknya potensi pasar untuk urusan kematian ini mencapai USD21 miliar (Rp191,2 triliun).Angka ini dua kali lipat dari apa yang dihabiskan masyarakat AS untuk pemakaman setiap tahun. Bagi Teramura, bisnis pemakaman bukanlah hal yang asing.Dia telah memulai bisnis ini lebih dari empat dekade.Namun,bisnis hotel jenazah baru dimulainya pada 2010.
Menurut Teramura,waktu antre buat kremasi di Yokohama rata-rata empat hari. Bagi keluarga yang tidak mempunyai rumah luas,akan sangat kesulitan untuk menjaga jenazah. Besarnya jumlah kematian dan semakin sempitnya tempat tentunya memberikan peluang besar bagi mereka yang akan masuk dalam bisnis ini.Apalagi, masuk ke bisnis perawatan jenazah tidak memerlukan lisensi dan kualifikasi khusus.
Sehingga, semua bisa dengan mudah masuk dalam bisnis ini. Cukup dengan persediaan kebutuhan pemakaman, direktur, kantor, dan telepon.Perlengkapan lain, seperti bunga, peti mati, mobil jenazah, hingga biarawan, semuanya bisa disewa. Sebagaimana yang ditulis Reuters dalam laporannya, di AS pengusaha yang hendak masuk dalam bisnis ini rata-rata hanya membutuhkan tiga tahun untuk belajar.
Waktu tersebut sudah termasuk magang sebelum regulator mempertimbangkan membagikan lisensi. Dalam sebuah jajak pendapat, dari 2.796 perusahaan terkait industri pemakaman,Departemen Perdagangan Ekonomi dan Industri Jepang menemukan fakta bahwa sepertiganya telah menjalankan bisnis selama satu dekade. Hal ini membuktikan setiap tahun pemain dalam bisnis ini semakin banyak.
“Orang cenderung untuk menyerahkan semua urusan kepada direktur pemakaman dan beberapa orang mengambil keuntungan dari itu.Jadi, harga sebuah peti mati mungkin hanya 100.000 yen namun akhirnya Anda harus membayar 1 juta yen untuk semua urusan,”kata Teramura. Prospek bisnis ini semakin menggiurkan mengingat tidak ada pengawasan resmi,termasuk pada transaksi keuangan tunai.
Menurut sejumlah pelaku industri, hal ini menjadi magnet bagi semua orang untuk terlibat. Melihat bisnis yang menggiurkan, banyak juga pengusaha yang melebarkan sayap pada bisnis kematian ini. Seperti penyelenggara wedding organizer yang kemudian melirik bisnis kematian. Seorang penyedia wedding organizer, Takayuki Nakagawa, pada 2002 mendirikan Urban Funes yang menawarkan pemakaman yang temanya disesuaikan dengan kapel pernikahan.
Nakagawa terbilang sukses dalam bisnis ini.Terbukti, dalam lima tahun dia melayani 3.000 pemakaman. Nakagawa tidak mempunyai resep khusus,bahkan banyak pekerjaan yang harus dilakukan melalui outsourcing ke pihak lain. islahuddin/reuters
Agar Kelak Tak Repot
Monday, 07 May 2012
Kepopuleran San Diego Hills Memorial Park and Funeral Homes sebagai tempat permakaman asri dan eksklusif berhasil menarik perhatian sejumlah selebritas.
Salah seorang selebritas yang mengaku telah menyiapkan tempat peristirahatan terakhir di sana ialah Anya Dwinov.Alasan utama yang mendasari perempuan cantik kelahiran Jakarta, 10 November 1982, ini memesan tempat pemakaman dari sekarang karena dia tidak ingin merepotkan keluarga atau orang lain ketika dirinya meninggal nanti. “Mencari lahan makam itu memakan tenaga,waktu, dan biaya yang tidak murah.
Belum lagi setiap tahun harus terus memperpanjang sewa lahan. Kebayang kanseberapa besar kerepotan yang kita bebankan pada anak-cucu bila tidak memikirkan hal itu dari sekarang,” ujarnya kepada harian Seputar Indonesia (SINDO). Anya mengatakan, sebagai seorang muslimah,jeda waktu yang dimiliki dari saat meninggal hingga dimakamkan tidaklah sefleksibel kaum nonmuslim. Sehingga, dia sering mendengar dan melihat kerepotan yang dirasakan orang-orang saat anggota keluarganya meninggal.
“Maka dari itu, dengan pemikiran sederhana untuk tidak mau membebani atau menyusahkan anggota keluarga yang aku tinggalkan,akhirnya aku memutuskan untuk menyiapkan makam dari sekarang,”paparnya. Selanjutnya,selebritas yang juga pemilik bisnis jasa perjalanan wisata (tour and travel) Graha Wisata ini menurutkan, awalnya sang bunda merasa keberatan dengan pemikiran tersebut.
Namun, setelah mendengar alasan Anya dan melihat areal makam tersebut, akhirnya sang ibu pun menyetujui hal itu. Anya mengungkapkan, selain menyiapkan makam untuk dirinya sendiri, dia juga menyiapkan makam untuk anggota keluarga terdekat.Anya mengaku telah membeli 10 kavling untuk anggota keluarganya yang lain. “Saat ini satu kavling yang aku beli sudah ditempati ibu angkatku yang telah meninggal beberapa waktu lalu,” tuturnya.
Kesepuluh kavling yang telah dia beli semuanya berada di satu blok permakaman yang sama, yaitu Charity Mansion. Di mana, selain memang dikhususkan untuk kaum muslim, blok ini sengaja dipilih Anya karena lokasinya berdekatan dengan musala. “Sehingga, suasana berdoanya juga jadi lebih khidmat,”ujarnya.
Seperti yang dilansir dari situs resmi San Diego, Charity Mansion yang dibangun khusus untuk kaum muslim, konsepnya didasari pada salah satu dari limarukunIslam,zakat. Ditengahtaman indah yang dilengkapi musala, Charity Mansion dibangun untuk mengingatkan orang agar selalu berbagi kepada yang tidak mampu serta mengindahkan mereka yang kurang berada.
Selain murni karena kepraktisan dan kenyamanan yang ingin diberikan pada anggota keluarga saat dirinya telah tiada. Alasan lain yang mendasari Anya membeli lahan permakaman di lokasi tersebut adalah San Diego Hills jauh dari kesan suram,kusam,dan angker layaknya permakaman umum yang ada di Indonesia.
“Bahkan,dengan sertifikat hak milik atas tanah makam tersebut, aku juga tidak perlu khawatir bahwa makamku akan digusur, ditumpuk, atau hilang saat tidak ada lagi sanak keluarga yang mengunjungi,”tandasnya. Apalagi,adasistemmanajemenyang baik dari tempat tersebut. Salah satunya, bila keluarga dan teman tidak punya waktu untuk mengunjungi makam, mereka bisa langsung telepon ke manajemen untuk menaruhkan karangan bunga di setiap momen yang berhubungan dengan sanak keluarganya yang telah tiada,misalnya saat ulang tahun.
“Jadi, sanak keluarga yang jauh tidak perlu repot-repot untuk sekadar menaruh karangan bunga. Mereka tinggal telepon, bunga diantar ke makam, lalu tinggal bayar ke rekening pengelola.Mereka bisa berdoa di mana saja dan kapan saja,”tambahnya. Anya mengaku membeli makam tersebut pada 2009 silam dengan harga belasan juta untuk setiap kavlingnya.Anya enggan menyebutkan jumlah nominal pasti yang telah dia keluarkan untuk membeli 10 kavling di San Diego Hills.
Selebritas yang dikenal sebagai pembawa acara ini mengaku, sahabat karibnya yaitu Olga Lydia yang mengenalkan pertama kali San Diego Hills kepada dirinya. “Olga yang memperkenalkan ke saya, dia sudah duluan beli, baru saya,”akunya. Menurut Anya, mempersiapkan tempat pemakaman atau rumah abadi sedini mungkin bukanlah hal aneh yang dilakukan seseorang. Malah ini adalah cara tepat yang dapat dilakukan setiap orang yang terlahir di dunia.
Dengan adanya persiapan seperti ini, setidaknya seseorang tidak lagi meninggalkan tugas berat untuk anggota keluarga lain. Sama halnya dengan alasan yang dikemukakanAnya kepada SINDO,artis cantik Olga Lydia juga mengatakan bahwa alasan utama yang membuat dirinya mempersiapkan makam sejak dini adalah karena tidak ingin merepotkan sanak keluarga ketika meninggal dunia nanti.
“Setiap orang pasti meninggal. Karenaitusifatnya mendadak,daripada nantinya repot, sebaiknya pesan dari sekarang saja,”katanya. Olga telah lama memesan kavling di areal permakaman yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas tersebut.Kendati demikian, dia tidak ingin menyebutkan secara rinci bagaimana bentuk dan biaya yang dikeluarkan untuk membeli tempat peristirahatan terakhirnya itu.
“Saya nggak hafal ya, pokoknya sudah ada,”ujarnya Menurut Olga, selain karena tempatnya rapi, hal lain yang menarik dia untuk membeli kavling di tempat tersebut adalah dia percaya pada reputasi yang baik dari kawasan permakaman yang menawarkan kelengkapan fasilitas dan layanan berkualitas. cheerli
Monday, 07 May 2012
Padang rumput hijau yang tertata rapih terhampar luas. Beberapa batang pohon menambah asri di lokasi hijau tersebut. Begitulah pemandangan yang terlihat di taman pemakaman San Diego Hills Memorial Park and Funeral Homes, Karawang, Jawa Barat.
Dalam pantauan Seputar Indonesia (SINDO), Kamis (3/5), di areal permakaman seluas 500 hektare (ha) itu tak terlihat ilalang yang semrawutan. Apalagi pohon kamboja yang selalu ada di setiap makam pada umumnya. Deretan batu nisan pun dibuat rata dengan tanah. Kesan yang muncul, taman permakaman ini layaknya tempat rekreasi.Tak ada kesan bahwa lahan ini sebagai tempat bersemayamnya orang meninggal.
Pemakaman San Diego Hills lebih nampak seperti lapangan golf yang dihiasi perbukitan indah bernuansa serba-hijau. Public Relation Manager PT Lippo Karawaci Jeanny Wullur menjelaskan, lahan perkuburan ini didirikan oleh Mochtar Riady.Tokoh bisnis ternama itu sengaja membuat areal permakaman asri ini dengan tujuan menghilangkan citra seram dan menakutkan seperti yang selama ini tergambar pada permakaman pada umumnya.
“Sebuah tempat yang pantas untuk mengantar dan mengenang kepergian mereka menuju alam keabadian, sekaligus nyaman dikunjungi seluruh keluarga yang ditinggalkan,” ujar Jeanny. San Diego Hills dilengkapi fasilitas keluarga seperti kolam renang, restoran La Collina,minimarket, marketing gallery, jogging track, tempat bermain, toko cenderamata, dan perkemahan.
Selain itu,terdapat fasilitas lain untuk menyelenggarakan acara-acara umum seperti pernikahan dan dua ruang pertemuan, Heavenly Dome dan Assembly Hall. Meski begitu,permakaman mewah ini tidak melulu berorientasi bisnis.San Diego Hills juga menyediakan lahan bagi para mereka yang dianggap pahlawan bangsa. “Kami juga mempunyai area yang dinamakan Heroes Plaza. Lahan ini tidak dijual kepada umum tapi gratis bagi mereka yang memiliki jasa sebagai pahlawan.
Kriterianya bagi mereka yang telah mengharumkan nama bangsa,” ujar salah seorang saleslapangan,Anggy,kepada SINDO saat prosesi permakaman mantan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih,Kamis (3/5). San Diego Hills, yang disebut Kota Tuhan (City of God),juga menawarkan konsep persiapan pemakaman (preneed). Setiap orang yang ingin memesan kavling bisa memilih sendiri lokasi, keramik yang dijadikan batu nisan, dan model prosesi pemakaman.
Istilahnya,ada semacam event organizer tersendiri,yang mengurusi segala keperluan si mayat,namun tetap sesuai dengan permintaan keluarga yang ditinggalkan. Menurut keterangan salah satu staf bagian pelayanan fasilitas San Diego Hills yang tidak ingin disebutkan namanya, bisnis permakaman ini tidak hanya berhenti pada soal melayani lahan untuk peristirahatan terakhir saja.Tetapi juga ada tim yang menjadi penghubung dengan keluarga yang ditinggalkan untuk melayani segala kebutuhan yang mereka perlukan.
“Tim yang bernama Family Service Conselor ini bertugas menghubungi pihak keluarga jenazah mengenai jam berapa akan dimakamkan, upacaranya bagaimana, dan transportasinya ke tempat pemakaman bagaimana,” katanya saat dihubungi SINDO. Pelayanan tersebut sudah tidak lagi ditarik tarif karena satu paket dengan pemesanan lahan, baik yang pesan dengan pola pre-need maupun yang pesan sesudahnya.
Termasuk, ketika prosesi upacara pemakaman, seperti penyediaan master of ceremony (MC) dan panitia yang mengawasi jalannya prosesi pemakaman. Namun,penggunaan function room,yang biasa digunakan untuk mensalati jenazah muslim, dikenakan biaya tambahan sekitar Rp1,2 juta per dua jam. “Jadi, intinya EO ini dalam manajemen, kami sebut Family Service Conselor. Semua pelayanan ini berusaha untuk semakin memudahkan pihak keluarga yang ditinggalkan. Ini sudah tidak bayar lagi,”ujarnya. nafi’ Muthohirin
Potret Makam nan Asri
Monday, 07 May 2012
Mendengar kata makam, boleh jadi sebagian besar orang akan mengidentikkan dengan suasana menyeramkan. Permakaman sebagai tempat peristirahatan terakhir sering disandarkan pada kata angker. Tetapi, tidak demikian dengan San Diego Hills, sebuah kompleks permakaman yang dirancang jauh dari istilah angker.
Kompleks permakaman seluas 500 hektare di wilayah Karawang, Jawa Barat, ini merupakan proyek properti prestisius PT Lippo Karawaci Tbk. San Diego Hills Memorial Parks and Funeral Homes sejak awal didesain lewat studi mendalam dengan mengadopsi taman permakaman terkemuka dunia,Forest Lawn Memorial Parks dan Mortuaries di California,Amerika Serikat (AS).
Karena itu, jangan pernah membayangkan sebuah suasana angker di kawasan ini.Seperti disebutkan dalam situs resminya, San Diego Hills merupakan kawasan permakaman pertama di dunia yang menawarkan kelengkapan fasilitas dan layanan berkualitas seperti taman permakaman eksklusif, danau seluas 8 ha,kapel,musala,restoran Italia, kolam renang, toko bunga (florist) dan toko cendera mata (gift shop), padang rumput asri bagi aktivitas alam bebas (outdoor activity), hingga gedung serbaguna berkapasitas 250 orang.
Kawasan ini juga kerap digunakan mereka yang melangsungkan pernikahan. Di permakaman ini juga terdapat fasilitas layaknya taman rekreasi seperti jogging track yang bisa dinikmati bersama keluarga di tengah hamparan pemandangan indah yang panjangnya 3,5 km mengelilingi Danau Lake Angeles dengan suasana alam menyegarkan. Di area permakaman ini siapa pun bisa mengayuh sepeda karena ada bicycle track.
Bahkan, ada kolam renang di teras La Collina Restaurant yang buka setiap hari. Keakraban keluarga pun semakin terasa dengan adanya camping ground & outing.Lingkungan asri dan jaminan keamanan membuat keluarga nyaman menikmati petualangan yang menggembirakan. Untuk mengenang anggota keluarga yang sudah meninggal, keluarga juga bisa mengadakan pesta pernikahan di tempat ini.
Kompleks permakaman seluas 500 hektare ini seakan memberikan pesan bahwa orang yang dikubur akan dengan mudah dikunjungi semua kerabat dengan penuh gembira. “Sebuah tempat yang pantas untuk mengantar dan mengenang kepergian mereka menuju alam keabadian, sekaligus nyaman di kunjungi seluruh keluarga yang ditinggalkan,” begitu tulis pengelola di halaman situs resminya.
Di San Diego Hills ada berbagai pilihan lokasi.Pilihan ini biasanya sesuai dengan corak kepercayaan masyarakat. Misalnya,makam di permakaman Islam akan mengarah ke kiblat yang telah ditentukan. Begitu juga dengan lokasi lain yang menampilkan ciri khas kepercayaan penganutnya. Selayaknya fasilitas yang diberikan, tidak heran jika sepetak makam di tempat ini harganya jauh lebih mahal dari makam lain di Indonesia.
Tipe Single Burial Muslim, yaitu Mansion Isya harganya mencapai Rp30 jutaan (net price), Mansion Al Maajid Rp25,9 jutaan, dan Mansion Wisdom Rp22,2 jutaan. Jika membeli sembilan unit Mansion Al Maajid, harganya mencapai Rp148 jutaan. Sementara, tipe Single Burial Universal, yaitu Mansion Sovereignty harganya Rp32,3 jutaan, Mansion Peacefulness Rp23,2 jutaan,dan Mansion Light Rp22,8 jutaan.
Adapun,tipe Semi Private (dua makam) harganya bisa mencapai Rp100 juta dan tipe Private Estate sekitar Rp500 juta. Makam yang termahal disebut-sebut mencapai miliaran rupiah. Wajar jika yang layak menjadi penghuni hanyalah mereka yang berkantong tebal. Kendati begitu, keluarga yang memakamkan anggotanya di perkuburan ini tidak perlu lagi membayar pajak tahunan seperti yang diterapkan permakaman umum yang dikelola pemerintah.
Sebab,pengelola telah menyatakan bahwa keluarga yang ditinggalkan tidak perlu membayar biaya tambahan selain ongkos yang telah dibayar pertama kali. Biaya perawatan termasuk dalam harga tersebut.Malah,untuk setiap satu unit yang dibeli,pembeli mendapatkan satu sertifikat.
Hal ini tentunya membuat calon penghuni tidak khawatir tentang masa depan “istana abadi” mereka.Keluarga tidak perlu khawatir jika tidak sempat membersihkan makam, atau khawatir makam digusur. Karena harga yang telah mereka bayarkan telah menjamin tempat peristirahatan terakhir keluarga mereka aman. islahuddin
Peristirahatan Terakhir Para Superkaya
Monday, 07 May 2012
Permakaman yang bernuansa indah dan asri di beberapa negara di dunia sengaja dibangun berdasarkan sisi bisnis.Makam didesain dengan gaya arsitektur bernilai seni tinggi dan memiliki fasilitas lengkap untuk menarik minat para superkaya memakamkan anggota keluarga mereka.
Amerika Serikat (AS) adalah negara yang memiliki paling banyak kompleks permakaman mewah.Salah satunya, Santa Barbara Cemetery, kompleks permakaman terindah yang ada di California. Selain menawarkan atmosfer permakaman yang tenang dan damai, Santa Barbara Cemetery menawarkan pemandangan indah dan eksotis. Lokasinya yang berada di atas bukit menghadap langsung ke Samudera Pasifik, dengan pemandangan hempasan ombak, menimbulkan efek kedamaian.
Seperti dilansir Forbes dalam artikelnya yang bertajuk “America’s Most Expensive Cemeteries”, harga taman permakaman yang ditawarkan sesuai dengan segala pemandangan indah dan fasilitas lengkap yang mereka tawarkan. Harga kavling pemakaman paling murah di tempat ini dibanderol dengan harga USD3.300 (sekitar Rp30 juta). Tipe Mauseloum,misalnya,harga yang ditawarkan USD7.200 (Rp 65,5 juta).
Sementara,Mauseloum yang letaknya dekat lautan dibanderol USD21.000 (Rp191,2 juta).Adapun makam yang terletak di atas bukit dibanderol USD83.000 (Rp755,9 juta). Selain Santa Barbara Cemetary, tempat makam mewah lain yang ada Negeri Paman Sam yang juga cukup terkenal ialah Green Wood Cemetery.
Kompleks pemakaman mewah ini dibangun pada 1838 di daerah Brooklyn, King Country,New York. Dengan kontur tanah yang dramatis seluas 1,9 kilometer persegi, makam ini berada di atas bukit dengan ketinggian 60 meter di atas permukaan laut. Menurut thirteen.org,permakaman ini adalah kuburan paling terkenal dan prestisius di New York. Bahkan, The New York Times pernah menulis bahwa warga New York terobsesi untuk bisa tinggal di kawasan bergengsi Fifth Avenue dan dimakamkan di Green- Wood Cemetery.
Untuk bisa membeli rumah masa depan di tempat ini, biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Sebab, membeli kavling makam dengan model nisan biasa saja harganya sudah sebesar USD1.515 (Rp13,7 juta). Bila ingin dimakamkan di komplek Mausoleum, harga yang ditawarkan berkisar antara USD17.850 (Rp162,5 juta) hingga USD27.800 (Rp253,1 juta). Jika ingin lebih pretisius lagi, Green Wood juga menawarkan dua jenis bangunan makam khusus yang dikenal dengan nama Situs Sarkofagus dan Situs Mousolem dengan harga berkisar antara USD150.000 (Rp 1,36 miliar) hingga USD300.000 (Rp2,73 miliar).
Tak cuma lokasinya yang eksotis, Green-Wood Cemetery juga berarsitektur elegan.Hal ini dapat terlihat jelas dari gerbang utamanya yang didesain dengan gaya Mediteranian yang terlihat kokoh dan mewah.Selain itu,beberapa lokasi peristirahatannya juga yang didesain seperti vila ala Italia dan Swiss. Arsitektur dan desain yang beragam dan indah inilah yang membuat Departemen Dalam Negeri AS menobatkan kompleks permakaman ini sebagai National Historic Landmark pada tahun 2006.
Bahkan, karena keindahannya yang sangat eksotik,sejak awal dibangun,permakaman ini sudah dijadikan tujuan wisata para turis lokal maupun mancanegara. Menurut situs resminya, ada banyak paket wisata yang dapat dipilih para pelancong, salah satunya adalah wisata kereta yang ditawarkan dengan harga sebesar USD15 per tiket/orang. Untuk wisata jenis ini, selain akan dibawa mengelilingi Green Wol. Para turis juga akan mendapatkan penjelasan lengkap tentang tempat pemakaman itu. cheerli
Jenazah Juga Butuh Hotel
Monday, 07 May 2012
Bisnis pemakaman tidak hanya berupa penyediaan lahan kuburan. Masih ada beberapa hal yang menjanjikan dari bisnis ini. Mulai dari pemeliharaan hingga menyediakan hotel khusus jenazah.
Bisnis hotel jenazah telah dilakukan pengusaha asal Jepang, Hisayoshi Teramura, 71. Hotel yang diberi nama Lastel Hotel atau Hisayoshi Teramura Inn ini terletak di Yokohama. Dari jauh tidak terlihat ada perbedaan dengan hotel lain. Karena itu,tidak sedikit turis mancanegara yang mengira hotel ini sebagai sebuah tempat penginapan. “Kami mengatakan kepada mereka kita hanya memiliki ruangan yang dingin,” kata Teramura, menyindir pengunjung yang sering salah datang ke hotelnya.
Jika dilihat ke dalam,semakin jelas jika hotel ini diperuntukkan bagi “konsumen” yang sudah tidak bernyawa lagi. Sebagaimana diberitakan Reuters,hotel kecil ini menyediakan sejumlah layanan,seperti layanan kamar.Namun, ada juga layanan khas pada jenazah yaitu penyediaan peti mati cantik, rangkaian bunga indah, hingga perlakuan layaknya raja dan ratu.Semua jenazah diberikan baju yang bagus dan dandanan yang menarik.
Dan,tentu temperatur udara yang dingin agar jenazah awet. Tarif yang ditawarkan hotel ini sebesar 12.000 yen atau sekitar Rp1,3 juta per malam.Keluarga yang menggunakan jasa hotel jenazah ini biasanya mereka yang merencanakan untuk kremasi jenazah. Selama masa penginapan, keluarga dan teman bisa mengunjungi dan memberikan penghormatan kepada jenazah.
Warga Jepang rata-rata membayar 1,2 juta yen (sekitar Rp13,881 juta) untuk bunga,guci, peti, dan biaya pemakaman. Dalam setahun setidaknya potensi pasar untuk urusan kematian ini mencapai USD21 miliar (Rp191,2 triliun).Angka ini dua kali lipat dari apa yang dihabiskan masyarakat AS untuk pemakaman setiap tahun. Bagi Teramura, bisnis pemakaman bukanlah hal yang asing.Dia telah memulai bisnis ini lebih dari empat dekade.Namun,bisnis hotel jenazah baru dimulainya pada 2010.
Menurut Teramura,waktu antre buat kremasi di Yokohama rata-rata empat hari. Bagi keluarga yang tidak mempunyai rumah luas,akan sangat kesulitan untuk menjaga jenazah. Besarnya jumlah kematian dan semakin sempitnya tempat tentunya memberikan peluang besar bagi mereka yang akan masuk dalam bisnis ini.Apalagi, masuk ke bisnis perawatan jenazah tidak memerlukan lisensi dan kualifikasi khusus.
Sehingga, semua bisa dengan mudah masuk dalam bisnis ini. Cukup dengan persediaan kebutuhan pemakaman, direktur, kantor, dan telepon.Perlengkapan lain, seperti bunga, peti mati, mobil jenazah, hingga biarawan, semuanya bisa disewa. Sebagaimana yang ditulis Reuters dalam laporannya, di AS pengusaha yang hendak masuk dalam bisnis ini rata-rata hanya membutuhkan tiga tahun untuk belajar.
Waktu tersebut sudah termasuk magang sebelum regulator mempertimbangkan membagikan lisensi. Dalam sebuah jajak pendapat, dari 2.796 perusahaan terkait industri pemakaman,Departemen Perdagangan Ekonomi dan Industri Jepang menemukan fakta bahwa sepertiganya telah menjalankan bisnis selama satu dekade. Hal ini membuktikan setiap tahun pemain dalam bisnis ini semakin banyak.
“Orang cenderung untuk menyerahkan semua urusan kepada direktur pemakaman dan beberapa orang mengambil keuntungan dari itu.Jadi, harga sebuah peti mati mungkin hanya 100.000 yen namun akhirnya Anda harus membayar 1 juta yen untuk semua urusan,”kata Teramura. Prospek bisnis ini semakin menggiurkan mengingat tidak ada pengawasan resmi,termasuk pada transaksi keuangan tunai.
Menurut sejumlah pelaku industri, hal ini menjadi magnet bagi semua orang untuk terlibat. Melihat bisnis yang menggiurkan, banyak juga pengusaha yang melebarkan sayap pada bisnis kematian ini. Seperti penyelenggara wedding organizer yang kemudian melirik bisnis kematian. Seorang penyedia wedding organizer, Takayuki Nakagawa, pada 2002 mendirikan Urban Funes yang menawarkan pemakaman yang temanya disesuaikan dengan kapel pernikahan.
Nakagawa terbilang sukses dalam bisnis ini.Terbukti, dalam lima tahun dia melayani 3.000 pemakaman. Nakagawa tidak mempunyai resep khusus,bahkan banyak pekerjaan yang harus dilakukan melalui outsourcing ke pihak lain. islahuddin/reuters
Agar Kelak Tak Repot
Monday, 07 May 2012
Kepopuleran San Diego Hills Memorial Park and Funeral Homes sebagai tempat permakaman asri dan eksklusif berhasil menarik perhatian sejumlah selebritas.
Salah seorang selebritas yang mengaku telah menyiapkan tempat peristirahatan terakhir di sana ialah Anya Dwinov.Alasan utama yang mendasari perempuan cantik kelahiran Jakarta, 10 November 1982, ini memesan tempat pemakaman dari sekarang karena dia tidak ingin merepotkan keluarga atau orang lain ketika dirinya meninggal nanti. “Mencari lahan makam itu memakan tenaga,waktu, dan biaya yang tidak murah.
Belum lagi setiap tahun harus terus memperpanjang sewa lahan. Kebayang kanseberapa besar kerepotan yang kita bebankan pada anak-cucu bila tidak memikirkan hal itu dari sekarang,” ujarnya kepada harian Seputar Indonesia (SINDO). Anya mengatakan, sebagai seorang muslimah,jeda waktu yang dimiliki dari saat meninggal hingga dimakamkan tidaklah sefleksibel kaum nonmuslim. Sehingga, dia sering mendengar dan melihat kerepotan yang dirasakan orang-orang saat anggota keluarganya meninggal.
“Maka dari itu, dengan pemikiran sederhana untuk tidak mau membebani atau menyusahkan anggota keluarga yang aku tinggalkan,akhirnya aku memutuskan untuk menyiapkan makam dari sekarang,”paparnya. Selanjutnya,selebritas yang juga pemilik bisnis jasa perjalanan wisata (tour and travel) Graha Wisata ini menurutkan, awalnya sang bunda merasa keberatan dengan pemikiran tersebut.
Namun, setelah mendengar alasan Anya dan melihat areal makam tersebut, akhirnya sang ibu pun menyetujui hal itu. Anya mengungkapkan, selain menyiapkan makam untuk dirinya sendiri, dia juga menyiapkan makam untuk anggota keluarga terdekat.Anya mengaku telah membeli 10 kavling untuk anggota keluarganya yang lain. “Saat ini satu kavling yang aku beli sudah ditempati ibu angkatku yang telah meninggal beberapa waktu lalu,” tuturnya.
Kesepuluh kavling yang telah dia beli semuanya berada di satu blok permakaman yang sama, yaitu Charity Mansion. Di mana, selain memang dikhususkan untuk kaum muslim, blok ini sengaja dipilih Anya karena lokasinya berdekatan dengan musala. “Sehingga, suasana berdoanya juga jadi lebih khidmat,”ujarnya.
Seperti yang dilansir dari situs resmi San Diego, Charity Mansion yang dibangun khusus untuk kaum muslim, konsepnya didasari pada salah satu dari limarukunIslam,zakat. Ditengahtaman indah yang dilengkapi musala, Charity Mansion dibangun untuk mengingatkan orang agar selalu berbagi kepada yang tidak mampu serta mengindahkan mereka yang kurang berada.
Selain murni karena kepraktisan dan kenyamanan yang ingin diberikan pada anggota keluarga saat dirinya telah tiada. Alasan lain yang mendasari Anya membeli lahan permakaman di lokasi tersebut adalah San Diego Hills jauh dari kesan suram,kusam,dan angker layaknya permakaman umum yang ada di Indonesia.
“Bahkan,dengan sertifikat hak milik atas tanah makam tersebut, aku juga tidak perlu khawatir bahwa makamku akan digusur, ditumpuk, atau hilang saat tidak ada lagi sanak keluarga yang mengunjungi,”tandasnya. Apalagi,adasistemmanajemenyang baik dari tempat tersebut. Salah satunya, bila keluarga dan teman tidak punya waktu untuk mengunjungi makam, mereka bisa langsung telepon ke manajemen untuk menaruhkan karangan bunga di setiap momen yang berhubungan dengan sanak keluarganya yang telah tiada,misalnya saat ulang tahun.
“Jadi, sanak keluarga yang jauh tidak perlu repot-repot untuk sekadar menaruh karangan bunga. Mereka tinggal telepon, bunga diantar ke makam, lalu tinggal bayar ke rekening pengelola.Mereka bisa berdoa di mana saja dan kapan saja,”tambahnya. Anya mengaku membeli makam tersebut pada 2009 silam dengan harga belasan juta untuk setiap kavlingnya.Anya enggan menyebutkan jumlah nominal pasti yang telah dia keluarkan untuk membeli 10 kavling di San Diego Hills.
Selebritas yang dikenal sebagai pembawa acara ini mengaku, sahabat karibnya yaitu Olga Lydia yang mengenalkan pertama kali San Diego Hills kepada dirinya. “Olga yang memperkenalkan ke saya, dia sudah duluan beli, baru saya,”akunya. Menurut Anya, mempersiapkan tempat pemakaman atau rumah abadi sedini mungkin bukanlah hal aneh yang dilakukan seseorang. Malah ini adalah cara tepat yang dapat dilakukan setiap orang yang terlahir di dunia.
Dengan adanya persiapan seperti ini, setidaknya seseorang tidak lagi meninggalkan tugas berat untuk anggota keluarga lain. Sama halnya dengan alasan yang dikemukakanAnya kepada SINDO,artis cantik Olga Lydia juga mengatakan bahwa alasan utama yang membuat dirinya mempersiapkan makam sejak dini adalah karena tidak ingin merepotkan sanak keluarga ketika meninggal dunia nanti.
“Setiap orang pasti meninggal. Karenaitusifatnya mendadak,daripada nantinya repot, sebaiknya pesan dari sekarang saja,”katanya. Olga telah lama memesan kavling di areal permakaman yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas tersebut.Kendati demikian, dia tidak ingin menyebutkan secara rinci bagaimana bentuk dan biaya yang dikeluarkan untuk membeli tempat peristirahatan terakhirnya itu.
“Saya nggak hafal ya, pokoknya sudah ada,”ujarnya Menurut Olga, selain karena tempatnya rapi, hal lain yang menarik dia untuk membeli kavling di tempat tersebut adalah dia percaya pada reputasi yang baik dari kawasan permakaman yang menawarkan kelengkapan fasilitas dan layanan berkualitas. cheerli
Paranoia Gaga
Monday, 07 May 2012
Tidak ada yang baru dari reaksi Front Pembela Islam (FPI) menolak keras rencana kedatangan Lady Gaga yang akan menggelar konser musik pada 3 Juni 2012 mendatang di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan.
Ancaman FPI berdasarkan hasil pembelajaran FPI tentang siapa dan bagaimana Lady Gaga saat melakukan konser di berbagai negara. Karena itu, Habib Rizieq dan FPI akan segera menyampaikan langsung ke Presiden SBY soal keberatannya itu. Jika konser tetap digelar, potensi chaos menjadi salah satu hal yang tak terhindarkan.
Tetapi, jika berbicara tentang Lady Gaga, saya justru lebih teringat pada yayasannya, Born This Way Foundation— yang berslogan empowering youth, inspiring bravery—dibandingkan dengan cara Lady Gaga berpakaian. Jika membuka situs yayasan tersebut, ada sebuah upaya membantu generasi muda dengan segala gejolak dan keunikannya dalam sebuah penerimaan kolektif yang penuh cinta. Dibuat berdaya,berani, dan dirangkul layaknya perwujudan rasa kemanusiaan.
Realita Manusia
Harus dibedakan antara nyentrik dan bejat (tetapi tidak kasatmata). Melihat riwayat hidup Gaga, tidak bisa dipungkiri dia diberkahi dengan bakat besar. Secara autodidak Gaga belajar piano pada usia empat tahun, menulis balada piano untuk pertama kalinya pada usia 13 tahun, tampil di klub-klub seperti New York’s the Bitter End pada usia 14 tahun, dan menjadi salah satu dari 20 anak di dunia yang bisa masuk Tisch School of the Arts at NYU pada usia 17 tahun.
Saat ini Gaga dicap evangelist atas upayanya mengubah dunia sedikit demi sedikit dengan mendirikan yayasan Born This Way. Tidak begitu saja ia bisa menerima keadaan dirinya dan mencapai tahapan transendental ala Maslow seperti sekarang. Dia harus melampaui proses hidup sebagai remaja korban bullying yang terus-menerus dihina oleh teman-teman satu sekolahnya karena mempunyai hidung besar,gigi aneh, dan penampilan yang nyentrik.
Gaga memahami perasaan menjadi “orang aneh” atau tidak diterima oleh grup tertentu (termasuk sekarang oleh FPI),atau setidaknya merasa sebagai remaja canggung.Sewaktu Gaga masih bernama Stefani Germanotta dari Manhattan, temanteman satu sekolah Katoliknya menganggap aneh sehingga Gaga pun diceburkan ke dalam tong sampah. Menurut pengakuannya, bullying membekas seumur hidup.
Pengalaman pribadi telah bertransformasi menjadi sebuah kekuatan bagi Gaga untuk membantu generasi muda Glee dengan pendekatan psikologi pop.Tidak hanya melalui lagu, yayasannya juga menjadi medium untuk membantu penggemarnya— yang dia sebut The Monsters—untuk bisa melupakan ketidaknyamanan dan perasaan tidak percaya diri karena penolakan lingkungan atas mereka yang “dipersepsikan”berbeda.
The Monsters mengikuti gerak-gerik Gaga di Twitter dan mengirimkan e-mailyang makin menyerupai para penggemar Oprah. Gaga berinteraksi dengan para penggemar muda yang melakukan mutilasi diri, mengalami gangguan depresi, gangguan makan,distorsi body image,dan sama dengan dirinya, menjadi korban bullying.Gaga juga merangkul mereka yang mengalami kesulitan mengakui jati dirinya kepada masyarakat seperti dalam lirik Born This Way yang juga menyinggung tentang gay, straight, or bi dan lesbian,serta transgender life.
Bullying dan LGBTQ
P e n y e b a b bullying bisa bermacam- macam seperti tubuh gendut/ kerempeng, prestasi di sekolah yangjelek/kutubuku, status sosial-ekonomi, orientasi seksual,dan lain-lain.Yang mengerikan adalah dampak bullying dapat berakhir pada bunuh diri. Ini bukan sebuah episode dalam serial televisi Glee, tetapi sebuah realita nanar yang juga terjadi di Indonesia.Data yang dikumpulkan pada 2010 oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak terdapat 2.399 kasus kekerasan fisik, psikologis, dan seksual yang mana 300 adalah kasus bullying.
Setidaknya data menunjukkan penurunan jika dibandingkan 498 kasus (2009) dan 525 kasus (2008). Indonesia telah meratifikasi United Nations Convention on the Rights of the Child pada 1996 dan mempunyai UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.Konvensi PBB menjamin hak setiap anak untuk bertumbuh kembang, berpartisipasi dalam berbagai aktivitas,dan terlindungi dari diskriminasi. Namun, banyak guru tidak paham tentang substansi dari ratifikasi konvensi maupun undangundang.
Selain bullying,kita juga harus mulai lebih memperhatikan terminologi lesbian, gay, bisexual, transgender, dan questioning (LGBTQ). LGBTQ semakin mengemuka termasuk dalam berbagai konferensi kesehatan seksual dan reproduksi bertaraf internasional agar mereka yang termasuk LGBTQ tetap menjadi bagian dari hak universal yang tidak lagi dibedakan. Kalangan liberal mempercayai bahwa orang terlahir gay atau straight.
Kalangan konservatif cenderung percaya bahwa orientasi seksual adalah preferensi seksual, yang mana ditentukan oleh individu. Perbedaan ini menjadi penting karena menyangkut bagaimana hukum diaplikasikan kepada mereka yang gay. Jika homoseksualitas tidak dipilih (preferensi),tetapi karakteristik yang ditentukan secara biologik dan kita tidak punya pilihan sehingga hukum tidak boleh memperlakukan gaydan straight secara berbeda karena berarti homoseksualitas tidak bisa dikendalikan.
American Psychiatric Association pun ikut berdebat alot tentang homoseksualitas. Dengan basis data empiris, perubahan norma sosial, dan perkembangan komunitas gay yang aktif secara politik di AS, pada 1986 diagnosis homoseksualitas dikeluarkan sepenuhnya dari diagnostic and stastitical manual of mental disorders (DSM).
Satu-satunya jejak tersisa adalah sexual disorders not otherwise specified yang termasuk stres persisten dan bermakna tentang orientasi seksual dirinya. Seringkali isu cara berpakaian menghambat rasionalitas berpikir yang substantif. Distorsi yang menjadi kamuflase. Jika hanya cara berpakaian Lady Gaga yang diharapkan bisa disesuaikan dengan kondisi bangsa Indonesia dengan mayoritas penduduk memeluk agama Islam, hal ini bisa dikomunikasikan antara penyelenggara dan manajemen Lady Gaga.
Justru perlu dikhawatirkan ada sebuah bentuk penolakan terhadap realita manusia yang mungkin juga sudah menjadi realita di Indonesia, yang seharusnya kita hadapi bersama-sama, bukan denial.Tidak ada yang salah dari keyakinan Lady Gaga bahwa setiap orang yang terlahir berhak untuk hidup bahagia dalam kebersamaan. Tidak dalam keterasingan, hanya karena berbeda dari mayoritas.Menutup mata dan menolak tidak akan meningkatkan kesehatan jiwa Indonesia. ●
DR NOVA RIYANTI YUSUF SPKJ
Anggota Komisi IX DPR RI,
Fraksi Partai Demokrat
Tidak ada yang baru dari reaksi Front Pembela Islam (FPI) menolak keras rencana kedatangan Lady Gaga yang akan menggelar konser musik pada 3 Juni 2012 mendatang di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan.
Ancaman FPI berdasarkan hasil pembelajaran FPI tentang siapa dan bagaimana Lady Gaga saat melakukan konser di berbagai negara. Karena itu, Habib Rizieq dan FPI akan segera menyampaikan langsung ke Presiden SBY soal keberatannya itu. Jika konser tetap digelar, potensi chaos menjadi salah satu hal yang tak terhindarkan.
Tetapi, jika berbicara tentang Lady Gaga, saya justru lebih teringat pada yayasannya, Born This Way Foundation— yang berslogan empowering youth, inspiring bravery—dibandingkan dengan cara Lady Gaga berpakaian. Jika membuka situs yayasan tersebut, ada sebuah upaya membantu generasi muda dengan segala gejolak dan keunikannya dalam sebuah penerimaan kolektif yang penuh cinta. Dibuat berdaya,berani, dan dirangkul layaknya perwujudan rasa kemanusiaan.
Realita Manusia
Harus dibedakan antara nyentrik dan bejat (tetapi tidak kasatmata). Melihat riwayat hidup Gaga, tidak bisa dipungkiri dia diberkahi dengan bakat besar. Secara autodidak Gaga belajar piano pada usia empat tahun, menulis balada piano untuk pertama kalinya pada usia 13 tahun, tampil di klub-klub seperti New York’s the Bitter End pada usia 14 tahun, dan menjadi salah satu dari 20 anak di dunia yang bisa masuk Tisch School of the Arts at NYU pada usia 17 tahun.
Saat ini Gaga dicap evangelist atas upayanya mengubah dunia sedikit demi sedikit dengan mendirikan yayasan Born This Way. Tidak begitu saja ia bisa menerima keadaan dirinya dan mencapai tahapan transendental ala Maslow seperti sekarang. Dia harus melampaui proses hidup sebagai remaja korban bullying yang terus-menerus dihina oleh teman-teman satu sekolahnya karena mempunyai hidung besar,gigi aneh, dan penampilan yang nyentrik.
Gaga memahami perasaan menjadi “orang aneh” atau tidak diterima oleh grup tertentu (termasuk sekarang oleh FPI),atau setidaknya merasa sebagai remaja canggung.Sewaktu Gaga masih bernama Stefani Germanotta dari Manhattan, temanteman satu sekolah Katoliknya menganggap aneh sehingga Gaga pun diceburkan ke dalam tong sampah. Menurut pengakuannya, bullying membekas seumur hidup.
Pengalaman pribadi telah bertransformasi menjadi sebuah kekuatan bagi Gaga untuk membantu generasi muda Glee dengan pendekatan psikologi pop.Tidak hanya melalui lagu, yayasannya juga menjadi medium untuk membantu penggemarnya— yang dia sebut The Monsters—untuk bisa melupakan ketidaknyamanan dan perasaan tidak percaya diri karena penolakan lingkungan atas mereka yang “dipersepsikan”berbeda.
The Monsters mengikuti gerak-gerik Gaga di Twitter dan mengirimkan e-mailyang makin menyerupai para penggemar Oprah. Gaga berinteraksi dengan para penggemar muda yang melakukan mutilasi diri, mengalami gangguan depresi, gangguan makan,distorsi body image,dan sama dengan dirinya, menjadi korban bullying.Gaga juga merangkul mereka yang mengalami kesulitan mengakui jati dirinya kepada masyarakat seperti dalam lirik Born This Way yang juga menyinggung tentang gay, straight, or bi dan lesbian,serta transgender life.
Bullying dan LGBTQ
P e n y e b a b bullying bisa bermacam- macam seperti tubuh gendut/ kerempeng, prestasi di sekolah yangjelek/kutubuku, status sosial-ekonomi, orientasi seksual,dan lain-lain.Yang mengerikan adalah dampak bullying dapat berakhir pada bunuh diri. Ini bukan sebuah episode dalam serial televisi Glee, tetapi sebuah realita nanar yang juga terjadi di Indonesia.Data yang dikumpulkan pada 2010 oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak terdapat 2.399 kasus kekerasan fisik, psikologis, dan seksual yang mana 300 adalah kasus bullying.
Setidaknya data menunjukkan penurunan jika dibandingkan 498 kasus (2009) dan 525 kasus (2008). Indonesia telah meratifikasi United Nations Convention on the Rights of the Child pada 1996 dan mempunyai UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.Konvensi PBB menjamin hak setiap anak untuk bertumbuh kembang, berpartisipasi dalam berbagai aktivitas,dan terlindungi dari diskriminasi. Namun, banyak guru tidak paham tentang substansi dari ratifikasi konvensi maupun undangundang.
Selain bullying,kita juga harus mulai lebih memperhatikan terminologi lesbian, gay, bisexual, transgender, dan questioning (LGBTQ). LGBTQ semakin mengemuka termasuk dalam berbagai konferensi kesehatan seksual dan reproduksi bertaraf internasional agar mereka yang termasuk LGBTQ tetap menjadi bagian dari hak universal yang tidak lagi dibedakan. Kalangan liberal mempercayai bahwa orang terlahir gay atau straight.
Kalangan konservatif cenderung percaya bahwa orientasi seksual adalah preferensi seksual, yang mana ditentukan oleh individu. Perbedaan ini menjadi penting karena menyangkut bagaimana hukum diaplikasikan kepada mereka yang gay. Jika homoseksualitas tidak dipilih (preferensi),tetapi karakteristik yang ditentukan secara biologik dan kita tidak punya pilihan sehingga hukum tidak boleh memperlakukan gaydan straight secara berbeda karena berarti homoseksualitas tidak bisa dikendalikan.
American Psychiatric Association pun ikut berdebat alot tentang homoseksualitas. Dengan basis data empiris, perubahan norma sosial, dan perkembangan komunitas gay yang aktif secara politik di AS, pada 1986 diagnosis homoseksualitas dikeluarkan sepenuhnya dari diagnostic and stastitical manual of mental disorders (DSM).
Satu-satunya jejak tersisa adalah sexual disorders not otherwise specified yang termasuk stres persisten dan bermakna tentang orientasi seksual dirinya. Seringkali isu cara berpakaian menghambat rasionalitas berpikir yang substantif. Distorsi yang menjadi kamuflase. Jika hanya cara berpakaian Lady Gaga yang diharapkan bisa disesuaikan dengan kondisi bangsa Indonesia dengan mayoritas penduduk memeluk agama Islam, hal ini bisa dikomunikasikan antara penyelenggara dan manajemen Lady Gaga.
Justru perlu dikhawatirkan ada sebuah bentuk penolakan terhadap realita manusia yang mungkin juga sudah menjadi realita di Indonesia, yang seharusnya kita hadapi bersama-sama, bukan denial.Tidak ada yang salah dari keyakinan Lady Gaga bahwa setiap orang yang terlahir berhak untuk hidup bahagia dalam kebersamaan. Tidak dalam keterasingan, hanya karena berbeda dari mayoritas.Menutup mata dan menolak tidak akan meningkatkan kesehatan jiwa Indonesia. ●
DR NOVA RIYANTI YUSUF SPKJ
Anggota Komisi IX DPR RI,
Fraksi Partai Demokrat
Irshad Manji: Reformer Islam atau Suara Dominan Imperium?
Airlangga Pribadi, Kandidat PhD Asia Research Centre Murdoch University, Pengajar Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga, Surabaya
MELALUI laman media sosial Facebook, saya mendengarkan berita menyedihkan dari tanah air tentang terpasungnya kembali kemerdekaan berekspresi di ruang publik intelektual kita. Tindakan a la fasisme ini diperagakan kembali oleh segerombolan massa berjubah, baik yang mengatasnamakan Laskar Umat Islam Solo (LUIS) maupun Front Pembela Islam (FPI).
Di Jakarta, FPI yang dipimpin Rizieq Shihab, berhasil memaksakan pendapatnya dan mendorong polisi untuk membubarkan sebuah diskusi buku bersama intelektual-cum aktivis perempuan Muslim asal Kanada, Irshad Manji. Manji, yang bukunya sedang didiskusikan di Komunitas Salihara itu, memang sosok yang kontroversial, terutama berkaitan dengan posisi pemikirannya atas homoseksualitas di dalam Islam, pentingnya liberalisme pemikiran bagi komunitas Muslim, dan dukungan Manji atas keutamaan peradaban Barat terhadap peradaban Islam.
Sebenarnya, kalau kita menyadari pentingnya suara-suara alternatif dalam dinamika ruang publik Islam di tanah air maupun dunia Islam, kehadiran pandangan seperti ini justru menguntungkan. Itu akan membuka ruang bagi kita untuk mempertanyakan hal-hal yang telah dianggap sebagai keniscayaan dalam gerak langkah peradaban Islam. Terkait dengan hal ini, saya bersepakat dengan refleksi sastrawan Katholik Arab asal Lebanon Amin Maalouf, dalam kumpulan esainya In The Name of Identity ((1998). Di sana Maalouf mengutarakan, secara sosial sudah saatnya kita tidak hanya melihat kehidupan beragama dalam ruang sosial semata-mata dalam konteks bagaimana agama mempengaruhi kehidupan manusia, namun sebaliknya, bagaimana dialektika kehidupan sosial di bumi manusia pada akhirnya ikut mempengaruhi gerakan dinamik agama dan peradaban yang diinspirasikan oleh nilai-nilai agama itu sendiri. Dari basis pijakan inilah, menurut hemat saya, kekuatan sebuah peradaban yang di dalamnya nilai-nilai agama memberi sumbangan penting diukur, bukan dari seberapa kuat ia mengisolasi dan menolak pengaruh budaya atau gagasan-gagasan lain di luar dirinya. Daya hidup sebuah peradaban besar menjadi matang dan dewasa dengan memberi ruang yang luas, bahkan bagi suara-suara di luar arus utama, untuk tetap hidup dan memberi kontribusi bagi gerak vitalitas peradaban itu sendiri.
Demikian pula dengan peradaban Islam. Islam sebagai agama akan mandek dan berhenti memberi kontribusi bagi dinamika peradaban manusia, ketika ummatnya berpretensi menjadi pembela Islam dan pembela Tuhan dengan membubarkan, melarang, membakar buku, dan mengejar-ngejar mereka yang berpikiran bebas atau berpandangan berbeda dengan arus utama pemikiran Islam. Sejarah Islam memberikan pelajaran bagi kita semua, seperti diuraikan dengan brilyan oleh Sosiolog Spanyol Armando Salvatore dalam The Public Sphere: Liberal Modernity, Catholicism and Islam ((2007). Salvatore mengatakan, ketika ruang publik begitu terbuka, dan kalangan ilmuwan diberi kesempatan yang amat luas untuk mengembangkan ilmu dan filsafat di masa Kekhalifahan Islam Andalusia, khasanah intelektual Islam menjadi tulang punggung dan memberikan sumbangan yang sangat menentukan bagi hadirnya masa pencerahan, era Aufklarung, dan terbitnya fajar peradaban modern. Demikian pula dengan warisan peradaban Islam pada dinasti Fathimiyah Syiah di Mesir, yang menyumbangkan peradaban akademik dunia dengan universitas Al-Azhar dan perpustakaan di Alexandria.
Saat ini dengan perdebatan, pena, dan menggerakkan tuts di laptop, kaum Muslim membela demokrasi dan memberikan kontribusi penting bagi peradabannya, bukan dengan pentungan, pedang dan golok untuk melawan pikiran dan kebebasan. Itulah mengapa setiap tindakan fasis, kekerasan, dan pembelengguan terhadap kemerdekaan berfikir harus kita lawan sehebat-hebatnya dan sekuat-kuatnya.
Namun demikian, ketika secara panjang lebar saya membela kebebasan dalam ruang publik dan tentunya membela hak dari Irshad Manji untuk berbicara dalam ruang publik, tidak berarti saya membela dan mendukung suara yang ditampilkannya tentang peradaban Islam dalam hubungannya dengan Imperium. Tulisan ini bukanlah puja-puji dan dukungan terhadap Manji, namun sebaliknya, saya akan memberikan tanggapan terhadap kenaifan intelektual Manji dalam melihat komunikasi interkultural antar peradaban. Ketika kita memahami bahwa bukan hanya agama yang memberi kontribusi terhadap peradaban ummatnya, maka dalam konteks peradaban Islam, kita tidak bisa membaca Islam hanya dari Islam itu sendiri, maupun menggunakan pendekatan kultural yang terisoloasi dengan analisis strukturalis, relasi kuasa dan ketegangan sosial yang turut membentuknya.
Cheerleaders Imperium
Seperti diutarakan mendiang Fred Halliday dalam Nation and Religion in the Middle East ((2000), ketika menjelaskan Timur Tengah dengan segenap dinamikanya, pendekatan kultural bukanlah satu-satunya yang mendeterminasi analisis untuk melihat Timur-Tengah. Pendekatan budaya harus diletakkan dalam relasinya dengan konteks ketegangan relasi kuasa di internal dan eksternal Timur Tengah, pertarungan kekuatan sosial dan relasinya dengan tarikan pertarungan kekuatan sosial dominan dan sublatern di tingkat global.
Pada hubungan-hubungan interaktif antara kesadaran kultural, ketegangan sosial serta kontestasi kekuasaan di level global dan domestik, kita dapat membongkar kenaifan berpikir Irshad Manji dan posisi politik yang ia ambil dalam arus besar pergerakan imperium dunia. Sebagai seorang yang lahir di Afrika Timur pada saat kepemimpinan diktator Idi Amin di Uganda, Manji dan keluarganya berhasil keluar dan besar di Kanada, dengan membawa trauma dan rasa berterima kasih yang begitu mendalam terhadap kebebasan di dunia Barat yang membesarkan dirinya. Dalam karya The Trouble With Islam Today (2003), misalnya, ia mengritik tradisi yang berkembang dalam kebudayaan Islam dengan menempatkan posisinya sebagai penganut Islam Refusenik. Kata-kata refusenik sendiri, menurut Irhsad Manji, diambil dari sekumpulan karya kalangan terdidik Yahudi yang bersikap kritis dan menolak pandangan-pandangan baku dan tradisi lama dalam komunitas relijius Yahudi. Bagi Manji, sudah saatnya ummat Islam melakukan reformasi intelektual dan melakukan kritik internal terhadap peradaban mereka.
Namun demikian, apakah Manji benar-benar menjadi penganut Islam refusenik dan memahami bagaimana langkah dan pikiran kaum Yahudi refusenik dalam membongkar kesadaran komunitas mereka?
Menurut Justin Podur (2003) dalam majalah Znet, ketika mereview karya Manji, Manji ternyata tidak memahami bahwa adalah kaum Yahudi refusenik, yang pada era perang Arab-Israel, menjadi kaum yang menyeru kepada pemerintah Zionis untuk menarik tentaranya dari tanah negara-negara Arab yang diinvasi pada tahun 1967. Tidak itu saja, mereka juga menolak ikut serta dalam wajib militer (wamil) untuk menyerang warga Arab di tanah pendudukan atas nama nilai-nilai kemanusiaan. Mereka dengan teguh, sampai dipenjara, memperjuangkan pikiran dan sikap politik mereka. Pada saat ini, kaum Yahudi refusenik telah bertransformasi dan di kalangan intelektual Yahudi memunculkan mazhab sejarah baru (new historian jewish) seperti Thomas Baylis, sarjana Yahudi lulusan Yeshima University, yang pada 2009 menulis The Dark Side of Zionism: Israel’s Quest for Security through Dominance. Di buku ini, Baylish memberikan pengakuan getir, bahwa sebagai seorang Yahudi adalah kenyataan pahit untuk menuliskan betapa eksistensi dan keberadaan negara Israel lahir dari penindasan, eksploitasi, dan penghancuran atas bangsa lainnya.
Setelah membaca sekilas tentang identitas sejarah kaum Yahudi refusenik, mari kita melihat posisi Irshad Manji.
Dalam karyanya The Trouble With Islam, Manji menyerukan suara reformasi Islam-nya dan surat terbuka kepada ummat Islam dan non-muslim. Ia memulainya dengan memberikan pertanyaan retoris, ‘mengapa kita harus selalu berhenti pada diskusi tentang Israel dan Palestina, mengapa secara keras kepala kita menyerukan semangat Anti-Semit, siapakah imperialis tulen Arab atau Amerika, mengapa kita ummat Islam selalu menempatkan kaum perempuan sebagai warga kelas dua yang memiliki setengah kesadaran intelektual sebagai manusia?’ Dari pembacaan atas retorika Manji kita dapat menganalisis bahwa reformasi Islam Manji, ia tempatkan pada relasi oposisi biner Islam melawan Barat dan Amerika melawan Islam. Bagi Manji, tidak ada suara alternatif di luar itu semua. Berbeda dengan kaum Yahudi refusenik, yang secara jujur menolak tindakan kekerasan dan imperialisme yang dilakukan kaum Zionis, Irshad Manji dalam atribut-atributnya sebagai reformis Islam, justru meniadakan kenyataan faktual pendudukan Zionisme atas Palestina.
Terkait dengan penjajahan yang dialami bangsa Palestina, baik warga Muslim maupun Kristen di sana, maka bagi Manji yang kerapkali datang ke Israel, dengan bangganya mengutarkan bahwa dirinya tidak seperti kaum penyelundup yang tidak memiliki hak-hak apa-apa. Di negeri Israel, ia merasa seperti di rumah sendiri dan bertemu dengan keluarga mereka sendiri. Ia merasakan betapa kebebasan berpendapat begitu dihargai di Israel, dimana para intelektual memperdebatkan isu-isu publik yang kontroversial secara terbuka di koran-koran.
Posisi Manji ini sungguh aneh bagi saya. Sebagai seorang reformer Islam, yang menyebut dirinya sebagai Islam refusenik, sepertinya Manji menempatkan konflik Israel-Palestina dalam kacamata keagamaan yang harus ia reformasi. Dan dengan itu ia mengingkari prinsip-prinsip kemerdekaan dalam humanisme universal untuk menolak penjajahan di atas dunia. Hal ini membuatnya tidak bersimpati atas penindasan warga Muslim dan Kristen Palestina di dalamnya. Di sini, Irshad Manji gagal melihat persoalan Palestina dalam kacamata problem profan duniawi, yakni sebagai problem penjajahan satu bangsa atas bangsa lainnya. Radar sekularisme Irshad Manji gagal menangkap problem sekular imperialisme Zionis Israel atas Palestina, sebagai problem kemanusiaan bersama.
Bagaimana perspektif Irshad Manji tentang persoalan-persoalan lain di dunia Islam? Podur dalam review atas karya Manji, membawa kita pada website tentang penderitaan perempuan-perempuan Afghanistan dalam cengkeraman kekuasaan tirani yang didukung Uni Sovyet, dan cengkeraman Taliban yang sebelumnya didukung Amerika Serikat. Irshad Manji menampilkan foto-foto tentang perempuan bercadar yang menutup seluruh tubuhnya, kecuali wajahnya. Bagi Manji potret tersebut adalah ikon perempuan sebagai korban tradisi patriarkhi yang sangat kuat berakar dalam Islam (memang kemudian Manji membedakan antara tradisi Islam dan tradisi Arab komunal yang kemudian ditransmisikan menjadi tradisi Islam). Tetapi, Manji sepenuhnya melupakan keberadaan sekelompok lapisan perempuan terdidik yang terhimpun dalam Revolutionary Association of Woman Afghanistan (RAWA), yang meneriakkan suara pembebasan perempuan dengan mengajarkan membaca kepada komunitas perempuan, anak-anak, dan warga Afghanistan, mengajarkan kultur kritis dan bersuara tidak terhadap penindasan.
Mengapa Manji luput mengekpos gerak dan aktivitas mereka? Apakah ini semata-mata akibat ketidakpahaman Manji terhadap situasi di Afghanistan? Jawabannya, karena gerakan RAWA tidak saja menolak Taliban tapi juga mengecam keras pemboman Amerika Serikat, maupun dominasi imperium untuk menjarah kekayaan alam di Afghanistan, sebagai praktek-praktek eksploitasi dan penindasan yang tak kalah bengisnya dengan yang dilakukan oleh rezim Taliban. Sementara, posisi Irshad Manji dalam karyanya, justru memberikan dukungan kepada invasi Amerika, karena dianggapnya invasi tersebut telah membebaskan rakyat Afghanistan dari tindasan rezim Taliban yang reaksioner. Pada sisi ini suara reformasi Irshad Manji, adalah manifestasi rasa terima kasih dan stempel bagi langkah-langkah global dari imperium dunia.
Analisis Irshad Manji yang secara tergopoh-gopoh melakukan kritik terhadap tradisi Islam dan berdiri kagum memandang gemerlap Liberty, menara Eiffel Amerika, bukanlah suara pembebasan multikulturalisme demokratik. Suara Manji, bagi saya, adalah suara yang mengamini basis pengandaian dari tesis The Clash of Civilization Samuel Huntington, yang meyakini bahwa peradaban Islam adalah musuh dari peradaban modern Barat, dan komunitas Islam membutuhkan kekuatan Barat untuk melepaskan diri dari penjara kulturalnya. Suara Irshad Manji adalah suara kaum Neo-Conservatif seperti George W Bush dan sekutunya, yang percaya dengan invasi dan peperangan mereka memiliki misi suci untuk membawa kebebasan bagi dunia Islam. Suara-suara seperti ini tidak memiliki sensitivitas terhadap pergolakan internal di kalangan kaum terpinggirkan yang berjuang, tidak saja melawan tirani feodalisme dan kediktatoran militer, namun juga menghadang penetrasi kekuatan transnasional untuk menghisap bumi, air dan kekayaan alam di negeri-negeri mereka sendiri.
Dalam konteks seperti ini, menempatkan Irshad Manji dalam posisi intelektual Islam reformis, sungguh salah kaprah. Manji tidak berada pada barisan reformer Islam seperti Nawal el-Saadawi, Jamaluddin Al-Afghani, Ali Shariati, maupun pejuang Nasrani Arab yang konsisten menyerukan suara pembebasan, seperti Edward W. Said. Irshad Manji adalah penguat dan amplifier dari suara imperium yang menyebar di dunia Islam.
Namun demikian, dengan segala kritisisme ini, saya membela hak Manji untuk berbicara dalam ruang publik Islam, sekaligus menentang tindakan fasis seperti yang diperagakan FPI. Di atas meja intelektual itulah kita bisa mengritik dan menunjukkan kelemahan teoritis, serta posisi politiknya yang bias kepentingan imperialisme.***
MELALUI laman media sosial Facebook, saya mendengarkan berita menyedihkan dari tanah air tentang terpasungnya kembali kemerdekaan berekspresi di ruang publik intelektual kita. Tindakan a la fasisme ini diperagakan kembali oleh segerombolan massa berjubah, baik yang mengatasnamakan Laskar Umat Islam Solo (LUIS) maupun Front Pembela Islam (FPI).
Di Jakarta, FPI yang dipimpin Rizieq Shihab, berhasil memaksakan pendapatnya dan mendorong polisi untuk membubarkan sebuah diskusi buku bersama intelektual-cum aktivis perempuan Muslim asal Kanada, Irshad Manji. Manji, yang bukunya sedang didiskusikan di Komunitas Salihara itu, memang sosok yang kontroversial, terutama berkaitan dengan posisi pemikirannya atas homoseksualitas di dalam Islam, pentingnya liberalisme pemikiran bagi komunitas Muslim, dan dukungan Manji atas keutamaan peradaban Barat terhadap peradaban Islam.
Sebenarnya, kalau kita menyadari pentingnya suara-suara alternatif dalam dinamika ruang publik Islam di tanah air maupun dunia Islam, kehadiran pandangan seperti ini justru menguntungkan. Itu akan membuka ruang bagi kita untuk mempertanyakan hal-hal yang telah dianggap sebagai keniscayaan dalam gerak langkah peradaban Islam. Terkait dengan hal ini, saya bersepakat dengan refleksi sastrawan Katholik Arab asal Lebanon Amin Maalouf, dalam kumpulan esainya In The Name of Identity ((1998). Di sana Maalouf mengutarakan, secara sosial sudah saatnya kita tidak hanya melihat kehidupan beragama dalam ruang sosial semata-mata dalam konteks bagaimana agama mempengaruhi kehidupan manusia, namun sebaliknya, bagaimana dialektika kehidupan sosial di bumi manusia pada akhirnya ikut mempengaruhi gerakan dinamik agama dan peradaban yang diinspirasikan oleh nilai-nilai agama itu sendiri. Dari basis pijakan inilah, menurut hemat saya, kekuatan sebuah peradaban yang di dalamnya nilai-nilai agama memberi sumbangan penting diukur, bukan dari seberapa kuat ia mengisolasi dan menolak pengaruh budaya atau gagasan-gagasan lain di luar dirinya. Daya hidup sebuah peradaban besar menjadi matang dan dewasa dengan memberi ruang yang luas, bahkan bagi suara-suara di luar arus utama, untuk tetap hidup dan memberi kontribusi bagi gerak vitalitas peradaban itu sendiri.
Demikian pula dengan peradaban Islam. Islam sebagai agama akan mandek dan berhenti memberi kontribusi bagi dinamika peradaban manusia, ketika ummatnya berpretensi menjadi pembela Islam dan pembela Tuhan dengan membubarkan, melarang, membakar buku, dan mengejar-ngejar mereka yang berpikiran bebas atau berpandangan berbeda dengan arus utama pemikiran Islam. Sejarah Islam memberikan pelajaran bagi kita semua, seperti diuraikan dengan brilyan oleh Sosiolog Spanyol Armando Salvatore dalam The Public Sphere: Liberal Modernity, Catholicism and Islam ((2007). Salvatore mengatakan, ketika ruang publik begitu terbuka, dan kalangan ilmuwan diberi kesempatan yang amat luas untuk mengembangkan ilmu dan filsafat di masa Kekhalifahan Islam Andalusia, khasanah intelektual Islam menjadi tulang punggung dan memberikan sumbangan yang sangat menentukan bagi hadirnya masa pencerahan, era Aufklarung, dan terbitnya fajar peradaban modern. Demikian pula dengan warisan peradaban Islam pada dinasti Fathimiyah Syiah di Mesir, yang menyumbangkan peradaban akademik dunia dengan universitas Al-Azhar dan perpustakaan di Alexandria.
Saat ini dengan perdebatan, pena, dan menggerakkan tuts di laptop, kaum Muslim membela demokrasi dan memberikan kontribusi penting bagi peradabannya, bukan dengan pentungan, pedang dan golok untuk melawan pikiran dan kebebasan. Itulah mengapa setiap tindakan fasis, kekerasan, dan pembelengguan terhadap kemerdekaan berfikir harus kita lawan sehebat-hebatnya dan sekuat-kuatnya.
Namun demikian, ketika secara panjang lebar saya membela kebebasan dalam ruang publik dan tentunya membela hak dari Irshad Manji untuk berbicara dalam ruang publik, tidak berarti saya membela dan mendukung suara yang ditampilkannya tentang peradaban Islam dalam hubungannya dengan Imperium. Tulisan ini bukanlah puja-puji dan dukungan terhadap Manji, namun sebaliknya, saya akan memberikan tanggapan terhadap kenaifan intelektual Manji dalam melihat komunikasi interkultural antar peradaban. Ketika kita memahami bahwa bukan hanya agama yang memberi kontribusi terhadap peradaban ummatnya, maka dalam konteks peradaban Islam, kita tidak bisa membaca Islam hanya dari Islam itu sendiri, maupun menggunakan pendekatan kultural yang terisoloasi dengan analisis strukturalis, relasi kuasa dan ketegangan sosial yang turut membentuknya.
Cheerleaders Imperium
Seperti diutarakan mendiang Fred Halliday dalam Nation and Religion in the Middle East ((2000), ketika menjelaskan Timur Tengah dengan segenap dinamikanya, pendekatan kultural bukanlah satu-satunya yang mendeterminasi analisis untuk melihat Timur-Tengah. Pendekatan budaya harus diletakkan dalam relasinya dengan konteks ketegangan relasi kuasa di internal dan eksternal Timur Tengah, pertarungan kekuatan sosial dan relasinya dengan tarikan pertarungan kekuatan sosial dominan dan sublatern di tingkat global.
Pada hubungan-hubungan interaktif antara kesadaran kultural, ketegangan sosial serta kontestasi kekuasaan di level global dan domestik, kita dapat membongkar kenaifan berpikir Irshad Manji dan posisi politik yang ia ambil dalam arus besar pergerakan imperium dunia. Sebagai seorang yang lahir di Afrika Timur pada saat kepemimpinan diktator Idi Amin di Uganda, Manji dan keluarganya berhasil keluar dan besar di Kanada, dengan membawa trauma dan rasa berterima kasih yang begitu mendalam terhadap kebebasan di dunia Barat yang membesarkan dirinya. Dalam karya The Trouble With Islam Today (2003), misalnya, ia mengritik tradisi yang berkembang dalam kebudayaan Islam dengan menempatkan posisinya sebagai penganut Islam Refusenik. Kata-kata refusenik sendiri, menurut Irhsad Manji, diambil dari sekumpulan karya kalangan terdidik Yahudi yang bersikap kritis dan menolak pandangan-pandangan baku dan tradisi lama dalam komunitas relijius Yahudi. Bagi Manji, sudah saatnya ummat Islam melakukan reformasi intelektual dan melakukan kritik internal terhadap peradaban mereka.
Namun demikian, apakah Manji benar-benar menjadi penganut Islam refusenik dan memahami bagaimana langkah dan pikiran kaum Yahudi refusenik dalam membongkar kesadaran komunitas mereka?
Menurut Justin Podur (2003) dalam majalah Znet, ketika mereview karya Manji, Manji ternyata tidak memahami bahwa adalah kaum Yahudi refusenik, yang pada era perang Arab-Israel, menjadi kaum yang menyeru kepada pemerintah Zionis untuk menarik tentaranya dari tanah negara-negara Arab yang diinvasi pada tahun 1967. Tidak itu saja, mereka juga menolak ikut serta dalam wajib militer (wamil) untuk menyerang warga Arab di tanah pendudukan atas nama nilai-nilai kemanusiaan. Mereka dengan teguh, sampai dipenjara, memperjuangkan pikiran dan sikap politik mereka. Pada saat ini, kaum Yahudi refusenik telah bertransformasi dan di kalangan intelektual Yahudi memunculkan mazhab sejarah baru (new historian jewish) seperti Thomas Baylis, sarjana Yahudi lulusan Yeshima University, yang pada 2009 menulis The Dark Side of Zionism: Israel’s Quest for Security through Dominance. Di buku ini, Baylish memberikan pengakuan getir, bahwa sebagai seorang Yahudi adalah kenyataan pahit untuk menuliskan betapa eksistensi dan keberadaan negara Israel lahir dari penindasan, eksploitasi, dan penghancuran atas bangsa lainnya.
Setelah membaca sekilas tentang identitas sejarah kaum Yahudi refusenik, mari kita melihat posisi Irshad Manji.
Dalam karyanya The Trouble With Islam, Manji menyerukan suara reformasi Islam-nya dan surat terbuka kepada ummat Islam dan non-muslim. Ia memulainya dengan memberikan pertanyaan retoris, ‘mengapa kita harus selalu berhenti pada diskusi tentang Israel dan Palestina, mengapa secara keras kepala kita menyerukan semangat Anti-Semit, siapakah imperialis tulen Arab atau Amerika, mengapa kita ummat Islam selalu menempatkan kaum perempuan sebagai warga kelas dua yang memiliki setengah kesadaran intelektual sebagai manusia?’ Dari pembacaan atas retorika Manji kita dapat menganalisis bahwa reformasi Islam Manji, ia tempatkan pada relasi oposisi biner Islam melawan Barat dan Amerika melawan Islam. Bagi Manji, tidak ada suara alternatif di luar itu semua. Berbeda dengan kaum Yahudi refusenik, yang secara jujur menolak tindakan kekerasan dan imperialisme yang dilakukan kaum Zionis, Irshad Manji dalam atribut-atributnya sebagai reformis Islam, justru meniadakan kenyataan faktual pendudukan Zionisme atas Palestina.
Terkait dengan penjajahan yang dialami bangsa Palestina, baik warga Muslim maupun Kristen di sana, maka bagi Manji yang kerapkali datang ke Israel, dengan bangganya mengutarkan bahwa dirinya tidak seperti kaum penyelundup yang tidak memiliki hak-hak apa-apa. Di negeri Israel, ia merasa seperti di rumah sendiri dan bertemu dengan keluarga mereka sendiri. Ia merasakan betapa kebebasan berpendapat begitu dihargai di Israel, dimana para intelektual memperdebatkan isu-isu publik yang kontroversial secara terbuka di koran-koran.
Posisi Manji ini sungguh aneh bagi saya. Sebagai seorang reformer Islam, yang menyebut dirinya sebagai Islam refusenik, sepertinya Manji menempatkan konflik Israel-Palestina dalam kacamata keagamaan yang harus ia reformasi. Dan dengan itu ia mengingkari prinsip-prinsip kemerdekaan dalam humanisme universal untuk menolak penjajahan di atas dunia. Hal ini membuatnya tidak bersimpati atas penindasan warga Muslim dan Kristen Palestina di dalamnya. Di sini, Irshad Manji gagal melihat persoalan Palestina dalam kacamata problem profan duniawi, yakni sebagai problem penjajahan satu bangsa atas bangsa lainnya. Radar sekularisme Irshad Manji gagal menangkap problem sekular imperialisme Zionis Israel atas Palestina, sebagai problem kemanusiaan bersama.
Bagaimana perspektif Irshad Manji tentang persoalan-persoalan lain di dunia Islam? Podur dalam review atas karya Manji, membawa kita pada website tentang penderitaan perempuan-perempuan Afghanistan dalam cengkeraman kekuasaan tirani yang didukung Uni Sovyet, dan cengkeraman Taliban yang sebelumnya didukung Amerika Serikat. Irshad Manji menampilkan foto-foto tentang perempuan bercadar yang menutup seluruh tubuhnya, kecuali wajahnya. Bagi Manji potret tersebut adalah ikon perempuan sebagai korban tradisi patriarkhi yang sangat kuat berakar dalam Islam (memang kemudian Manji membedakan antara tradisi Islam dan tradisi Arab komunal yang kemudian ditransmisikan menjadi tradisi Islam). Tetapi, Manji sepenuhnya melupakan keberadaan sekelompok lapisan perempuan terdidik yang terhimpun dalam Revolutionary Association of Woman Afghanistan (RAWA), yang meneriakkan suara pembebasan perempuan dengan mengajarkan membaca kepada komunitas perempuan, anak-anak, dan warga Afghanistan, mengajarkan kultur kritis dan bersuara tidak terhadap penindasan.
Mengapa Manji luput mengekpos gerak dan aktivitas mereka? Apakah ini semata-mata akibat ketidakpahaman Manji terhadap situasi di Afghanistan? Jawabannya, karena gerakan RAWA tidak saja menolak Taliban tapi juga mengecam keras pemboman Amerika Serikat, maupun dominasi imperium untuk menjarah kekayaan alam di Afghanistan, sebagai praktek-praktek eksploitasi dan penindasan yang tak kalah bengisnya dengan yang dilakukan oleh rezim Taliban. Sementara, posisi Irshad Manji dalam karyanya, justru memberikan dukungan kepada invasi Amerika, karena dianggapnya invasi tersebut telah membebaskan rakyat Afghanistan dari tindasan rezim Taliban yang reaksioner. Pada sisi ini suara reformasi Irshad Manji, adalah manifestasi rasa terima kasih dan stempel bagi langkah-langkah global dari imperium dunia.
Analisis Irshad Manji yang secara tergopoh-gopoh melakukan kritik terhadap tradisi Islam dan berdiri kagum memandang gemerlap Liberty, menara Eiffel Amerika, bukanlah suara pembebasan multikulturalisme demokratik. Suara Manji, bagi saya, adalah suara yang mengamini basis pengandaian dari tesis The Clash of Civilization Samuel Huntington, yang meyakini bahwa peradaban Islam adalah musuh dari peradaban modern Barat, dan komunitas Islam membutuhkan kekuatan Barat untuk melepaskan diri dari penjara kulturalnya. Suara Irshad Manji adalah suara kaum Neo-Conservatif seperti George W Bush dan sekutunya, yang percaya dengan invasi dan peperangan mereka memiliki misi suci untuk membawa kebebasan bagi dunia Islam. Suara-suara seperti ini tidak memiliki sensitivitas terhadap pergolakan internal di kalangan kaum terpinggirkan yang berjuang, tidak saja melawan tirani feodalisme dan kediktatoran militer, namun juga menghadang penetrasi kekuatan transnasional untuk menghisap bumi, air dan kekayaan alam di negeri-negeri mereka sendiri.
Dalam konteks seperti ini, menempatkan Irshad Manji dalam posisi intelektual Islam reformis, sungguh salah kaprah. Manji tidak berada pada barisan reformer Islam seperti Nawal el-Saadawi, Jamaluddin Al-Afghani, Ali Shariati, maupun pejuang Nasrani Arab yang konsisten menyerukan suara pembebasan, seperti Edward W. Said. Irshad Manji adalah penguat dan amplifier dari suara imperium yang menyebar di dunia Islam.
Namun demikian, dengan segala kritisisme ini, saya membela hak Manji untuk berbicara dalam ruang publik Islam, sekaligus menentang tindakan fasis seperti yang diperagakan FPI. Di atas meja intelektual itulah kita bisa mengritik dan menunjukkan kelemahan teoritis, serta posisi politiknya yang bias kepentingan imperialisme.***
Funeral Organizer
Abdul Mu’ti; Sekretaris PP Muhammadiyah Dosen IAIN Walisongo, Semarang
SUMBER : SINDO, 05 Mei 2012
Istilah funeral organizer mungkin terdengar asing bagi sebagian pembaca. Yang sudah sangat lazim adalah event organizer. Masyarakat kota—bahkan di desa sekalipun— meminta jasa untuk acara pernikahan, pertunangan, ulang tahun, seminar, dan event kebahagiaan lainnya.
Alasan utama pengguna jasa event organizer adalah praktis, hemat energi dan tidak “merepotkan” handai tolan. Biaya yang dikeluarkan mungkin saja lebih murah. Funeral organizer berarti penyelenggara pemakaman. Sebagaimana event organizer lainnya, funeral organizer menyediakan jasa yang berhubungan dengan tetek-bengek acara pemakaman. Jasa-jasa yang disediakan antara lain rias jenazah, peribadatan, pelayat (takziah), penyiapan dan prosesi pemakaman.
Pihak funeral organizer menyediakan jasa “pengerahan massa” pelayat. Jumlah dan tingkat “kesedihan” pelayat dapat dipesan sesuai dengan tarif. Semakin banyak jumlah pelayat dan tingkat “duka cita” berkorelasi dengan harga. Semakin banyak massa dan tingkat tangisannya, semakin mahal bayarannya. Fenomena ini memperkuat pameo: maju tak gentar membela yang bayar. Jika dalam dunia politik terkenal massa dan suara bayaran, maka dalam upacara kematian terdapat pelayat bayaran.
Sesungguhnya, fenomena ini bukan hal yang baru. Mungkin saja sudah dapat disebut tradisi. Masyarakat muslim tertentu memiliki tradisi membagi-bagi “uang wajib” yang diberikan kepada mereka yang turut mensalatkan jenazah. Jumlahnya tergantung tingkat ekonomi keluarga. Entah apa maksud dan tujuannya. Yang jelas, tradisi ini telah membuat ashab al-musibah menanggung beban spiritual, sosial dan ekonomi yang berlipat ganda terutama bagi keluarga miskin.
Selain pelayat bayaran juga terdapat fenomena pendoa bayaran. Pihak keluarga—biasanya yang ekonominya mampu— mendatangkan pendoa dari pesantren, majelis taklim, dan lembaga keagamaan lain. Keluarga terkemuka akan mengundang pendoa kondang dan santri pondok terkenal untuk mendoakan keluarga dan jenazah. Mereka berkeyakinan, doa orang saleh akan lebih terkabul. Tentu tidak ada tarif harga. Yang ada adalah jer basuki mawa bea, atau transpor seikhlasnya.
Semakin terpandang suatu keluarga, semakin banyak pendoanya. Sebagian pelayat dan pendoa melaksanakannya secara murni karena Allah. Sebagian lainnya, melayat lebih karena komitmen politik dan “setor muka”. Karena itu, tidak jarang, upacara kematian berubah menjadi “funeral party” (pesta kematian) layaknya “wedding party” (pesta pernikahan). Makanan lezat melimpah, karangan bunga meruah. Funeral organizer adalah bentuk “modern” dari tradisi pelayat dan pendoa bayaran. Perbedaannya, funeral organizer bersifat legal, formal, dan profesional. Pelayat dan pendoa bayaran bersifat tradisional dan suka rela.
Fenomena sosial ini memperkuat realitas kesenjangan sosial dan spiritual. Masyarakat miskin akan menanggung kesusahan semasa hidup dan ketika mati. Kaum miskin yang mati kesulitan menanggung biaya pemakaman dan mendapatkan lahan pemakaman. Mereka juga miskin pelayat dan pendoa terkemuka. Yang melayat dan mendoakan adalah ulama desa dan sesama orang miskin yang berdoa ala kadarnya. Orang kaya akan mampu membayar funeral organizer dan lahan permakaman luas dan makam yang mewah dan megah.
Di negeri ini kita tidak hanya menyaksikan kesenjangan hidup tetapi juga kesenjangan kematian. Orang kaya sudah memiliki lahan permakaman, tetapi tidak siap dengan kematian. Orang miskin, tidak tahu akan dimakamkan di mana, tetapi hidup mereka sangat dekat dan rentan dengan kematian. Demikianlah, masyarakat kita sudah berubah. Masyarakat paguyuban yang ditandai oleh kebersamaan, tolong menolong dan “suka direpotkan” secara perlahan mulai tersimpan di museum.
Kekerabatan dan keakraban sosial antarwarga semakin lemah tergerus oleh kesibukan kerja dan bisnis duniawi lain. Rumah keluarga kian kecil. Hal ini selain pertanda mahalnya harga tanah dan rumah juga perubahan sistem kekeluargaan extended family ke arah nuclear family. Keterikatan kemasyarakatan dan kemanusiaan terlihat memudar. Masyarakat hidup nafsi-nafsi; serba menyendiri. Senang sendiri, susah pun sendiri. Kurangnya empati dan simpati membuat masyarakat tidak terlalu terpanggil untuk turut merasakan suka dan duka.
Di tengah perubahan sosial itulah berbagai jasa organizer berkembang. Selain memanfaatkan peluang bisnis, juga mengisi kekosongan fitrah manusia yang tidak tergantikan oleh materi. Sesuai fitrahnya, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan kehadiran dan perhatian sesamanya. Karena itu, diperlukan rekayasa dan gerakan sosial untuk memperkuat ikatan kewargaan dan kemanusiaan masyarakat.
Diperlukan berbagai sarana sosial yang memungkinkan masyarakat saling bertemu dan berinteraksi langsung. Selama ini interaksi personal di antara warga masyarakat jauh berkurang. Forum-forum kewargaan seperti RT dan RW lebih banyak memerankan fungsi administratif pemerintahan ketimbang sarana membangun kohesivitas sosial. Ruang publik seperti balai warga nyaris tidak ada.
Lembaga-lembaga keagamaan seperti masjid, musala dan majelis taklim lebih mementingkan kegiatan spiritual-ibadah. Fungsi sosial-kebudayaan masjid nyaris lumpuh. Yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana pemerintah menyediakan pelayanan kematian bagi warga negara. Selama ini pelayanan kematian seakan diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat, khususnya lembaga-lembaga keagamaan.
Pelayanan kematian bukanlah domain keagamaan semata, melainkan domain politik-pemerintahan. Bagaimana pemerintah menyediakan lahan pemahaman bagi masyarakat. Selama ini banyak pengembang perumahan dan pemukiman baru yang tidak menyediakan fasilitas umum, khususnya makam. Ketegangan antara warga “asli” dengan pendatang di perumahan sebagian disebabkan oleh faktor ini.
Karena itu, pemerintah perlu mempersyaratkan ketersediaan fasilitas pemakaman sebagai salah satu syarat pemberian izin. Masyarakat kaya mampu membayar jasa funeral organizer untuk pemakaman keluarganya. Kewajiban pemerintah untuk menyediakan pelayanan funeral organizer bagi masyarakat, khususnya masyarakat miskin.
Pemerintah tidak boleh menyerahkan hal ini kepada proses alamiah masyarakat. Jika hal ini dibiarkan, negara kita tidak hanya mengalami masalah kehidupan, tetapi juga masalah kematian. ●
SUMBER : SINDO, 05 Mei 2012
Istilah funeral organizer mungkin terdengar asing bagi sebagian pembaca. Yang sudah sangat lazim adalah event organizer. Masyarakat kota—bahkan di desa sekalipun— meminta jasa untuk acara pernikahan, pertunangan, ulang tahun, seminar, dan event kebahagiaan lainnya.
Alasan utama pengguna jasa event organizer adalah praktis, hemat energi dan tidak “merepotkan” handai tolan. Biaya yang dikeluarkan mungkin saja lebih murah. Funeral organizer berarti penyelenggara pemakaman. Sebagaimana event organizer lainnya, funeral organizer menyediakan jasa yang berhubungan dengan tetek-bengek acara pemakaman. Jasa-jasa yang disediakan antara lain rias jenazah, peribadatan, pelayat (takziah), penyiapan dan prosesi pemakaman.
Pihak funeral organizer menyediakan jasa “pengerahan massa” pelayat. Jumlah dan tingkat “kesedihan” pelayat dapat dipesan sesuai dengan tarif. Semakin banyak jumlah pelayat dan tingkat “duka cita” berkorelasi dengan harga. Semakin banyak massa dan tingkat tangisannya, semakin mahal bayarannya. Fenomena ini memperkuat pameo: maju tak gentar membela yang bayar. Jika dalam dunia politik terkenal massa dan suara bayaran, maka dalam upacara kematian terdapat pelayat bayaran.
Sesungguhnya, fenomena ini bukan hal yang baru. Mungkin saja sudah dapat disebut tradisi. Masyarakat muslim tertentu memiliki tradisi membagi-bagi “uang wajib” yang diberikan kepada mereka yang turut mensalatkan jenazah. Jumlahnya tergantung tingkat ekonomi keluarga. Entah apa maksud dan tujuannya. Yang jelas, tradisi ini telah membuat ashab al-musibah menanggung beban spiritual, sosial dan ekonomi yang berlipat ganda terutama bagi keluarga miskin.
Selain pelayat bayaran juga terdapat fenomena pendoa bayaran. Pihak keluarga—biasanya yang ekonominya mampu— mendatangkan pendoa dari pesantren, majelis taklim, dan lembaga keagamaan lain. Keluarga terkemuka akan mengundang pendoa kondang dan santri pondok terkenal untuk mendoakan keluarga dan jenazah. Mereka berkeyakinan, doa orang saleh akan lebih terkabul. Tentu tidak ada tarif harga. Yang ada adalah jer basuki mawa bea, atau transpor seikhlasnya.
Semakin terpandang suatu keluarga, semakin banyak pendoanya. Sebagian pelayat dan pendoa melaksanakannya secara murni karena Allah. Sebagian lainnya, melayat lebih karena komitmen politik dan “setor muka”. Karena itu, tidak jarang, upacara kematian berubah menjadi “funeral party” (pesta kematian) layaknya “wedding party” (pesta pernikahan). Makanan lezat melimpah, karangan bunga meruah. Funeral organizer adalah bentuk “modern” dari tradisi pelayat dan pendoa bayaran. Perbedaannya, funeral organizer bersifat legal, formal, dan profesional. Pelayat dan pendoa bayaran bersifat tradisional dan suka rela.
Fenomena sosial ini memperkuat realitas kesenjangan sosial dan spiritual. Masyarakat miskin akan menanggung kesusahan semasa hidup dan ketika mati. Kaum miskin yang mati kesulitan menanggung biaya pemakaman dan mendapatkan lahan pemakaman. Mereka juga miskin pelayat dan pendoa terkemuka. Yang melayat dan mendoakan adalah ulama desa dan sesama orang miskin yang berdoa ala kadarnya. Orang kaya akan mampu membayar funeral organizer dan lahan permakaman luas dan makam yang mewah dan megah.
Di negeri ini kita tidak hanya menyaksikan kesenjangan hidup tetapi juga kesenjangan kematian. Orang kaya sudah memiliki lahan permakaman, tetapi tidak siap dengan kematian. Orang miskin, tidak tahu akan dimakamkan di mana, tetapi hidup mereka sangat dekat dan rentan dengan kematian. Demikianlah, masyarakat kita sudah berubah. Masyarakat paguyuban yang ditandai oleh kebersamaan, tolong menolong dan “suka direpotkan” secara perlahan mulai tersimpan di museum.
Kekerabatan dan keakraban sosial antarwarga semakin lemah tergerus oleh kesibukan kerja dan bisnis duniawi lain. Rumah keluarga kian kecil. Hal ini selain pertanda mahalnya harga tanah dan rumah juga perubahan sistem kekeluargaan extended family ke arah nuclear family. Keterikatan kemasyarakatan dan kemanusiaan terlihat memudar. Masyarakat hidup nafsi-nafsi; serba menyendiri. Senang sendiri, susah pun sendiri. Kurangnya empati dan simpati membuat masyarakat tidak terlalu terpanggil untuk turut merasakan suka dan duka.
Di tengah perubahan sosial itulah berbagai jasa organizer berkembang. Selain memanfaatkan peluang bisnis, juga mengisi kekosongan fitrah manusia yang tidak tergantikan oleh materi. Sesuai fitrahnya, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan kehadiran dan perhatian sesamanya. Karena itu, diperlukan rekayasa dan gerakan sosial untuk memperkuat ikatan kewargaan dan kemanusiaan masyarakat.
Diperlukan berbagai sarana sosial yang memungkinkan masyarakat saling bertemu dan berinteraksi langsung. Selama ini interaksi personal di antara warga masyarakat jauh berkurang. Forum-forum kewargaan seperti RT dan RW lebih banyak memerankan fungsi administratif pemerintahan ketimbang sarana membangun kohesivitas sosial. Ruang publik seperti balai warga nyaris tidak ada.
Lembaga-lembaga keagamaan seperti masjid, musala dan majelis taklim lebih mementingkan kegiatan spiritual-ibadah. Fungsi sosial-kebudayaan masjid nyaris lumpuh. Yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana pemerintah menyediakan pelayanan kematian bagi warga negara. Selama ini pelayanan kematian seakan diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat, khususnya lembaga-lembaga keagamaan.
Pelayanan kematian bukanlah domain keagamaan semata, melainkan domain politik-pemerintahan. Bagaimana pemerintah menyediakan lahan pemahaman bagi masyarakat. Selama ini banyak pengembang perumahan dan pemukiman baru yang tidak menyediakan fasilitas umum, khususnya makam. Ketegangan antara warga “asli” dengan pendatang di perumahan sebagian disebabkan oleh faktor ini.
Karena itu, pemerintah perlu mempersyaratkan ketersediaan fasilitas pemakaman sebagai salah satu syarat pemberian izin. Masyarakat kaya mampu membayar jasa funeral organizer untuk pemakaman keluarganya. Kewajiban pemerintah untuk menyediakan pelayanan funeral organizer bagi masyarakat, khususnya masyarakat miskin.
Pemerintah tidak boleh menyerahkan hal ini kepada proses alamiah masyarakat. Jika hal ini dibiarkan, negara kita tidak hanya mengalami masalah kehidupan, tetapi juga masalah kematian. ●
Thursday, May 3, 2012
‘Apa Salah Kami?’
Fahri Salam, Penulis Lepas
CISALADA sebuah perkampungan tipikal provinsi Jawa Barat. Ia dikelilingi sawah dan kebun, sekira 20 kilometer dari kota Bogor. Warga bekerja petani, sebagian pensiunan. Kehidupan berjalan tenang dan lambat. Menjelang sore, anak-anak bermain di lapangan bulutangkis, sebelah madrasah, dan bersama orangtua menuju masjid guna ibadah maghrib. Suasana terlihat normal, sampai kemudian, di tengah meningkatnya kekerasan minoritas agama, warga Cisalada berselimut ketakutan dalam arus kebencian anti-Ahmadiyah saat penyerangan awal Oktober 2010.
Para penyerang dari dua kampung tetangga, tak lebih 500 meter. Mulanya 30-an remaja, usia 14-17 tahun, berusaha membakar masjid tapi segera dihentikan warga Cisalada. Lantas, disulut isu membela diri atau sudah dirancang sebelumnya, 300-an orang dewasa berdatangan dan menjadikan Cisalada panggung parade kebencian.
Mereka melempar batu dan bom molotov. Mereka membakar sebagian rumah dan bangunan masjid, isi rumah dijarah, kaca jendela pecah, pintu dirusak. Sekira 50 Al-quran dilalap api. Madrasah dibakar. Mereka teriak: “Podaran!” “Ahmadiyah anjing!” seraya takbir—di sisi serupa warga Cisalada mengucapkan “Astaghfirullah” sembari sembunyi di kebun belakang rumah atau lari ke sawah. Pada akhirnya, polisi dari kantor terdekat, sekira 20 menit dari lokasi kejadian, datang dua jam kemudian. Itu sangat terlambat. Alasan polisi: jalan diblokade. Hingga tengah malam api masih berkobar sejak prakarsa serangan dimulai pukul 19:00. Saat bersamaan pula saluran air dari sumber telaga dimatikan lebih dulu.
Ini hempasan balik relasi sosial yang hancur berantakan seketika. Warga Cisalada sulit percaya. Mereka terus mengatakan, “Apa salah kami?” dan menambahkan, “Sebelumnya hubungan kami baik-baik saja.” Kekerasan kian menjadi-jadi ketika presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengizinkan menteri agama, menteri dalam negeri dan jaksa agung, meneken surat keputusan bersama anti-Ahmadiyah 2008. Alih-alih mengurangi kekerasan, surat keputusan pelarangan itu justru mendorong intensitas persekusi terhadap muslim Ahmadiyah.
Sejak beleid itu diterbitkan, dokumentasi Setara Institute, lembaga nonpemerintah yang mengkaji kebebasan beragama, menulis jumlah kekerasan terhadap Ahmadiyah melonjak 286 kasus dalam kurun 2007 hingga Agustus 2010. Ini ditopang lemahnya penegakan hukum di Indonesia yang koruptif. Para pengikut Islam garis keras, benih yang ditanam tahun 1970-an, mengonsolidasikan diri lewat mobilisasi vertikal dalam saluran mesin birokrasi dan lembaga legislatif. Momentumnya sangat tepat di era transisi yang gampang goyah, bahkan sesudah 13 tahun euforia jatuhnya pemerintahan militer Soeharto pada 1998. Muslim Ahmadiyah Indonesia menjadi sasaran yang seakan mudah dibidik.
Sikap pemerintahan Yudhoyono, yang memberi ruang lebih besar bagi ekspresi politik intoleran, telah membawa kehancuran permanen mitos “Indonesia negara muslim terbesar yang demokratis.” Kenyataan bahwa presiden “membuka pintu hati, pikiran kami,” untuk menampung “pandangan, rekomendasi dan fatwa” dari MUI, sembilan bulan setelah dia dilantik, menjelaskan arah kebebasan beragama di negara ini. Terkesan tanpa memerhitungkan implikasi dari sikap tersebut, kita menyaksikan kekerasan demi kekekerasan terhadap minortas agama bersama pelanggaran hak sipil dan politik yang lain.
Mari melihat dari jarak terdekat. Sekira 300 muslim Ahmadiyah di Lombok, terpaksa mengungsi sejak gelombang pengusiran 10 tahun terakhir. Sekira 36 kepala keluarga mengungsi di Transito, sebuah bangunan pemerintah di Mataram. Mereka hidup sebagai internally displaced persons. Anak-anak terpaksa terhenti kegiatan sekolahnya, sebagian ditampung orangtua asuh di Jawa Barat, betapapun ejekan dan kecemasan terus menguntit. Ironisnya, Jawa Barat, yang memiliki sejarah gerakan negara Islam, adalah wilayah dengan jumlah pelanggaran tertinggi untuk kasus intoleransi kebebasan beragama. Tak satu pun para pelaku serangan di Lombok dihukum serius.
Pola itu terus berulang. Massa yang jauh lebih besar dihasut lewat seni menebar kebencian. Ia juga digerakkan organisasi Islam berpandangan Wahhabisme, yang memobilisasi penyerangan kantung-kantung komunitas muslim Ahmadiyah. Kebencian terhadap Ahmadiyah meluas sekaligus menajam. Di bawah payung fatwa “sesat” Majelis Ulama Indonesia pada 2005, sebuah lembaga semipemerintah, plus SKB anti-Ahmadiyah, mereka bertindak dalam semangat kebal hukum.
Dari setiap peristiwa persekusi itu aparat kepolisian melakukan pembiaran, bahkan lebih sering meminta komunitas Ahmadiyah untuk mengungsi; bukan mengusir para penyerang. Namun polisi menolak anggapan tak bekerja serius. Itu terjadi pada 2005, sewaktu penyerangan di Parung, pusat kegiatan Ahmadiyah, hingga serangan dua jam di Cisalada. Tak sedikit kasus yang melibatkan pejabat lokal.
Negara abai melindungi muslim Ahmadiyah selain mengukum para pelaku kekerasan. Sebuah gelembung anti-Ahmadiyah kian membesar. Dampak seterusnya ialah pembunuhan terhadap tiga Ahmadi—sebutan muslim Ahmadiyah—di Cikeusik pada 6 Februari 2011. Ia adalah bom waktu.
Itu siklus kekerasan yang jauh lebih mematikan. Para penyerang, berjumlah 1,500-an, datang bergelombang dari dua arah. Melihat sasaran rumah yang semula “dikosongkan” tapi kemudian berisi 20-an pemuda Ahmadi, lantas melakukan pembelaan diri, mereka mengobarkan balasan serangan lebih massif. Selain tiga korban tewas, lima orang terluka, sebuah rumah dihancurkan dan dua mobil dibakar. Seorang warga Cikeusik turut menjadi korban luka. Kini 12 tersangka dari pihak penyerang menjalani proses sidang. Sementara seorang muslim Ahmadiyah ditetapkan tersangka, sinyalemen viktimisasi terhadap korban, pola serupa untuk kasus Cisalada.
Sejak Jemaat Ahmadiyah Indonesia hadir pada 1925 semasa Hindia Belanda hingga kemudian berbadan hukum pada 1953, belum pernah kekerasan itu terjadi “sistematik dan meluas” seperti yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir. Itu indikasi adanya unsur utama “kejahatan terhadap kemanusian,” menurut laporan sementara Komnas HAM 2002-2007. Ia membutuhkan perhatian serius dari sebagian besar masyarat Indonesia, bila tak jatuh dalam situasi lebih menyulitkan seperti Pakistan. Banyak pandangan beranggapan kecenderungan menyeluruh intoleransi kebebasan beragama di Indonesia, kini menuju apa yang dinamakan ‘Pakistanisasi.’ Ada hubungan ideologi yang spesifik dan jelas antara organisasi anti-Ahmadiyah di Indonesia dan Pakistan.
Sekarang “sebatas” peraturan bersama anti-Ahmadiyah, plus sekurangnya 19 peraturan daerah di bawahnya. Lain waktu—jika kita berdiam diri, tak menutup peluang tekanan keyakinan Ahmadiyah “di luar Islam” diakomodasi lewat undang-undang. Sementara pesan itu telah mengisi mimbar kebencian anti-Ahmadiyah, dalam batas tertentu media-media turut mengobarkannya.
Ada sedikit informasi proporsional tentang muslim Ahmadiyah. Media mengedepankan “realitas psikologis,” mengutip ujaran memojokkan dari para pejabat dan tokoh radikal Islam terhadap Ahmadiyah, tanpa sikap menapis kesalahan tersebut. Media juga melakukan swasensor dengan menyebut “bentrokan” ketimbang “penyerangan.” Wartawan bersikap bias. Banyak contoh pemberitan tentang muslim Ahmadiyah justru terperangkap dalam strategi sensasional organisasi-organisasi Islam militan.
Kini taruhannya adalah demokrasi itu sendiri. Selagi media-media meliput kejadian besar tentang pembunuhan di Cikeusik, berselang dua hingga tiga minggu yang lekas ditinggalkan, kasus serangan di Cisalada belum sepenuhnya surut. Polisi menahan tiga tersangka dari pihak penyerang. Mereka dikenakan tahanan rumah dan, pada vonis persidangan di pengadilan negeri Cibinong, mereka dihukum ringan 4-6 bulan; seketika itu masa hukuman telah selesai. Sementara seorang terdakwa, bernama Nuryamin, harus menjalani tahanan, dua hari setelah serangan. Ia diduga menusuk seorang penyerang, remaja usia 15 tahun. Pada 18 April 2011, hakim memvonis 9 bulan penjara. Jaksa mengajukan banding.
Pada sidang-sidang itu massa pengunjung melewati rumah-rumah Ahmadi di komunitas lebih kecil di sekitar Cisalada. Pada pusaran menentukan, serangan itu menyisir. Hanya satu kilometer dari Cisalada, kampung komunitas kecil Ahmadi itu diserang. Pada 12 Maret ancaman menjalar. Esoknya, pukul 20:30, serangan pertama. Pada 16 Maret, serangan kedua. Akhirnya, melibatkan tokoh kyai berpaham Wahhabi serta tokoh lokal setingkat RT, ancaman lebih serius menguat. Pada 5 April, selagi 5 rumah itu sudah dikosongkan, serangan ketiga terjadi, pukul 23:30. Hingga akhir Mei, saat saya mengunjungi 28 pengungsi, termasuk anak-anak, mereka belum dapat kembali. Tawarannya satu: mereka boleh ke rumah masing-masing asalkan “pindah dari Ahmadiyah.”
Saya bertemu dengan seorang korban serangan tersebut. Ia mengajak saya mendatangi rumahnya pada siang hari. Ada tulisan “Ahmadiyah Anjing” di tembok warung kelontong miliknya. Itu warung menjadi sumber pendapatan keluarga dia. Dia sulit percaya: “Apa salah kami?”***
CISALADA sebuah perkampungan tipikal provinsi Jawa Barat. Ia dikelilingi sawah dan kebun, sekira 20 kilometer dari kota Bogor. Warga bekerja petani, sebagian pensiunan. Kehidupan berjalan tenang dan lambat. Menjelang sore, anak-anak bermain di lapangan bulutangkis, sebelah madrasah, dan bersama orangtua menuju masjid guna ibadah maghrib. Suasana terlihat normal, sampai kemudian, di tengah meningkatnya kekerasan minoritas agama, warga Cisalada berselimut ketakutan dalam arus kebencian anti-Ahmadiyah saat penyerangan awal Oktober 2010.
Para penyerang dari dua kampung tetangga, tak lebih 500 meter. Mulanya 30-an remaja, usia 14-17 tahun, berusaha membakar masjid tapi segera dihentikan warga Cisalada. Lantas, disulut isu membela diri atau sudah dirancang sebelumnya, 300-an orang dewasa berdatangan dan menjadikan Cisalada panggung parade kebencian.
Mereka melempar batu dan bom molotov. Mereka membakar sebagian rumah dan bangunan masjid, isi rumah dijarah, kaca jendela pecah, pintu dirusak. Sekira 50 Al-quran dilalap api. Madrasah dibakar. Mereka teriak: “Podaran!” “Ahmadiyah anjing!” seraya takbir—di sisi serupa warga Cisalada mengucapkan “Astaghfirullah” sembari sembunyi di kebun belakang rumah atau lari ke sawah. Pada akhirnya, polisi dari kantor terdekat, sekira 20 menit dari lokasi kejadian, datang dua jam kemudian. Itu sangat terlambat. Alasan polisi: jalan diblokade. Hingga tengah malam api masih berkobar sejak prakarsa serangan dimulai pukul 19:00. Saat bersamaan pula saluran air dari sumber telaga dimatikan lebih dulu.
Ini hempasan balik relasi sosial yang hancur berantakan seketika. Warga Cisalada sulit percaya. Mereka terus mengatakan, “Apa salah kami?” dan menambahkan, “Sebelumnya hubungan kami baik-baik saja.” Kekerasan kian menjadi-jadi ketika presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengizinkan menteri agama, menteri dalam negeri dan jaksa agung, meneken surat keputusan bersama anti-Ahmadiyah 2008. Alih-alih mengurangi kekerasan, surat keputusan pelarangan itu justru mendorong intensitas persekusi terhadap muslim Ahmadiyah.
Sejak beleid itu diterbitkan, dokumentasi Setara Institute, lembaga nonpemerintah yang mengkaji kebebasan beragama, menulis jumlah kekerasan terhadap Ahmadiyah melonjak 286 kasus dalam kurun 2007 hingga Agustus 2010. Ini ditopang lemahnya penegakan hukum di Indonesia yang koruptif. Para pengikut Islam garis keras, benih yang ditanam tahun 1970-an, mengonsolidasikan diri lewat mobilisasi vertikal dalam saluran mesin birokrasi dan lembaga legislatif. Momentumnya sangat tepat di era transisi yang gampang goyah, bahkan sesudah 13 tahun euforia jatuhnya pemerintahan militer Soeharto pada 1998. Muslim Ahmadiyah Indonesia menjadi sasaran yang seakan mudah dibidik.
Sikap pemerintahan Yudhoyono, yang memberi ruang lebih besar bagi ekspresi politik intoleran, telah membawa kehancuran permanen mitos “Indonesia negara muslim terbesar yang demokratis.” Kenyataan bahwa presiden “membuka pintu hati, pikiran kami,” untuk menampung “pandangan, rekomendasi dan fatwa” dari MUI, sembilan bulan setelah dia dilantik, menjelaskan arah kebebasan beragama di negara ini. Terkesan tanpa memerhitungkan implikasi dari sikap tersebut, kita menyaksikan kekerasan demi kekekerasan terhadap minortas agama bersama pelanggaran hak sipil dan politik yang lain.
Mari melihat dari jarak terdekat. Sekira 300 muslim Ahmadiyah di Lombok, terpaksa mengungsi sejak gelombang pengusiran 10 tahun terakhir. Sekira 36 kepala keluarga mengungsi di Transito, sebuah bangunan pemerintah di Mataram. Mereka hidup sebagai internally displaced persons. Anak-anak terpaksa terhenti kegiatan sekolahnya, sebagian ditampung orangtua asuh di Jawa Barat, betapapun ejekan dan kecemasan terus menguntit. Ironisnya, Jawa Barat, yang memiliki sejarah gerakan negara Islam, adalah wilayah dengan jumlah pelanggaran tertinggi untuk kasus intoleransi kebebasan beragama. Tak satu pun para pelaku serangan di Lombok dihukum serius.
Pola itu terus berulang. Massa yang jauh lebih besar dihasut lewat seni menebar kebencian. Ia juga digerakkan organisasi Islam berpandangan Wahhabisme, yang memobilisasi penyerangan kantung-kantung komunitas muslim Ahmadiyah. Kebencian terhadap Ahmadiyah meluas sekaligus menajam. Di bawah payung fatwa “sesat” Majelis Ulama Indonesia pada 2005, sebuah lembaga semipemerintah, plus SKB anti-Ahmadiyah, mereka bertindak dalam semangat kebal hukum.
Dari setiap peristiwa persekusi itu aparat kepolisian melakukan pembiaran, bahkan lebih sering meminta komunitas Ahmadiyah untuk mengungsi; bukan mengusir para penyerang. Namun polisi menolak anggapan tak bekerja serius. Itu terjadi pada 2005, sewaktu penyerangan di Parung, pusat kegiatan Ahmadiyah, hingga serangan dua jam di Cisalada. Tak sedikit kasus yang melibatkan pejabat lokal.
Negara abai melindungi muslim Ahmadiyah selain mengukum para pelaku kekerasan. Sebuah gelembung anti-Ahmadiyah kian membesar. Dampak seterusnya ialah pembunuhan terhadap tiga Ahmadi—sebutan muslim Ahmadiyah—di Cikeusik pada 6 Februari 2011. Ia adalah bom waktu.
Itu siklus kekerasan yang jauh lebih mematikan. Para penyerang, berjumlah 1,500-an, datang bergelombang dari dua arah. Melihat sasaran rumah yang semula “dikosongkan” tapi kemudian berisi 20-an pemuda Ahmadi, lantas melakukan pembelaan diri, mereka mengobarkan balasan serangan lebih massif. Selain tiga korban tewas, lima orang terluka, sebuah rumah dihancurkan dan dua mobil dibakar. Seorang warga Cikeusik turut menjadi korban luka. Kini 12 tersangka dari pihak penyerang menjalani proses sidang. Sementara seorang muslim Ahmadiyah ditetapkan tersangka, sinyalemen viktimisasi terhadap korban, pola serupa untuk kasus Cisalada.
Sejak Jemaat Ahmadiyah Indonesia hadir pada 1925 semasa Hindia Belanda hingga kemudian berbadan hukum pada 1953, belum pernah kekerasan itu terjadi “sistematik dan meluas” seperti yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir. Itu indikasi adanya unsur utama “kejahatan terhadap kemanusian,” menurut laporan sementara Komnas HAM 2002-2007. Ia membutuhkan perhatian serius dari sebagian besar masyarat Indonesia, bila tak jatuh dalam situasi lebih menyulitkan seperti Pakistan. Banyak pandangan beranggapan kecenderungan menyeluruh intoleransi kebebasan beragama di Indonesia, kini menuju apa yang dinamakan ‘Pakistanisasi.’ Ada hubungan ideologi yang spesifik dan jelas antara organisasi anti-Ahmadiyah di Indonesia dan Pakistan.
Sekarang “sebatas” peraturan bersama anti-Ahmadiyah, plus sekurangnya 19 peraturan daerah di bawahnya. Lain waktu—jika kita berdiam diri, tak menutup peluang tekanan keyakinan Ahmadiyah “di luar Islam” diakomodasi lewat undang-undang. Sementara pesan itu telah mengisi mimbar kebencian anti-Ahmadiyah, dalam batas tertentu media-media turut mengobarkannya.
Ada sedikit informasi proporsional tentang muslim Ahmadiyah. Media mengedepankan “realitas psikologis,” mengutip ujaran memojokkan dari para pejabat dan tokoh radikal Islam terhadap Ahmadiyah, tanpa sikap menapis kesalahan tersebut. Media juga melakukan swasensor dengan menyebut “bentrokan” ketimbang “penyerangan.” Wartawan bersikap bias. Banyak contoh pemberitan tentang muslim Ahmadiyah justru terperangkap dalam strategi sensasional organisasi-organisasi Islam militan.
Kini taruhannya adalah demokrasi itu sendiri. Selagi media-media meliput kejadian besar tentang pembunuhan di Cikeusik, berselang dua hingga tiga minggu yang lekas ditinggalkan, kasus serangan di Cisalada belum sepenuhnya surut. Polisi menahan tiga tersangka dari pihak penyerang. Mereka dikenakan tahanan rumah dan, pada vonis persidangan di pengadilan negeri Cibinong, mereka dihukum ringan 4-6 bulan; seketika itu masa hukuman telah selesai. Sementara seorang terdakwa, bernama Nuryamin, harus menjalani tahanan, dua hari setelah serangan. Ia diduga menusuk seorang penyerang, remaja usia 15 tahun. Pada 18 April 2011, hakim memvonis 9 bulan penjara. Jaksa mengajukan banding.
Pada sidang-sidang itu massa pengunjung melewati rumah-rumah Ahmadi di komunitas lebih kecil di sekitar Cisalada. Pada pusaran menentukan, serangan itu menyisir. Hanya satu kilometer dari Cisalada, kampung komunitas kecil Ahmadi itu diserang. Pada 12 Maret ancaman menjalar. Esoknya, pukul 20:30, serangan pertama. Pada 16 Maret, serangan kedua. Akhirnya, melibatkan tokoh kyai berpaham Wahhabi serta tokoh lokal setingkat RT, ancaman lebih serius menguat. Pada 5 April, selagi 5 rumah itu sudah dikosongkan, serangan ketiga terjadi, pukul 23:30. Hingga akhir Mei, saat saya mengunjungi 28 pengungsi, termasuk anak-anak, mereka belum dapat kembali. Tawarannya satu: mereka boleh ke rumah masing-masing asalkan “pindah dari Ahmadiyah.”
Saya bertemu dengan seorang korban serangan tersebut. Ia mengajak saya mendatangi rumahnya pada siang hari. Ada tulisan “Ahmadiyah Anjing” di tembok warung kelontong miliknya. Itu warung menjadi sumber pendapatan keluarga dia. Dia sulit percaya: “Apa salah kami?”***
Subscribe to:
Posts (Atom)