Sunday, May 31, 2009

BIBI DAN PROSES PERDAMAIAN TIMTENG Suara Pembaruan 6 April 2009


BIBI DAN PROSES PERDAMAIAN TIMTENG
Oleh: Tom Saptaatmaja

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu resmi dilantik Selasa 31 Maret 2009, pasca-Pemilu 10 Februari 2009. Bibi, pangilan akrab PM baru Israel, berjanji melanjutkan perundingan perdamaian dengan Palestina. Ia mengemukakan kelanjutan perdamaian setelah Partai Buruh yang berhaluan kiri tengah berjanji bergabung dengan kabinet berhaluan kanan..

Bibi bisa dilantik sebagai PM setelah ada kepastian Partai Buruh yang semula menolak berkoalisi, akhirnya menerima ajakan Bibi. Ehud Barak dari Partai Buruh menerima pos menteri pertahanan. Naiknya Bibi di kursi PM juga berkat dukungan dari Avigdor Lieberman, Ketua Partai Yisrael Beiteinu (artinya Israel Rumah Kita) yang beraliran ultra kanan. Dengan dukungan Lieberman, Bibi mendapat "suntikan" dukungan baru 65 anggota dari 120 anggota parlemen Israel. Lieberman menduduki kursi wakil Perdana Menteri dan Menlu. Sedangkan Partai Kadima memilih jadi oposan.

Naiknya Bibi, berarti merupakan comeback yang sukses dari politisi kelahiran Tel Aviv, 21 Oktober 1949 itu. Seperti diketahui, Ketua Partai Likud yang konservatif itu pernah menduduki kursi Perdana Menteri pada periode Juni 1996 hingga Juli 1999. Dari kursi PM, ia turun menjadi menduduki jabatan Menteri Keuangan Israel di bawah PM Ariel Sharon hingga 9 Agustus 2005. Ia mundur dari kursi Menkeu sebagai protes atas penarikan mundur sepihak Israel dari Jalur Gaza. Rekor juga dipegang Bibi, karena ia satu-satunya Perdana Menteri Israel yang lahir pascaberdirinya negara Israel pada 14 Mei 1948.

Pertanyaan kita, benarkah Bibi akan melanjutkan proses perdamaian? Meskipun Bibi sudah mengatakannya di atas, yakni akan melanjutkan proses perdamaian, namun sebagian besar dunia Arab dan Palestina khususnya, tidak begitu antusias menyambut Bibi sebagai PM Israel dan Lieberman sebagai wakil PM. Uni Eropa juga, karena pandangan Lieberman yang rasis. Juga sebagian warga Arab Israel yang menjadi pendukung loyal Partai Kadima yang dipimpin Livni pesimis menyambut Bibi.

Ketidakantusiasan atau pesimisme itu terkait dengan janji dan pidato Bibi sewaktu kampanye sebelum pemilu lalu. Bibi pernah berjanji, bila terpilih jadi PM kembali dia tak akan mau bernegosiasi dengan Hamas. Bibi hanya fokus bernegosiasi dengan Presiden Mahmud Abbas dan lebih mengutamakan masalah keamanan di Tepi Barat. Ia juga tidak akan menyerahkan dataran tinggi Golan kepada Suriah, seperti diminta PBB. Golan direbut dari Suriah pada Perang Enam Hari, 1967.


Penuh Pesimisme

Memang bagi warga Palestina khususnya dan dunia Arab umumnya, siapa pun yang jadi Perdana Mentri Israel pasti akan direspons dengan nada penuh pesimisme. Namun, kadar pesimisme itu kian bertambah besar, ketika nama Bibi yang jadi PM. Boleh jadi ini terkait dengan track record Bibi sendiri yang sejak awal menjadi pendukung konsep "Eretz Yisrael" (Israel Raya) yang tidak bisa dibagi-bagi, apalagi dalam dua negara.

Jangan lupa Bibi punya ayah bernama Ben-Zion Netanyahu, profesor sejarah Yahudi dan bekas pembantu senior dari Zeev Jabotinsky. Nama terakhir adalah sosok penggagas Zionisme Revisionis yang menghalalkan segala cara, termasuk cara kekerasan untuk mengusir warga Palestina, ketika tanah Palestina ditetapkan sebagai tempat bagi berdirinya negara Israel yang harus menampung kembalinya orang Israel (dispora) dari seluruh dunia.

Zeev Jabotinsky juga mendirikan banyak sayap militer seperti Irgun, organisasi teroris dan militan di bawah tanah. Bibi jelas sangat terpengaruh Jabotensky. Apalagi, Partai Likud merupakan pengusung ide-ide nasionalis kaum Zionis Revisionis yang digagas oleh Zeev Jabotinsky.

Tidak heran, Bibi dan Likud menjadi pendukung utama untuk agresi Israel ke Gaza (27 Desember 2008 - 17 Januari 2009) guna menghancurkan Hamas. Sikap Bibi yang tak mau bernegosiasi dengan Hamas jelas sama dengan sikap Hamas yang tak mau bernegosiasi langsung dengan Pemerintah Israel. Dengan demikian bisa ditebak sendiri, prospek perdamaian tengah memasuki tahapan yang penuh absurditas. Malah mungkin meredup tanpa harapan jelas.

Kalau Livni yang maju sebagai PM Israel, prospek perdamaian akan sedikit lebih jelas. Pasalnya, Livni setuju sekali dengan penarikan Israel dari Jalur Gaza dan Tepi Barat. Livni juga tidak setuju cap teroris pada setiap pejuang Palestina yang berjuang bagi berdirinya negara Palestina. Livni juga sudah lama ikut aktif jadi perunding perdamaian Palestina- Israel. Ia sudah pasti didukung warga Arab tahun 1948 yang menjadi anggota Partai Kadima. Menurut Majali Wahbah, anggota Knesset yang juga deputi menlu dari warga Arab, sebagian besar warga Arab lebih mendukung Livni daripada Bibi, karena Livni bersikap moderat terhadap Palestina.

Livni juga pernah berkata: "Saya menjalani hidup dengan kata hati, bangsa Palestina berhak untuk memiliki negara!". Maka bila Livni terpilih jadi PM, dia akan menaikkan status Otoritas Palestina di Tepi Barat, bahkan membantu mewujudkan impian berdirinya negara Palestina yang berdaulat. Apalagi, dia mendukung gagasan dua negara untuk dua bangsa di bumi Palestina.

Tidak heran Livni agak tak bergairah menyambut pelantikan Bibi jadi PM. Livni juga menolak pos Menlu di bawah PM Bibi, padahal Presiden Shimon Peres sudah meminta dia untuk mau berada di pos Menlu, sebagaimana Peres dulu menjadi Menlu pada era PM Ariel Sharon, meski berbeda ideologi politik (Jerusalem Post, 19/2/2009).

Jadi, dengan naiknya Bibi, bisa dipastikan upaya untuk mewujudkan perdamaian di bumi Palestina menghadapi jalan yang kian terjal. Nasib warga Palestina pun akan tetap tidak pasti. Kepastian pada mereka hanya hari-hari panjang dalam penderitaan sebagai bangsa yang belum memiliki negara sendiri yang berdaulat.

Penulis adalah aktivis Perdamaian

INSPIRASI DARI DAHLAN ISKAN

INSPIRASI DARI DAHLAN ISKAN-Tabloid Gloria edisi 370 IV September 2007,
Tom S Saptaatmaja

Bagi Pembaca Harian Jawa Pos dan jaringannya, sejak edisi 26 Agustus 2007 lalu dan seterusnya mendapat sharing menarik dari Dahlan Iskan yang baru melakukan cangkok liver di Tiongkok. Banyak hal yang menarik dalam pergulatan Pak Dalan dalam menghadapi penyakit, penderitaan dan kemiskinan pada masa kecilnya.Dalam menghadapi kondisi seperti itu, ternyata terjadi dan tanya jawab batin antara Pak Dahlan dengan Tuhan. Benar-benar terjadi pergulatan eksistensial, karena menyangkut keberadaan atau hidup mati beliau. Yang mengejutkan rasa humor Pak dahlan tidak hilang, meski berada dalam kondisi yang sulit dan berat. Secara pribadi, penulispun diperkaya. Pembaca Gloria ada untungnya jika menyimak pengalaman beliau, karena toh tabloid ini juga masuk dalam kelompok Jawa Pos Group.

Seperti ditulis Pak Dahlan sendiri, mulai 6 Agustus 2007 lalu, beliau hidup dengan liver barunya. Liver lamanya dibuang karena terkena sirosis akibat virus Hepatitis B. ”Kelihatannya akan baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda kegagalan seperti yang dialami Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh yang digadang-gadang menjadi salah satu calon presiden) yang menjalani transplantasi liver di Tiongkok pada 19 Juli 2004”(Jawa Pos,
26/8/2007).

Keberanian Memanggul dan Mati di Salib

Mengapa Pak Dahlan berani melakukan operasi ganti liver? Ditulisnya lagi, bahwa beliau biasa membuat keputusan berani, keputusan besar, dan keputusan yang cepat di perusahaan ikut memengaruhi keberanian membuat keputusan dengan kualitas yang sama untuk dirinya. Beliau juga yakin mampu me-manage hal-hal yang rumit selama ini, tentu juga akan mampu me-manage kerumitan persoalan yang ternyata ada di dalam tubuhnya.

Apakah tidak ada kekhawatiran sama sekali akan gagal dan kemudian meninggal? Tentu ada. Tapi, amat kecil. Pak Dahlan tahu kapan harus ngotot dan kapan harus sumeleh. ”Keluarga saya yang miskin dan menganut tasawuf Syathariyah sudah mengajarkan sejak awal tentang sangkan paraning dumadi (dari mana dan akan ke mana hidup dan semua kejadian)”. Ini membuatnya akan ngotot melakukan apa pun untuk berhasil, tapi juga tahu batas kapan harus berakhir. Apalagi banyak keluarga Pak Dalan mati muda, sehingga beliaupun sudah siap sejak kecil akan mati muda.

Jadi ternyata keberanian menaggung resiko termasuk berani menghadapi maut, bisa membuat kita justru kuat dalam menaggung apapun.Yesus, teladan kita juga tahu bahwa Dia harus disalib dan siapa yang mengklaim sebagai muridNya harus berani memanggul salib. Keberanian menghadapi segala realita, sepahit apapun, apalgi jika kita tanggung dalam salib Yesus, sebenarnya justru akan memberikan kita kekuatan dan penghiburan di masa-masa sulit seperti saat menghadapi bencana, masalah rumah tangga atau sakit penyakit serta 1001 persoalan lain.

Doa dan Email Pak Dalan

Yang istimewa bahwa Pak Dahlan mendapat dukungan doa dari beragam kalangan agar beliau selamat dalam operasi liver itu.Umat Islam, Kristiani, Budha hingga Aliran Kebatinan Sapto Darmo ikut berdoa. Ini menunjukkan sosok beliau yang diterima semua kalangan. Dan doa memang bisa menjadi sumber kekuatan. Vincentius A Paulo, tokoh Prancis abad 16 yang peduli pada kaum miskin pernah berkta:”Berilah aku seorang pendoa, maka aku akan bisa melakukan segalanya”. Kalau ada yang berdoa bagi kita di masa-masa sulit, itu jelas menjadi keberuntungan kita.

Cuma dalam hal doa ini, Pak Dahlan punya pendapat yang berbeda dengan penulis, karena doa dalam pandandan beliau seperti memerintah Tuhan. Beliau tak mau seperti itu. Maka ketika akan operasi ganti liver itu,Pak dalan berdoa: ” Tuhan, terserah engkau sajalah! Terjadilah yang harus terjadi. Kalau saya harus mati, matikanlah. Kalau saya harus hidup, hidupkanlah! Selesai. Perasaan saya tiba-tiba lega sekali. Plong. Kereta pun tiba di depan ruang operasi”(Jawa Pos 28/9).

Berikut ini antara lain email penulis pada Pak Dahlan tanggal 6 September lalu untuk membicarakan masalah doa tersebut:” Saya merasa beruntung membaca sharing Panjenengan.Saya ikuti, kata demi kata,kalimat demi kalimat.Luar biasa dan harus saya apresiasi.Saya semakin kagum dengan Panjenengan, mahluk Tuhan yang unik dan memperkaya wawasan saya.

Tapi jujur saja saya tidak sependapat soal doa yang identik dengan memerintah Tuhan.Doa dalam iman katolik saya adalah sebuah komunikasi antara Sang Pencipta dengan ciptaan yang paling berakal yakni manusia. Dan relasi Allah dengan manusia, bukan relasi antara atasan-bawahan.

Doa dalam pandangan pribadi saya seperti hubungan antara Allah sebagai sumber air –sumber nafas-sumber hidup.Kalau kita tidak berdoa, tidak punya relasi dengan Tuhan, kita akan kehilangan nafas, kehausan dan mati, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara rohani. Saya suka menghayati doa atau hubungan saya dengan Allah, sebagai relasi antara seorang ibu yang sedang menyusui dengan si jabang bayi (jabang bayi itu saya).Saya merasa tenang, damai, tidak mikir apa-apa, walaupun hidup di dunia penuh masalah”.

Penulispun juga menyinggung dalam email ke Pak Dahlan itu agar kita tidak begitu mendewakan akal kita sendiri, seolah kita mau menyelami jalan pikiran Tuhan.Tapi kita juga tidak mungkin bisa memahami jalan pikiran Tuhan, kita hanya berharap apa yang kita lakukan sesuai dengan kehendakNya. Agustinus yg sekuler (sebelum jadi katolik) pernah berjalan di pantai, lalu melihat seorang anak. Anak itu membuat kolam kecil di tepi pantai. Lalu dia memasukkan air laut ke kolam itu dengan gayung kecil,berulang kali.
Agustinus bertanya:"Apa yang kau lakukan?"
Si anak menjawab :"Aku sedang mencoba memasukkan air laut ke
Kolamku"
"Itu mustahil dan konyol"
Si anak yang ternyata seorang malaikat menjawab :"Lebih konyol lagi adalah manusia yang otaknya begitu kecil tapi coba memasukkan kemahabesaran Allah dam kesempitan pikirannya"

Email saya ternyata dibalas Pak Dahlan seperti berikut:
"Trims pak atas emailnya.
Kalau saya perhatikan email bapak, rasanya saya memang kurang pandai
memilih kata dalam tulisan saya. seharusnya saya membedakan term doa dalam
islam dan kristen. kalau saya lihat (saya sering hadir dlam kebaktian di
gereja kristen maupun katolik tapi tidak ikut dalam sakramennya), memang
ada sedikit perbedaan term "doa". Di gereja, kalau saya tidak salah
menangkap, semua bentuk pujian kepada Tuhan disebut "doa".
Di Islam "doa" lebih pada term permintaan kepada Tuhan. Sedang untuk
pujian2 kepada Tuhan disebut "dzikir" atau "dzikr", atau kalau orang Jawa
menyebutkan "dikir". Jadi doa dan dzikr agak beda. Yang saya maksud dalam
tulisan saya dengan "doa" adalah khusus mengenai "permohonan". Di Islam
memang ada perintah perbanyak dzikir, tapi tidak ada perintah yang sama
untuk doa.
Dengan demikian rasanya perbedaan pendapat tidak ada lagi.
Atau masih?
salam
Dahlan Iskan”

Semoga tulisan ini memberi inspirasi bagi umat Tuhan dalam menghadapi setiap masalah khususnya sakit dan penderitaan. Pak Dahlan memang bukan Tuhan atau seorang santo, demikian juga penulis bukanlah juru bicara Tuhan atau sosok yang istimewa.Hanya penulis juga pernah sakit parah dan banyak orang mengira saat sakit itu hidup saya sudah berakhir. Sepi sendiri dalam pergulatan batin dan raga yang lara. Lewat doa dan kesabaran serta cinta kasihNya, penulis bisa bangkit lagi dan melanjutkan kuliah, bekerja dan hingga saat ini masih menikmati damai sejahtera, sukacita dan 1001 anugrahNya. Tak ada yang hendak saya pamerkan,selain pamer dan bangga akan kasih Yesus yang membuat kita kuat menanggung segala perkara.

Friday, May 29, 2009

Kado Paus Untuk Palestina Jawa Pos 15 Mei 2009 Dalam Bahasa Ibrani

האפיפיור של המתנה פלסטין

האפיפיור Benediktus XVI לביקור במזרח התיכון (8-15 במאי 2009). ראשית, את ביקורו של האפיפיור ירדן, ישראל ופלסטין. בקר זה מעניין. במיוחד תוך כדי ביקורת על היחס של האפיפיור לבטל ekskomunikasi (שמתה) נגד בישוף שסירבו שחיטה של יהודים על ידי גרמניה הנאצית.

הוא רץ Mgr וויליאמסון ריצ 'רד, בית מדרש נגיד בארגנטינה לה Reja (Jawa ממוצע, 12 במאי 2009). הוא רץ Zionisme ביקורת היה מכור ב 2002 ו כי מספר היהודים נהרגו בשואה הוא רק 300 אלף, ולא 6 מיליון. כמו כן אין חדר כגון דלק במהלך dikisahkan זה.

למרות להתנצל, הביקורת היא כבר זורם אל Benediktus XVI האפיפיור כי הם לא היו מיד mengekskomunikasi (לגרש) ריצ 'רד. הגישה של האפיפיור נחשב כדי להרגיז את מרבית היהודים בעולם ו pemerintaah ישראל. אבל, את היחס של האפיפיור אינו תומך בין ריצ 'רד mengekskomunikasi נקודות פלסטיני. עבור, כאשר העם הזה יהיה להמחץ הפלסטינית או היהודית zionis מי היו הקורבנות של הנאצים.

דיון עבור Zionisme

הצהרת של ריצ 'ארד בדיוק מה Frequently Asked נשיא איראן אחמדינג' אד. לאחרונה אחמדינג 'אד גם לבצע שנוי במחלוקת במרכז נאומו של העולם, בכנס נגד גזענות (WCAR) או KTT Antirasisme (בדיוק 20/4/2009) בג' נבה, שוויץ.

במהלך הנאום, אחמדינז 'אד Zionisme ולבקר את תהליך terbentuknya ישראל. הוא מזכיר הממשלה של ישראל מ 1948 עד 2009 כפי rasis לישב את הממשלה הפלסטינית האומה. הלידה של ישראל גם האלצות נטען, כי המערב שלח יהודי עולה האירופי ושל ארה"ב ממוצא במטרה להקים את הממשלה הפלסטינית rasis.

דיון אחמדינג 'אד הוא בהחלט אמת. את האמת, כמו אומרים "adagium", לעיתים אכן המר. אם יש "השואה" נכון, ישראל לא צריכה לעשות גם 6 מיליון אנשים סובלים פלסטיני ו tersisih מן האדמה שלו. אבל, מה קורה, את ארץ פלסטין כבר אחוז בידי ישראל. הקמתה של ישראל בשנת 1948 הוא לא להפריד בין תפקיד אימפריאליסט בריטניה.

אם יש toh "השואה", את pitied מאוד להיות שיש להם besmirch את ההיסטוריה של תרבות המערב, כי כיום אין אפשרות להפוך את השיעור עבור מנהיגים מהם. Tata העולם החדש, שיש לו digembar לדבר בטרוף, את רק רטוריקה טהורה. בגלל השלטון של העולם בשלב זה אנחנו עדיין את סדר העולם הישן, שוקל את המערכת של הממשלה לדכא את כבוד האדם ואת rasis כמו ממשלת ישראל, הם עדיין נסבל ואף נתמך.

אנחנו מודאגים, הדחקה הישראלי נגד העם הפלסטיני בפועל את הגדה המערבית ורצועת עזה. גם עם עלייה של חזרה PM בנימין נתניהו ואת אביגדור ליברמן, אשר פעל Menlu קורס ימין, את הלקוחות הפוטנציאלים של השלום Timteng יותר bleak. פתרונות בו מדינה ריבונית של העם הפלסטיני לחיות גם להיות אשליה.

ממשלת ישראל Rasis

ככל הידוע, את הממשלה החדשה של ישראל בשלב זה החזיק אותה דמות ידועה גזעני, מסית, כמו ליברמן או בנימין נתניהו. אל תשכח להיות אבא בשם ביבי בן ציון נתניהו, פרופסור להיסטוריה יהודית וכן בכירים לשעבר parlormaid זאב ז 'בוטינסקי. שם המשפחה שלה הוא penggagas Zionisme Revisionis את menghalalkan את כל האמצעים, כולל אלימות לנהוג פעילות rasis האזרחים הפלסטינים.

זאב ז 'בוטינסקי גם להקים כמה הזרוע הצבאית Irgun, ארגוני הטרור ואת לוחמני מחתרתי. ביבי הוא מושפע בבירור Jabotensky.

בנוסף, ביבי אין כמעט את ניסיון המשא ומתן לשלום. במקום זאת, ביבי יש יותר נסיון בתחום הצבאי השדה עם שתי אחיות, יונתן ו Iddo. שלושת האחים נתניהו לא להיות צופה ב Sayeret Matkal. למעשה, לימודי פסיכולוגיה, נראה כאילו יש לנקום את ליבם ביבי השנאה, זוכר שקרא אחיו יונתן נתניהו נהרג במבצע Entebbe בשנת 1976. ניסיון כזה ברור להציג את ביבי על העם הפלסטיני.

בינתיים, אביגדור ליברמן נולד 5 ביוני 1958 בעיר קישינב, מולדובה. הוא היה מעורב תנועה ימנית רדיקלית racially "Kach" מנהיג הרב מאיר כהנא שיש לו מטרה או לפזר ערבים פלסטינים תושבי מתוך שטחה של ישראל.

ברור כי מופיעות שתי דמויות תוסיף את הסבל של העם הפלסטיני, אשר סבלו מאז 1917, כאשר האבות יש לפנות מביתן, כדי לתת מקום של מהגרים יהודים. ואכן, יש rasis למעלה nuances מאחורי העם הפלסטיני של ישראל מ 1948 עד 2009.

כולנו תקווה כי ביקורו של האפיפיור הפעם Benediktus בדרך חזרה את תהליך השלום נתקע בשל הגידול של ביבי ו ליברמן, ושם הוא מקווה עבור המדינה הפלסטינית. מסכים עם הוותיקן, כולל פתרון של מדינה פלסטינית עצמאית (Jawa ממוצע, 12 במאי 2009).

הוותיקן הוא גם חושש כי ירושלים אינה dicengkeram ישראל להחזיק את עצמה, אבל הפך את עיר הבירה, כי הוא פתוח עבור השלישי embraces דתי Samawi. המלך הסעודי עבדאללה, במהלך ביקורו של הוותיקן כבר לפני זמן מה "sambat" כך את תהליך Yaudisasi אל קודס (ירושלים) עצר. בנוסף, גישות הוותיקן, התשובה נראית של המלך עבדאללה של התלונה. (*)

*). טום Saptaatmaja, alumnus STFT Sasana Widya מדרש ו סנט וינסנט דה פול, Pegiat קרוס חברה

Kado Paus Untuk Palestina,Jawa Pos 15 Mei 2009

Jawa Pos 15 Mei 2009
KADO PAUS UNTUK PALESTINA
Tom Saptaatmaja*)

Paus Benediktus XVI mengunjungi Timur Tengah (8-15 Mei 2009).Pertama Paus mengujungi Jordania, lalu Israel dan Palestina.Kunjungan ini menarik. khususnya di tengah kritik atas sikap Paus yang membatalkan ekskomunikasi atas seorang uskup yang menolak kebenaran pembantaian Yahudi oleh Nazi Jerman.

Uskup itu adalah Mgr Richard Williamson, Rektor Seminari La Reja di Argentina (Jawa Pos, 12 Mei 2009). Uskup ini memang doyan mengkrtik Zionisme dan pernah berkomentar pada 2002 bahwa jumlah Yahudi yang terbunuh dalam Holocaust hanya 300 ribu dan bukan 6 juta. Juga tak ada kamar gas seperti yang selama ini dikisahkan.

Kendati meminta maaf, kecaman sudah terlanjur mengalir ke Paus Benediktus XVI karena tidak segera mengekskomunikasi Richard. Sikap Paus ini dinilai menyinggung mayoritas Yahudi di dunia dan pemerintaah Israel.Tapi Sikap Paus yang tak mengekskomunikasi Richard mendapat dukungan kalangan pro Palestina. Karena saat ini bangsa Palestina justru ditindas oleh kaum zionis atau Yahudi yang pernah menjadi korban Nazi.

Kritik Untuk Zionisme

Pernyataan Richard sama persis dengan apa yang sering dilontarkan oleh Presiden Iran Ahmadinejad.Baru-baru ini Ahmadinejad juga membuat pidato kontroversial di tengah The World Conference Against Racism (WCAR) atau KTT Antirasisme (tepatnya 20/4/2009) di Geneva, Swiss.

Dalam pidatonya, Ahmadinejad mengkritik zionisme dan proses terbentuknya Israel.dan menyebut Pemerintah Israel dari 1948 hingga 2009 sebagai pemerintahan rasis yang menjajah bangsa Palestina. Lahirnya Israel juga sarat paksaan, karena Barat mengirimkan imigran Yahudi asal Eropa dan AS dengan tujuan mendirikan pemerintahan rasis di Palestina.

Kritik Ahmadinejad sudah tentu merupakan sebuah kebenaran.Kebenaran, seperti bunyi sebuah “adagium” kadang memang pahit. Seharusnya kalau “holocaust” memang benar, Israel jangan malah membuat 6 juta warga Palestina menderita dan tersisih dari tanah kelahirannya. Tapi apa yang terjadi, tanah warga Palestina telah dirampas oleh Israel. Berdirinya Israel pada 1948, tak lepas dari peran imperialis Inggris.

Kalau toh ada “holocaust”, amat disayangkan peristiwa yang telah menodai sejarah peradaban Barat itu kiga tidak bisa menjadi pelajaran bagi para pemimpin mereka. Tata dunia baru yang telah digembar-gemborkan t, ternyata hanya retorika belaka. Karena tata dunia kita saat ini masih merupakan tata dunia lama, mengingat sistem pemerintahan yang menindas martabat manusia dan bersifat rasis seperti pemerintah Israel , masih terus ditoleransi dan justru didukung.

Kita y prihatin, mengapa Israel mempraktikkan represi terhadap bangsa Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza.Malah dengan naiknya kembali PM Benjamin Netanyahu dan menlunya Avigdor Lieberman yang berhaluan kanan, hasil Pemilu pada 10 Februari 2009 prospek perdamaian di Timteng kian suram. Solusi berdirinya sebuah negara berdaulat bagi bangsa Palestina juga tinggal menjadi ilusi.

Pemerintahan Rasis Israel Terkini

Seperti diketahui, pemerintahan baru Israel saat ini dipegang oleh sosok-sosok yang dikenal rasis, seperti Lieberman atau Benjamin Netanyahu..Jangan lupa Bibi punya ayah bernama Ben-Zion Netanyahu, seorang profesor Sejarah Yahudi dan bekas pembantu senior dari Zeev Jabotinsky.Nama terakhir adalah sosok penggagas Zionisme Revisionis yang menghalalkan segala cara, termasuk cara kekerasan dan tindakan rasis untuk mengusir warga Palestina, ketika tanah Palestina ditetapkan sebagai tempat bagi berdirinya negara Israel yang harus menampung kembalinya orang Israel (dispora) dari seluruh dunia. Zeev Jabotinsky juga banyak mendirikan banyak sayap militer seperti Irgun, organisasi teroris dan militan di bawah tanah. Bibi jelas sangat terpengaruh Jabotensky.

Lagipula, Bibi nyaris tidak punya pengalaman dalam perundingan perdamaian. Sebaliknya Bibi punya pengalaman lebih banyak di bidang militer bersama dua saudaranya Yonathan dan Iddo. Ketiga Netanyahu bersaudara pernah berdinas di satuan pengintai Sayeret Matkal.Bahkan dari kajian psikologi, tampak seperti ada dendam kesumat dalam hati Bibi, mengingat kakaknya yang bernama Yonatan Netanyahu terbunuh pada Operasi Entebbe pada 1976. Pengalaman-pengalaman seperti itu jelas mempengaruhi pandangan Bibi atas bangsa Palestina.

Sedangkan Avigdor Lieberman lahir 5 Juni 1958 di kota Kishinev, Moldova.Ia pernah terlibat dalam gerakan radikal kanan rasialis ”Kach” pimpinan Rabbi Meir Kahane yang punya tujuan mengusir warga Arab atau Palestina keluar dari wilayah Israel.

Tampilnya dua sosok itu jelas akan menambah penderitaan bagi bangsa Palestina, yang sudah menderita sejak 1917, ketika nenek moyang mereka harus menyingkir dari kampung halamannya demi memberi tempat kepada para imigran Yahudi. Memang ada nuansa rasis atas bangsa Palestina di balik pemerintahan Israel dari 1948 hingga 2009.

Semoga kunjungan Paus Benediktus kali ini bisa merintis kembali proses perdamaian yang macet akibat naiknya Bibi dan Lieberman dan ada harapan bagi berdirinya negara Palestina.Vatikan termasuk setuju dengan solusi negara merdeka bagi Palestina (Jawa Pos,12 Mei 2009).Vatikan juga berkepentingan agar Yerusalem tidak terus diecnegkeram Israel sendiri, tetapi menjadi ibukota yang terbuka bagi ketiga pemeluk agama Samawi. Raja Abdullah dari Saudi saat berkunjung ke Vatikan beberapa waktu lalu sudah “sambat” agar proses Yaudisasi Al Quds(Yerusalem) dihentikan.

Tom Saptaatmaja, alumnus STFT Widya Sasana dan Seminari St Vincent de Paul, Pegiat Lintas Agama.

Friday, June 8, 2007

Pelajaran dari Hamas dan Hosam (Kristen dan Muslim Palestina)-Koran Tempo 11 Maret 2006

Koran Tempo,Sabtu, 11 Maret 2006
http://www.korantempo.com/korantempo/2006/03/11/Opini/krn,20060311,58.id.html
Pelajaran dari Hamas dan Hosam
Tom S. Saptaatmaja
Teolog

Hamas dan nasib Palestina terus menjadi perhatian media dunia. Setelah 19 tahun memilih jalur perang melawan Israel, Hamas (Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah), yang didirikan pada 1987, memilih jalur politik dengan mengikuti pemilu legislatif pada 25 Januari 2006. Hamas merebut 76 dari 132 kursi parlemen. Yang menarik, di antara 76 kandidat Hamas yang terpilih ke parlemen, ada satu nama aneh. Dialah Hosam al-Taweel, 40, warga Kristen Palestina yang terpilih dari distrik Gaza. Hosam dikenal sebagai kolumnis harian Al-Quds dan aktivis gerakan internasional Young Men's Christian Association selama 30 tahun di Gaza. Sejak awal, banyak yang skeptis Hosam bakal didukung massa Hamas, yang dikenal radikal. Tapi dia mampu merebut satu kursi dari jatah enam kursi untuk minoritas Kristen di Palestina. Lima lainnya dikuasai kandidat Fatah.

Apa makna dan relevansi kemenangan Hamas dan kemunculan Hosam bagi kita? Seperti kita tahu, isu apa pun menyangkut Palestina selalu bergema di Indonesia. Kita memang punya komitmen pada perjuangan rakyat Palestina. Tidak aneh jika demo-demo menyuarakan perjuangan mereka sering digelar di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Tapi sayang bahwa kita sering salah kaprah dalam memandang masalah Palestina, khususnya dalam perjuangannya melawan penjajahan Israel. Maka kemenangan Hamas dan terpilihnya Hosam bisa kita jadikan inspirasi untuk memberikan pendidikan politik dan sikap toleransi, sehingga perbedaan agama tidak menjadi kendala bagi sebuah perjuangan menentang kezaliman.

Di mana salah kaprah itu? Sering umat muslim dan kristiani di Indonesia keliru dalam mempersepsikan negara Israel dan bangsa Palestina. Beberapa orang kristiani menganggap negara Israel identik dengan bangsa Israel yang disebutkan dalam Alkitab, sehingga mereka justru tidak bersimpati pada perjuangan Palestina. Di sisi lain, sebagian muslim di sini berpikir bahwa negara Israel adalah negara Kristen yang menindas bangsa Palestina. Tak aneh, tokoh agama seperti Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi sering menegaskan bahwa konflik di Palestina bukanlah konflik antara Islam dan Kristen.

Harus kita pahami, Israel adalah sebuah negara modern sekuler dengan ideologi politik Zionisme. Secara teologis dan ideologis, Israel modern berbeda dengan konsep "bangsa Israel" dalam Alkitab atau Al-Quran. Salah persepsi ini perlu diluruskan karena dalam konflik Israel-Palestina yang jadi korban justru warga Palestina yang Islam dan Kristen. Sering kali juga tidak disadari oleh umat kristiani dan muslim di sini bahwa banyak warga Arab dan Palestina beragama Kristen yang berdoa, menyanyi, dan membaca Alkitab dalam bahasa Arab. Kekristenan mereka bukan buah dari para misionaris Barat, melainkan langsung sejak zaman Yesus. Bahkan, 600 tahun sebelum Islam, mereka sudah jadi Kristen.

Meskipun minoritas, makna dan posisi Kristen Palestina begitu signifikan. Mengingat mereka begitu menderita di bawah pemerintahan Zionis Israel (sejak 1948), belakangan banyak yang memilih berimigrasi ke Amerika Serikat dan ke tempat lain. Tidak aneh, belakangan banyak seruan agar dunia Kristen memperhatikan nasib mereka. Sebab, kalau Kristen Palestina tidak ada, akan ada yang kurang dalam sejarah kekristenan karena kedekatan mereka dengan Yesus dan sejarah awal Gereja. Tekanan ekonomi pada Palestina oleh AS atau Israel akan menyengsarakan mereka, baik Islam maupun Kristen.

Jadi semoga kini menjadi jelas bahwa perjuangan rakyat Palestina adalah perjuangan politis bagi kemerdekaan dan kesejahteraan, tanpa menonjolkan peran agama tertentu. Karena itu, solidaritas kita dengan mereka seharusnya terdorong oleh alasan kemanusiaan dan bukan semata alasan agama. Namun, jika agama hendak dibawa-bawa, kita bisa melihat bahwa sebenarnya tidak ada masalah serius dalam relasi antara umat kristiani dan muslim Palestina. Malah kita mungkin bisa belajar dari mereka tentang toleransi, saling menghargai dan menghormati. Contohnya, sosok seperti Hosam yang Kristen justru bisa berkolaborasi dengan Hamas.

Menarik kiranya dicamkan pendapat Hosam yang disampaikan kepada media: "Kami semua, Islam dan Kristen, sama-sama menginginkan Palestina yang merdeka. Nenek moyang kami (Kristen) juga pernah bekerja sama dengan pemimpin Islam Salahuddin (al-Ayyubi) melawan tentara salib. Kami juga sama-sama menderita di bawah pendudukan Israel. Tapi, yang pasti, kami saling menghargai keyakinan masing-masing. Kakek saya pernah menjadi anggota General Palestinian Government yang menentang resolusi PBB soal pembagian Palestina menjadi Arab dan Yahudi pada 1948"(Al-Jazeera.net, 25 Januari 2006).

Bukan hanya di level perjuangan politik, kerja sama antara Islam dan Kristen Palestina terjadi dalam aspek kehidupan lain. Misalnya, 70 persen universitas Kristen dihuni mahasiswa Palestina Kristen. Jika di sini ada yang mengharamkan mengucapkan Natal, Hamas biasa memberikan kado Natal kepada warga Kristen Palestina. Apalagi dalam tradisi Palestina juga ada silaturahmi erat antara warga Islam dan Kristen pada setiap hari raya seperti pada Idul Fitri dan Natal. Pada Natal 2005, misalnya, Presiden Mahmud Abbas juga ke Gereja Kelahiran Yesus di Bethlehem. Ini kedatangan pertama kali pemimpin Palestina ke gereja itu, mengingat sebelumnya Israel menerapkan larangan bagi Arafat sejak 2001. Meski Arafat tidak bisa datang, di gereja itu selalu tersedia satu kursi kosong dan sebuah kafiyeh untuk menghormati Arafat, yang wafat pada 11 November 2004.

Bahkan nama Kristen Palestina selalu merupakan campuran antara nama Islam dan Kristen. Contohnya mendiang Edward Said, yang oleh Sekretaris Jenderal PBB disebut sebagai Pembela Islam di Barat meski dia Kristen. Perpaduan nama ini menyiratkan spirit harmoni dan kerukunan yang bukan basa-basi. Pokoknya, relasi mereka tidak ada masalah. Bishara Awad, yang Kristen Palestina sekaligus dekan di Bethlehem Bible College, juga menyetujui hal ini. Mereka juga punya moto, "Pertama-tama kami adalah bangsa Palestina." Jadi jangan mencoba membenturkan Islam dan Kristen terkait dengan isu Palestina.

koran

Wednesday, June 6, 2007

Jilbab, Gereja dan Sekularisme Sinar Harapan 28 April 2004

Jilbab, Gereja, dan Sekularisme
Oleh Tom S. Saptaatmaja
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0402/28/opi02.html


Rancangan Undang-Undang (RUU) baru tentang pelarangan jilbab, salib dan topi Yahudi di sekolah-sekolah negri telah disetujui parlemen Prancis dengan suara 494 mendukung, 39 menentang. Selanjutnya RUU itu akan diajukan ke majelis tinggi, Senat, untuk disepakati. Sekitar pertengahan Maret, RUU itu akan dikembalikan ke parlemen untuk persetujuan terakhir yang lebih bersifat formalitas. Pelarangan itu berlaku efektif September tahun ini. Sekitar 70 persen rakyat Prancis mendukung RUU ini, termasuk 40 persen perempuan Muslim Perancis seperti diperlihatkan jajak pendapat.
RUU ini membangkitkan reaksi kemarahan di dalam maupun di luar Prancis, terutama dari dunia Islam. Terlihat beberapa elemen muslim di Tanah Air juga giat melakukan demo di kedubes dan konjen Prancis memrotes hal tersebut.
Yang menarik pihak gereja di Prancis juga menentang pelarangan itu. Gereja Katolik Prancis dan gereja denominasi lain di negri mayoritas Katolik itu beroposisi menentang pelarangan itu, karena dianggap melanggar HAM (10/12/03). Paus Yohannes Paulus II juga mengecam, karena itu menunjukkan betapa makin otoriternya sistem sekularisme yang dianut pemerintah Prancis.
”Comission On International Religious Freedom” (CIRF) atau Komisi Kebebasan Keagamaan International juga menyatakan keprihatinan atas rencana larangan atribut keagamaan itu. Michael Young, Ketua lembaga setengah resmi dari Amerika tersebut meminta pemerintah Bush untuk mendesak pemerintah Prancis agar menjamin kebebasan berekspresi dalam beragama. Sikap Gereja ini malah berbeda dengan sikap Syeikh Agung Al-Azhar Prof Dr Mohamed Sayed Tantawi yang justru menyetujui larangan tersebut.
Pro kontra pelarangan itu sebenarnya bukan baru saja muncul dalam beberapa bulan terakhir seperti banyak diberitakan media kita. Pada tahun 1989 misalnya juga pecah kontroversi soal jilbab yang berbuntut tiga gadis berjilbab dikeluarkan dari sekolah ”College de Creil” di Osie tahun 1989. Ketika itu Kardinal Lustiger, Uskup Agung Paris juga berseru: ”Janganlah kita berperang melawan anak-anak itu” (Caping ”Sekuler’ oleh Goenawan Mohamad, Tempo 27/1/02).
Tetapi disyahkannya RUU pelarangan itu sebenarnya merupakan puncak gunung es dari kekecewaan mayoritas masyarakat Prancis atas makin menguatnya gejala komunitarianisme. Ini yang jarang dikemukakan di media kita. Misalnya seorang jendral melaporkan dalam wajib militer, wanita muslim menolak latihan P3K dengan peserta pria. Para suami muslim menolak jika istrinya yang sakit di rumah sakit diperiksa dokter pria.
Para pasien itu juga minta masakannya dimasak koki muslim. Para siswi menolak pelajaran olahraga dengan pakaian sport minim. Dalam pelajaran biologi, para murid Islam menolak diajarkan Teori Darwin. Dalam kasus pengadilan, warga muslim menolak karena dianggap tidak sesuai dengan Qur’an dan sebagainya.
Tidak heran jika Konsul Kebudayaan Prancis di Jakarta Gilles Garachon mengharapkan agar masyarakat Indonesia dapat memahami sudut pandang pemerintah Prancis dalam pelarangan ini. Menurutnya, undang-undang ini bukan untuk mendiskriminasi salah satu agama, tetapi justru untuk mendukung toleransi dan menghindari terjadinya diskriminasi serta gesekan antarumat beragama.

Kenyang Konflik Agama
Keputusan pelarangan itu memang terlahir untuk melindungi prinsip ‘laicite’, salah satu konsep pembentukan Republik Prancis yang tercantum dalam Konstitusi 1905. Prinsip itu terlahir karena Prancis sudah kenyang dengan perang dan konflik antara agama (Katolik vs Protestan, Kristen vs Yahudi). Maka RUU itu sebenarnya hanya untuk menjaga sistem integrasi pemerintah sekuler Prancis yang harus punya satu wadah yang adil dan sama bagi beragam umat beragama di Prancis.
Meski demikian pelarangan jilbab (salib, topi Yahudi) hanya berlaku di sekolah negri. Di sekolah swasta, hal itu tidak berlaku. Maka Gereja Katolik termasuk paling lantang menentang, karena selain dianggap melanggar kebebasan dan HAM, sekolah-sekolah Katolik juga akan menjadi korban pertama dari kebijakan itu. Diperkirakan akan terjadi ‘eksodus’ para siswi muslim ke sekolah-sekolah Katolik.
Karena itu, kebijakan pelarangan itu mau tak mau memang membangkitkan kembali polemik lama dari para agamawan dalam menyikapi sekularisme dan sekularisasi. Bagi umat Katolik dan Yahudi Prancis memang sudah bisa menerima prinsip ‘laicite’ sesuai Konstitusi 1905. Tetapi bagi umat Islam, yang baru datang ke Prancis Pasca-Perang Dunia II, sekitar 60% keberatan dengan kebijakan itu. Berarti masih ada 40% yang bisa menerima.

Memang kontroversi menyangkut sekularisme dan sekularisasi telah menimbulkan polemik besar yang cukup berkepanjangan di kalangan intelektual muslim.
Akibat polemik tersebut muncul dua kelompok dikotomis dengan sederetan tokoh intelektual pendukungnya. Kelompok pertama disebut kelompok konservatif, suatu kelompok yang menentang keras sekularisasi yang dianggap identik dengan sekularisme.
Kelompok kedua disebut kelompok reformis, suatu kelompok yang menolak sekularisme sebagai suatu paham tertutup yang anti-agama, tetapi menerima sekularisasi. Menurut kelompok reformis ini, sekularisasi diartikan sebagai upaya pembebasan masyarakat dari kehidupan magis dan takhyul dengan melakukan desakralisasi alam.
Sekularisme sebenarnya berarti ideologi yang memperjuangkan bahwa dunia ini punya otonomi sendiri (oto=sendiri, nomos=hukum). Pihak agama jangan pernah ikut campur tangan masalah politik dan pemerintahan. Kenapa negara-negara Eropa getol menerapakan sekularisme? Karena sebelum masa ”Aufklarung” (Pencerahan), dengan ideologi teokrasinya, Gereja terlalu mengurusi semua bidang kehidupan.
Akibatnya Galileo hampir mati konyol karena punya teori yang berbeda dengan pandangan gereja. Jadi sekularisme sebenarnya merupakan reaksi balik atas teokrasi Gereja yang berlebihan.
Meski demikikan perlu dibedakan antara sekularisme yang moderat dan yang ekstrem. Pemerintah Inggris dikenal sebagai sekuler yang moderat karena tetap menghargai kebebasan beragama, termasuk dalam pemakaian jilbab. Pemerintah sekuler Turki misalnya termasuk agak ekstrem karena meski mayoritas warganya muslim, jilbab juga dilarang di kantor pemerintah.
Yang paling ektrem adalah sekularisme ala negri-negri komunis almarhum, karena secara prinsipiil dan metodologis mereka menolak memasukkan pengertian Tuhan sama sekali dalam teori dan praktik. Malah dari Revolusi Prancis 1789 sampai Revolusi Bolshewik 1917 bergerak slogan anti-agama: ”Agama adalah candu bagi masyarakat”.
Karena sekularisme menolak Tuhan, maka kata ini dimaknai secara peyoratif atau negatif.
Meski demikian sekularisme harus dibedakan dari sekularisasi. Sekularisasi adalah gerakan sosial yang memperjuangkan proses dunia ini sedang menuju pada otonominya sendiri, tapi masih mau mempertimbangkan dan memperhitungkan peran Tuhan.
Menurut Friedrich Gogarten dalam bukunya Verhangnis und Hoffnung der Meuzeit, Stuttgart (1955), sekularisasi adalah kelanjutan sah dari iman Kristen. Karena berkat kepercayaan akan penyelamatan yang datang dari Allah manusia dibebaskan dari penjara pemahaman dunia religius mitis.
Apalagi iman Kristen juga mendorong manusia untuk mengusahakan dunia dan realitasnya agar dunia menjadi sesuatu yang berharga. Menurut Gogarten, manusia itu milik Allah, tetapi harus hidup di dunia. Untuk itu manusia harus punya sikap yang tepat di hadapan Allah dan dunia.
Sikap yang tepat adalah membiarkan Allah tetap Allah dan dunia tetap dunia. Jangan menukar kedua hal itu. Atau dalam bahasa Cak Nur, yang ‘ukhrawi’ jangan diduniawikan, sebaliknya yang duniawi jangan diukhrawikan.
Meski demikian, secara jujur harus diakui bahwa sikap Gereja (khususnya Katolik) sendiri sebenarnya terlihat masih ambivalen dalam menyikapi sekularisasi. (Kalau terhadap sekularisme, jelas Gereja menolak). Menurut Thomas F.O’Dea dalam The Sociology of Religion, hal. 88, Gereja merupakan pendorong utama sekularisasi sekaligus penentangnya (”The Church was both sponsor and opponent”).
Ketika George W. Bush gemar sekali mengusung simbol-simbol agama dalam kebijakan pemerintahannya, para teolog dan agamawan Katolik di Amerika menyebut ada bahaya bagi sistem pemerintahan sekuler di Amerika.
Sementara itu di sisi lain, Paus seringkali mengungkapkan kegelisahannya bahwa sekularisasi yang sudah membawa kemajuan di bidang iptek itu akhirnya justru menjadi sekularisme, ideologi yang anti-agama dan Tuhan. Cuma Gogarten mengingatkan sekularisasi tidak akan bisa dihadang atau dihapus dengan mengkristenkan (meng-agamakan) dunia kembali. Karena itu
seperti dikatakan Rektor Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra, para pemimpin agama baik Islam maupun Kristen dan masyarakat lain seharusnya duduk bersama. Sikap sekularisme anti-religius yang sering didasarkan pada mispersepsi dan distorsi haruslah dihadapai secara bersama-sama (Republika, 5/2). Jadi jangan sampai umat beragama di sini justru bisa diadu domba oleh soal ini.

Penulis adalah, Teolog, Alumnus Seminari St Vincent de Paul.

In Memoriam Paus Yohanes Paulus II Jawa Pos 4 April 2007

Jawa Pos, 4 April 2005
In Memoriam Paus Yohanes Paulus II
oleh Tom Saptaatmaja *
http://yesaya.indocell.net/id736.htm
Paus Yohannes Paulus II, salah satu Paus yang menjabat paling lama dalam sejarah, meninggal dunia pada usia 84 tahun. Paus kelahiran 18 Mei 1920 itu wafat di kediamannya di Vatikan Sabtu malam, 2 April 2005, pukul 21.37 waktu setempat atau Minggu pagi, 3 April 2005, pukul 02.37 WIB, dengan dikelilingi sejumlah pembantu paling dekatnya yang berasal dari Polandia. Paus berdarah Polandia itu dipilih 16 Okotber 1978, Senin sore, tepat pukul 18.18 waktu setempat, menggantikan Paus Yohannes Paulus I yang hanya memerintah selama 33 hari.

Mengiringi kepergian Paus, TV, radio, hingga koran dipastikan memberikan liputan besar kepada tokoh yang popularitasnya melebihi selebritis dunia itu. Apalagi, tokoh bernama asli Karol Josef Wojtyla tersebut merupakan tokoh yang memiliki modus vivendi, tokoh yang bisa dibaca dari segala sudut baca.

Karena yang lain sudah banyak dibahas, saya hendak melihat sosok yang dianggap meruntuhkan komunisme di Eropa Timur itu dari perspektif dunia Islam. Sebab, yang satu ini jarang dibicarakan di media kita.

Mengapa? Sebab, dalam kunjungannya ke 123 negara di dunia, Paus ternyata tidak hanya menjumpai umatnya, tetapi juga umat dari beragam agama, termasuk umat Islam. Pada 1988, Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim menjadi negara ke-76 yang dikunjungi Paus. Bagi sosok yang ditinggal mati orang tuanya sejak umur 9 tahun itu, Islam dan umat muslim punya posisi signifikan.

Pertama-tama, di tengah pandangan minor di Barat, yang suka mendegradasi Islam sebagai agama teror, Paus dengan nama panggilan Lolek itu pernah mengungkapkan, Islam adalah agama keselamatan dan cinta damai.

Karena itu, Paus selalu mengajak muslim dan umat Kristiani yang punya kehendak baik untuk berlomba-lomba mendatangkan kebaikan bagi dunia ini, yang kini rawan dari segala macam ancaman teror, konflik, dan perang.

Ketika (Presiden) Gus Dur bertemu Paus Yohannes Paulus II 5 Februari 2000 lalu, keduanya berbicara tentang semangat dialog agama dan rasa kebersamaan di antara Islam dan Katolik. Paus juga menyebut konflik di Ambon atau Poso bukan konflik Islam-Kristen, tetapi sebagai konflik sosial yang sebenarnya lebih disebabkan faktor-faktor di luar agama, seperti persaingan ekonomi. Ketika perang Iraq, Paus juga lantang mengecam kepongahan pemerintahan Amerika.

Kedua, Paus juga berpandangan, Islam sebagai agama yang setara dengan Kristen. Itu bukan pendapat saya, tetapi pendapat Ibrahim M. Abu Rabi, profesor studi Islam di Hartford Seminari Amerika, tempat Menko Kesra Alwi Shihab pernah menjadi dosen tamu.

Menurut Ibrahim, At heart, the Pope comes to the conclusion that Islam has to be treated as a religion in its own right, and he therefore does not call openly for the conversion of Muslims to Christianity.

Jadi menurut Paus, Islam adalah agama yang memiliki kebenaran sendiri (otonom) yang harus dihormati. Karena itu, Paus tidak pernah mencoba menjadikan orang Islam berganti agama jadi Kristen. Itu perlu ditekankan karena seperti kita tahu, Kristen atau Nasrani memiliki banyak denominasi atau aliran.

Katolik sebagai mainstream besar dalam agama Kristen tegas menghargai Islam dan menolak segala pemaksaan berpindah agama dengan beragam dalih. Tentu saja, Paus atau Gereja Katolik tidak bisa berbuat apa-apa jika gereja-gereja di luar Katolik gencar melakukan Kristenisasi di negara-negara Islam.

Ucapan pengakuan Paus itu bukanlah basa-basi, tetapi diwujudkan langsung dalam tindakan nyata. Bayangkan setelah diktator Mussolini tidak mengizinkan masjid dibangun di atas Kota Roma, Paus Yahonnes Paulus II justru mengizinkan berdirinya masjid di kota Roma pada awal dekade 1990-an. Yohannes Paulus II juga menjadi Paus pertama yang pernah memasuki masjid ketika mengunjungi Masjid Ummayah di Damaskus dalam lawatannya di Syria pada 2000 lalu.

Malah pada saat memimpin misa di gereja kelahiran Nativity Betlehem pada 23 Maret 2000 dan terdengar azan dari sebuah masjid dekat Manger Square, di luar Gereja Kelahiran Kristus Betlehem, Paus duduk serta diam.

Mendiang juga meminta para pembantunya yang terdiri atas beberapa kardinal, uskup, dan pastor untuk berdiam diri mengikuti sikapnya hingga azan tadi berakhir. Umat, termasuk Presiden Palestina (saat itu) Yasser Arafat dan istrinya Suha yang duduk di jajaran terdepan dari umat, langsung bertepuk tangan.

Terkait perjuangan Palestina, Vatikan selalu berada di garis depan sebagai pengecam Israel. Tidak heran ketika mendengar wafat Paus, juru bicara Hammas juga mengungkapkan duka cita (TV7, 3 April).

Ketika di Eropa Barat terjadi kemerosotan moral sehingga gereja-gereja di sana banyak yang kosong, Paus juga selalu menjadikan Islam sebagai model untuk dicontoh. Paus memuji kekhusyukan doa umat muslim yang setia dengan lima waktunya.

Karena itu, Paus tidak senang jika di Barat umat Islam direpresi dan didiskriminasi. Ketika ribut-ribut soal pelarangan jilbab di Prancis, Gereja Katolik tampil sebagai penentang utama. Paus memang termasuk lantang dalam memperjuangkan kebebasan beragama sehingga dia mendorong dijadikannya Eropa sebagai kawasan kondusif bagi semua umat beragama, termasuk Islam. Buktinya, entah itu karena sikap Paus atau bukan, populasi Islam di Eropa tahun-tahun belakangan ini meningkat tajam.

Di Inggris, ada 1,3 juta, Jerman 3,2 juta, Prancis 4,2 juta, dan Amerika 7 juta. Beberapa pemerintah, seperti Inggris dan Prancis, bahkan membuat badan untuk melindungi kepentingan muslim, seperti perlindungan dari tindak kebencian (The Economist, August 10-16 2002).

* Tom Saptaatmaja, teolog, pegiat lintas agama, alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang dan seminari St Vincent de Paul.