Thursday, February 26, 2015

Kisah Tentang Ibu, Malaikat Pelindung dan Dua Bulan Makan Pangsit Mie


Ini Bukan Epik atau kisah heroik. Ini hanya kisah anak desa dan ibunya.

Tiap orang tidak lahir dari batu akik atau pohon bambu. Pasti ada ibu yang melahirkan kita. Silahkan menilai macam-macam, namun entahlah tiap dengar lagu apapun yang berisi tentang kasih ibu, seperti  "Mama's Coat" oleh George  Baker Selection,  kelopak mataku pasti akan  basah, terkenang akan simbok atau ibuku almarhumah  yang berjuang membesarkan 9 anaknya, termasuk aku, sepeninggal ayah pada 18 Februari  1982.Sehari setelah Hari Ibu,  23 Desember 1991, jenasahnya kupangku saat dimandikan, diiringi air hujan dan kesedihan yang menikam ulu hatiku.Ketika mengangkat jenasahnya saat diantar ke pemakanan desa, jiwaku juga serasa melayang. Kini setiap ada masalah berat, aku paling  suka datang di pemakanan ibu, yang berdampingan dengan makam ayahku.Di kuburan itulah, kita diingatkan akan kebesaran Tuhan dan betapa manusia lebih kecil daripada debu tanah.

Simbok memang selalu jadi kebanggaanku, walau dunia mencatat ada begitu banyak wanita hebat seperti Bunda Teresa.Banyak hal yang kuingat akan sepak terjang simbok. Yang terhebat, dia pernah menjual apa saja,mulai dari sawa, "jarik",daun pisang,bahkan rambutnya sendiri, agar anak-anaknya bisa makan atau sekolah.

Simbok juga dikenal sebagai  tukang pijit yg sering dibayar dengan beras. Dengan beras itulah kami biasa makan.Namun mengingat tak cukup, sering nasi masih dicampur tiwul atau jagung.Itupun masih dibagi bagi  agar cukup bagi anak anaknya.Sering  jatah makanku kurang,apalagi aku laki-laki.Tapi bagaimana lagi, nasi sudah dibagi sesuai piring masing masing anaknya. Sedang untuk lauknya bisa ambil dedaunan apa saja.Yang berkesan adalah sayur "lompong"(dahan bentoel),daun luntas,daun kates,sayur batang pisang, sayur terong dan  "bothok teri".

Ketika aku sakit parah mulai 5 September  1988-1990 yang menyebabkan duka dan luka di hatinya , dia melakukan apapun demi  kesembuhanku.

Yang menyesakkan, Simbok pernah bilang meski pernah menderita banyak hal sebelumnya, namun ketika aku sakit, itulah penderitaan terberat yang pernah  ia rasakan di sepanjang hidupnya.Akupun sering dilanda rasa  bersalah telah mengakibatkan kesedihan bagi wanita yang melahirkan diriku itu. Simbok juga susah memikirkan masa depanku karena jari jemariku terlalu halus,tidak sebesar tiga kakak lelakiku.Sering kulihat airmata simbok menggenang tiap usai sholat lima waktu.

Kami tinggal  di rumah tua di pojok desa Gambyok-Grogol-Kediri, dalam kondisi  amat sengsara. Untungnya tidak  sampai meminta minta, karena sering kami memilih diam dan mengnadu pada Tuhan untuk setiap hal yang menyesakkan jiwa. Doa tekun simbok,juga doaku, sungguh jadi obat mujarab sampai akhirnya aku bisa sembuh,kuliah lagi,menikah dan kerja..

Setan atau Malaikat ya?

Di tengah derita, kadang simbok juga menghiburku.Dia berkisah  bagaimana dulu dia melahirkan aku di Simpang Kanan-Gisting-Lampung Barat pada awal 1964. Simbok bilang, wajahku yang ganteng konon karena selama hamil dia sungguh berdoa pada Tuhan agar wajahku kelak seperti wajah ganteng dokter yang pernah memeriksanya.

Simbok juga menuturkan, penderitaan apapun, jika sungguh dihayati, mampu mengasah hati manusia.Sebab hanya orang yang hatinya pernah ditikam penderitaan dan matanya dibasuh oleh air mata duka, akan mampu dengan mudah berempati pada penderitaan sesama dan tak tega semena-mena pada sesama.

Simbok juga cerita bagaimana suatu malam kala mengandung aku, dia pergi ke sungai di dekat hutan, buat buang air besar.Dia merasa sudah ditemani ayahku, bahkan sempat berbincang panjang lebar tentang masa depanku dengan sosok yang dia sangka adalah ayahku.Ternyata, sesampai di rumah, ayahku yang asli, sedang mendengkur dalam tidurnya. Simbok nyaris pingsan. Dia bertanya-tanya:"mahluk itu malaikat ataukah setan ya?.Kalau setan, kok banyak bicara yang baik tentang masa depanmu".

Maka aku yakin saja mahluk itu malaikat.Terbukti dari berbagai pengalaman hidupku selanjutnya, aku sering merasa diselamatkan dari kondisi kritis atau berbahaya. Misalnya, ketika melahirkan aku, air susu ibu (ASI) tidak keluar. Jadi aku tidak pernah mendapatkan ASI. Konon bayi yang tidak mendapat asupan ASI, akan menjadi bodoh, bahkan idiot. Syukurlah sejak sekolah, aku justru selalu dipandang pintar dri Seolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Ini jelas keajaiban.

Lagi, ketika aku sakit , semua orang sudah menyangka hidupku akan hancur dan berakhir,tidak bisa melanjutkan kuliah atau berkeluarga,  ternyata tidak.Bahkan ketika ada beberapa orang memfitnah atau mencoba mencelakakan aku, sering orang-orang itu justru yang berakhir tragis tanpa aku melakukan sesuatupun, Ada yang menabarak mobil yang sedang parkir, ada yang terkena serangan penyakit mematikan dsb. Padahal aku tak pernah  mengingingkan hal buruk terjadi pada mereka, mski mereka sudah menyakitiku.Tak pernah aku membalas yang jahat dengan kejahatan.Tapi entahlah, seolah selalu ada yang membela diriku di setiap kondisi kritis.

Juga ketika seolah jalan sudah buntu, sering muncul  malaikat tak bersayap membantu, sampai detik ini.Misalnya ketika hendak melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang, pada 1991, sama sekali tak ada uang. Memang aku pernah dihibur kakakku bahwa perkara biaya kuliah lagi itu nanti akan ditanggung oleh rektor seminari tinggi, yang memang pernah menjanjikan hal itu. Namun ternyata janji itu hanya tinggal janji,semoga Tuhan memaafkannya.

Dua Bulan Makan Pangsit Mie Tiap Malam

Maka dengan bekal sangat minim sekali, aku berangkat naik bis dari Kediri menuju terminal Landungsari Malang di bawah guyuran hujan dan halilintar. Aku sempat mau kembali lagi ke desaku, karena tak punya uang untuk bayar tempat kos. Tapi bagaimana? Dalam kebingungan, akhirnya  di dekat kuburan Karang Besuki, aku beroleh tempat kos. Bapak kos tidak minta uang muka, karena mungkin percaya penampilaku yang memang mirip orang kaya. Padahal, selama dua bulan pertama, di Malang aku hanya makan sekali tiap malam. Itupun selalu dengan pangsit mie seharga Rp 150 per porsi di kawasan Karang Besuki.Jangan tanya rasanya.

Syukurlah kondisi susah itu tidak berlangsung lama. Di tengah mikir biaya  uang kuliah, datang malaikat, yakni Romo Prof DR John Tondowidjojo CM yang menyisihkan gajinya  mengajar di STFT tiap bulan, sebesar Rp 60.000 untuk biaya kos dan makanku. Pengusaha Almarhum Rudy Hadinata dan nyonya Sioe Hadinata, serta ibunya yang bernama Paring (Ny Goei Tiong An) dari Jakarta Barat, juga menjadi orangtua asuh selama aku menyelesaikan dua semester di STFT.

Ternyata uang tak jadi masalah, apalagi aku juga mulai bisa menulis lagi di koran seperti sebelum sakit. Bahkan pada Desember 1991, empat tulisanku dimuat koran besar ketika itu, yakni Surabaya Post. Per tulisan diberi honor Rp 80.000 (besar juga untuk ukuran waktu itu, karena harga celana Levis saja Rp 40.000  dan harga beras Rp 750 per kilogram). Tak lupa akupun  memberi pada simbokku yang kutinggalkan di Kediri.

Simbok sangat gembira.Bukan hanya karena  aku sudah bisa memberi uang, tapi  aku bisa melanjutkan kuliah,apalagi kini tulisan-tulisanku yang dimuat koran sudah hampir 1200 tulisan. Bila simbok dengan jari-jarinya pernah memijati orang orang sedesaku, kini putranya yang berjari-jari lembut, memijati huruf-huruf sehingga jadi tulisan yang tersebar di berbagai koran, majalah dan media online di seluruh dunia.Silahkan googling (klik kata Tom Saptaatmaja)

Terimakasih cintamu Simbok, maafkan anakmu yg tak sempat membahagiakanmu.


Friday, January 30, 2015

Ayam Lebih Baik Daripada Koruptor Yang Gendut Rekeningnya

Insya Allah, jika tulisan pendek  ini sungguh dibaca dan dicerna, konflik KPK vs Polri gak perlu diteruskan.Indonesia akan aman dan bebas dari korupsi.

Silahkan mengatakan apapun, tapi jangan pernah mengatakan Indonesia seperti ayam goreng yang tidak pernah sekolah atau seperti rakyat yang gak jelas.Ayam memang gak mungkin  jadi polisi atau terobsesi jadi Kapolri,Ketua Parpol,  Wapres atau Presiden.Jadi Lurah atau modin di desa  saja gak mungkin. Namun sekotor-kotornya kotoran ayam masih lebih baik daripada kotoran koruptor, yang suka mempermainkan ayat-ayat hukum atau prosedur hukum dan jadi legalistik.Karena ayam tidak pernah korupsi, meski ayam tak mengerti bahasa hukum, apalagi tampil di ILC  TV One.Tapi  ayam tetap  lebih baik daripada koruptor.

Coba renungkan lagi koruptor,ayam saja rela mati untuk manusia.Tiap hari satu  juta ekor ayam potong, dikonsumsi warga Jakarta ,  setengah juta  ekor ayam  dimakan warga Surabaya serta jutaan lainnya dimakan di berbagai kawasan lain di Tanah Air. Ayam sungguh menghidupi Indonesia.Sedangkan koruptor terus menggerogoti negri ini.Setelah digerogoti, Indonesia akan jadi busuk.Ini cocok dengan asal kata korupsi yang diambil dari bahasa Latin corrumpere, yang maknanya membusukkan.

Para koruptor, hidupmu sungguh lebih rendah daripada kotoran ayam.Karena kotoran ayam bisa menyuburkan tanaman, sementara kelakuanmu membuat banyak anak negri ini, khususnya anak miskin terus menderita gizi buruk, tak bisa sekolah apalagi kuliah.Maka disarankan, jangan korupsi lagi.Uang yang sudah terlanjur dikorupsi, tolong dikembalikan ke negara. Atau bisa juga dibelikan ayam kampung, lalu bagilah ayam itu ke kampung-kampung di negri ini. Ini jauh lebih berguna daripada uangnya dimakan sendiri.

Tulisan ini bukanlah pesanan atau iklan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tapi ada baiknya KPK,lembaga-lembaga tinggi negara seperti DPR, MK, MA, Kejaksaan, Kepolisian dan departemen-departemen, memelihara ayam yang boleh digemukkan  daripada memelihara koruptor yang rekeningnya gendut dan egois sekali.

7 NICE STORIES

1. Satu kali, semua warga penduduk desa berdoa memohon hujan. Pada hari semua orang berkumpul untuk berdoa, hanya ada 1 anak laki-laki yang membawa payung. ... " Itulah IMAN " .. 


2. Teladan dari seorang bayi berusia 1 tahun. Ketika kamu melemparkannya ke udara, dia tertawa karena dia tahu kamu akan menangkapnya. ... "Itulah KEPERCAYAAN" ... 
3. Setiap malam kita tidur, kita tidak yakin bahwa kita masih hidup esok hari, tetapi kita masih mempunyai rencana untuk besok. ..."Itulah HARAPAN"... 
4. Saat di meja tinggal 2 potong kue. Kamu mengambil potongan yang lebih kecil, dan membiarkan ayah/ibu/suami/istri/anak kamu mengambil potongan yang lebih besar. 
..."Itulah CINTA"... 
5. Saat di rumah selimut A sedang dicuci. hanya ada 1 selimut B yang kering, dan kamu membiarkan ayah/ibu/suami/istri/anak kamu memakai selimut itu. 
..."Itulah PENGORBANAN "... 
6. Ketika ayah/ibu/suami/istri/anak tidak bisa tidur, dan kamu berada di sampingnya, berbincang pengalaman hari ini, cerita-cerita lucu, kisah-kisah inspiratif, tertawa bersama, mengucap syukur, dan berdoa. ..."Itulah KEBERSAMAAN "... 
7. Ketika stok telur tinggal 1 butir, dan kamu berdua ingin makan bersama. Lalu kamu membuat omelet dari 1 butir telur itu ditambah tepung ditambah sayur, dan bumbu-bumbu yang secukupnya. ..."Itulah KREATIVITAS"...  (fr.Maria.M.)


Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Apakah KESOMBONGAN itu?-Sumber www.ISIKABLA.com

Inspirasi ini kutujukan buat diriku, namun jika ada yang mau baca silahkan:
Apakah KESOMBONGAN itu? = Kebutuhan akan harga diri yang terlalu tinggi.
Orang sombong sukar diajar.
Jika Anda sangat mudah tersinggung: SOMBONG
Jika Anda sering menjadi defensif (membela diri) ketika seseorang mengoreksi Anda: SOMBONG 
Jika Anda setiap kali menghakimi dan mengkritik orang lain: SOMBONG.
Jika Anda sulit untuk menerima dan meminta bantuan: SOMBONG
Jika Anda sukar dapat mengakui kesalahan Anda: SOMBONG
Jika Anda tidak dapat menyerahkan: SOMBONG
Jika Anda berbicara banyak tentang diri Anda: SOMBONG
Jika Anda sukar mendengarkan orang lain: SOMBONG
Jika Anda tidak menghormati permintaan atau perasaan orang lain: SOMBONG
Jika Anda sulit mengatakan "maaf" atau meminta pengampunan: SOMBONG
Jika Anda sukar memaafkan orang lain: SOMBONG
Jika Anda berpikir Anda berhak untuk berbuat apa saja: SOMBONG
Jika Anda mengharapkan orang lain yang lebih dulu menghubungi Anda: SOMBONG
Jika Anda terlalu percaya diri dan tidak di dalam Tuhan: SOMBONG
Jika Anda tidak suka diberitahu apa yang harus dilakukan: SOMBONG
Jika Anda tidak terbuka terhadap pendapat orang lain: SOMBONG
Jika Anda berbicara "Saya pikir, saya, saya, saya": SOMBONG
Kesombongan datang dalam berbagai bangun dan bentuk. Kadang-kadang orang yang sangat rendah hati terlihat seperti sangat sombong. Kesombongan seperti ular. Menyelinap masuk dengan tidak diketahui dan diam-diam .
Persahabatan, pernikahan, bisnis, pelayanan dan bahkan negara dapat rusak dan hancur karena kesombongan. Langkah pertama untuk kerendahan hati menerima semua kebanggaan yang kita miliki dan menyalibkannya dengan melakukan kebalikan dari keinginan daging Anda.
Orang sombong ingin diakui, dihormati, dipuji dan diakui. Orang sombong berpikir ia lebih baik daripada orang lain dan masalah atau kesalahan selalu kesalahan orang lain. Orang sombong tidak bertanggung jawab dalam kegagalan atau kesalahan. Orang sombong tidak ingin orang lain menemukan kelemahan dan tidak akan mengaku. Bagian yang paling berbahaya adalah kesombongan adalah halangan untuk bertobat.