Monday, June 25, 2012

Piala Eropa, Politik, dan Kita


Burhanuddin Muhtadi ; Pengajar FISIP UIN Jakarta,
Peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI)
SUMBER :  MEDIA INDONESIA, 11 Juni 2012




Perhelatan Piala Eropa 2012 di Polandia dan Ukraina resmi dibuka pada 8 Juni 2012 dengan ditandai laga pembuka tuan rumah Polandia melawan Yunani yang berakhir seri 1-1.

Gemuruh bola yang terjadi di Benua Eropa terasa setrumnya hingga ke Indonesia. Hal itu dimungkinkan oleh gencarnya pemberitaan media massa seputar pertandingan hingga pernak-pernik Piala Eropa, mulai pembukaan hingga pertandingan sejak babak penyisihan di setiap grup sampai babak puncak. Ulasan demi ulasan sebelum dan setelah pertandingan semua ditayangkan televisi.

Sepak bola memang sangat populer, tidak hanya di Nusantara, tapi juga di belahan dunia lainnya. Kemenangan dan kekalahan akan membawa dampak luar biasa. Masih ingat ketika tim Arab Saudi dibantai tanpa ampun oleh Jerman 0-8 di Piala Dunia 2002? `Kekalahan itu sebuah skandal', tulis koran Asharqul Awsath. `Arab Saudi bermain tanpa penyerang, tanpa gelandang, tanpa pertahanan, bahkan tanpa penjaga gawang', demikian tulis koran-koran di negara petrodolar sehari setelah kekalahan memalukan itu.

Setali tiga uang dengan kita. Di sini gairah sepak bola bisa menghipnosis sebagian besar lapisan masyarakat kita. Jangankan pertunjukan sekelas Piala Eropa, pertandingan Liga Primer dan La Liga hingga kompetisi tingkat lokal pun mampu menarik animo publik yang besar. Lihat saja dukungan para suporter terhadap klub-klub lokal kita. Tak jarang mengandung sentimen emosional dan fanatisme membabi buta yang rentan melahirkan holiganisme, bahkan menimbulkan kematian seperti yang terjadi berapa waktu lalu.

Jangan Lupakan

Ingar-bingar Piala Eropa yang berlangsung hingga 1 Juli 2012 tampaknya bakal disyukuri juga oleh politisi yang sedang tertimpa isu kurang sedap terkait dengan masalah korupsi politik. Bagi penggemar sepak bola, Piala Eropa bisa menghilangkan rasa penat dan katalisator dari kepenatan hidup. Namun bagi politisi bermasalah, ajang di Benua Biru itu bisa dijadikan sebagai rehat sejenak untuk mengalihkan sorotan publik atas kasus-kasus yang melilit mereka.

Namun, demi kepentingan bangsa yang lebih luas, publik dan media tak boleh mengendurkan perhatian dari kasus-kasus politik-hukum yang melilit politisi bermasalah. Jangan biarkan mereka bernapas barang sejenak untuk mengalihkan atau bahkan mengonsolidasi taktik lepas dari jeratan kasus-kasus yang mengimpit mereka. Publik harus terus-menerus menolak lupa. Memori publik tidak boleh pendek, apalagi menyangkut isu-isu politik-hukum yang menyangkut hajat hidup banyak orang di negeri ini.

Setidaknya ada beberapa kasus besar yang membetot perhatian publik, tapi hingga kini proses penyelesaian akhirnya masih belum tuntas. Kasus Century masih juga menggantung secara hukum meski secara politik DPR sudah mengetuk palu tanda adanya dugaan pelanggaran dalam pemberian dana talangan sebesar Rp6,7 triliun.

Drama Nazaruddin juga baru agak terlihat juntrungannya dalam kasus Wisma Atlet di Palembang. Kasus-kasus lain seperti korupsi mafia Nazaruddin dan Angelina Sondakh di seputar proyek pengadaan laboratorium di banyak universitas juga belum jelas ujung pangkalnya. Mafia Banggar DPR yang dipicu terkuaknya suap terhadap Wa Ode Nurhayati juga baru melibas sekrup kecil dari jalinan sistematis perampok yang menjarah uang negara.

Kasus Hambalang lebih ironis. Kemenpora dan Komisi X DPR saling melempar tanggung jawab atas dugaan rasuah terhadap proyek triliunan rupiah di Bukit Hambalang. Aneh bin ajaib jika proyek pembangunan Hambalang bisa dibangun tanpa persetujuan DPR. Kasus cek pelawat memang memasuki babak baru dengan penahanan Miranda Goeltom. Namun, publik masih bertanya-tanya mampukah KPK menjerat orang kuat di balik miliaran rupiah yang digelontorkan kepada anggota-anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Golkar, dan PPP dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.
Hal itu belum termasuk kasus moralitas pribadi. Tersebarnya video porno yang diduga melibatkan anggota DPR makin menampar wibawa DPR. Akan tetapi, sang pelaku masih enggan mengakui dan berjiwa besar mundur dari jabatannya.

Deret Ukur

Berkembangbiaknya kasus-kasus korupsi politik makin menegaskan pemberantasan korupsi di negeri ini baru mengikuti deret hitung, padahal modus korupsi dan percepatan tindakan korupsi mengikuti deret ukur. Dengan kata lain, instrumen dan institusi dalam memberantas korupsi seperti KPK tidak sebanding dengan perkembangbiakan korupsi yang memutus urat nadi bangsa dari pusat hingga daerah.

Pada saat yang sama, politisi bermasalah sudah putus urat kemaluan. Mereka enggan mengundurkan diri dari jabatan dan berkukuh menunggu keputusan hukum yang bersifat tetap. Politisi kita lupa bahwa politik bukanlah melulu persoalan hukum formalistis. Politik adalah persepsi. Politik adalah masalah kepercayaan dan legitimasi sosial di mata publik. Seorang tersangka koruptor mungkin bisa selamat dari meja pengadilan, tapi secara sosial dia telah kehilangan kredibilitas di mata masyarakat.

Coba kita bandingkan dengan etika politik di negara lain. Presiden Jerman Christian Wulff beberapa waktu lalu mundur karena sering diberitakan media menerima hadiah sewaktu menjadi pejabat di Negara Bagian Lower Saxony. Mantan Presiden Korea Selatan Roh Moo-hyun malah bunuh diri karena tuduhan media dia menerima suap sebesar ‘hanya’ setara Rp55 miliar. Meski Roh menolak tuduhan itu, isu suap tersebut telah merusak kredibilitasnya hingga pada titik nadir. Lihat juga pejabat negara di ‘Negeri Samurai’ (Jepang). Mereka juga mengundurkan diri jika isu miring mulai menerpa, bukannya malah menunggu proses hukum selesai sambil mencari-cari celah lepas dari jeratan hukum.

Tiadanya budaya malu di kalangan politisi kita plus upaya pemberantasan korupsi yang kurang mendapatkan political will membuat kasus korupsi seperti beranak-pinak. Satu kasus belum selesai ditangani, muncul kasus-kasus berikutnya dengan skala dan tingkat perampokan yang tak kalah besar.

Kita juga sering bersibuk-sibuk ria menghabiskan energi untuk berbicara tentang pemberantasan korupsi pada hilirnya, tapi kurang memberi perhatian pada pemberantasan korupsi di hulunya.

Hulu korupsi, menurut Klitgaard, merupakan monopoli kekuasaan (monopoly of power), ditambah diskresi pejabat (discretion of official) tanpa diikuti pengawasan memadai (minus account ability) akan mendorong terjadinya korupsi. Partai merupakan hulu dan sumber korupsi karena memiliki banyak peran strategis dalam menentukan hitam-putihnya negara, tapi tidak diikuti dengan instrumen yang memadai untuk mencegah korupsi politik yang melibatkan partai. Makin krusialnya kewenangan partai tidak diikuti dengan transparansi sumber pendanaan partai. Partai memerlukan dana besar untuk memenuhi kebutuhan campaign finance dan party finance.

Besarnya dana yang dibutuhkan partai tidak sebanding dengan sumber penerimaan yang dibolehkan menurut aturan. Menurut UU, ada tiga sumber keuangan partai: iuran anggota, sumbangan yang sah menurut hukum, dan bantuan negara. Pada praktiknya, iuran anggota tidak berjalan secara maksimal. Partai lebih banyak bergantung pada `belas kasihan' sumbangan pihak ketiga, baik perorangan maupun perusahaan.

Anehnya, DPR malah membuka ruang ketergantungan yang makin besar dari pihak ketiga dengan menyetujui Revisi UU Partai Politik yang menaikkan batas atas sumbangan partai dari perusahaan hingga Rp7,5 miliar. DPR juga tidak mengatur pembatasan pengeluaran kampanye dan iklan dalam Revisi UU Pemilu. Lahirlah sistem politik berbiaya mahal, tanpa diikuti transparansi dan akuntabilitas serta reformasi pendanaan partai.

Akibatnya, proyek-proyek di pos-pos kementerian menjadi ajang `penjarahan', belum lagi ratusan BUMN dengan aset ribuan triliun rupiah yang membuat air liur politisi jahat terus menetes.

Semoga di tengah gegap-gempita Piala Eropa di Polandia dan Ukraina kita tidak melupakan sengkarut kasus-kasus korupsi politik yang terjadi di depan mata. Jangan biarkan politisi bermasalah menghirup napas lega barang sejenak karena kasus mereka tertimpa hiruk-pikuk perhelatan sepak bola di Eropa.

Paradoks Kemuliaan Sepak Bola


Amir Machmud NS ; Wartawan Suara Merdeka
SUMBER :  SUARA MERDEKA, 7 Juni 2012




MOMEN demi momen sepak bola seolah-olah menjadi “menara” pemersatu fokus umat manusia, namun juga tak pernah berhenti menyembulkan paradoks tentang “luka”. Inilah ruang yang memberi jaminan kebersatuan segala macam “sekte” yang menggelayuti bawah sadar manusia: tak ada sekat agama, politik, status sosial-ekonomi, golongan, dan sekat kesukuan.

 Bukankah tak akan ada yang mempermasalahkan, apa agamamu maka kamu menoleh ke Polandia-Ukraina untuk menikmati Piala Eropa? Tak pula ada kelompok fanatikus agama yang mempersoalkan, mengapa kamu mengidolakan kesebelasan tertentu yang berbeda ideologi denganmu. Tak akan ada yang menggugat mengapa kamu mendukung Mario Ballotelli dan bukan Thomas Mueller. Mengapa pula Jerman menerima keberadaan Mesut Oziel dan Sami Khedira; Prancis tak menyoal eksistensi Franck Ribery, Samir Nasri, dan Karim Benzema; atau Belanda tak kehilangan kondusivitas karena beda keyakinan agama Robin van Persie dari rata-rata anggota tim Oranye.

 Ya, karena sejatinya sepak bola adalah “taman bunga” dengan semerbak dan keelokan warna-warninya. Football without frontier, sepak bola tanpa batas. Ia menyatukan umat manusia dalam hakikat multikultur: kesamaan, kesetaraan; menjadikan panggung bola sebagai milik semua. Fasisme, chauvinisme, atau segala macam ideologi pemuja keunggulan tak pernah mendapat tempat. Uber alles bukan matra yang diterima jika dipahami dari konteks arogansi ras tertentu. Keultrakananan Marie Jean Le Pen yang melecehkan Zinedine Zidane dan kawan-kawan di tim juara dunia Prancis 1998 misalnya, bukankah hanya berbalas kecaman?

 Jadi apa artinya ketika seorang Mario Ballotelli menyampaikan ancaman untuk meninggalkan lapangan jika mendapat hinaan rasis di lapangan, dan ancaman itu dikuatkan oleh dukungan sikap seluruh anggota tim Italia?

 Pendirian striker yang diberi nomor punggung 9 oleh pelatih Cesare Prandelli itu tidak berlebihan. Rasisme, yang masih menghantui liga-liga Eropa, kini juga ditengarai menjadi virus pengancam di Polandia-Ukraina.

 Inilah paradoks kemuliaan sepak bola: realitas setback justru ketika Amerika Serikat dan negara-negara Barat tak berhenti mengampanyekan dan “mengekspor” demokrasi dengan aneka justifikasinya, termasuk ke negara-negara tertentu yang malah menimbulkan komplikasi kedaulatan.

 Di lapangan, kisah Rio Ferdinand yang membela adiknya, Anton dari cercaan rasis John Terry, atau sikap striker Liverpool Luis Suarez terhadap kapten Manchester United Patrice Evra adalah contoh hipokritas justru di jantung arena yang mengedepankan nilai-nilai sportmanship. Pemain asal Kamerun, Samuel Eto’o, tak henti meradang ketika masih bermain di Spanyol. Suara dan gerakan meniru monyet, lemparan kulit pisang, atau spanduk penistaan merupakan sikap verbal yang nyata-nyata mengekspresikan penelikungan elan multikultur sepak bola.

 Simaklah kegelisahan Franklin Foer, editor senior The New Republic, dalam  Memahami Dunia lewat Sepak Bola (2006), “... saya mulai curiga bahwa globalisasi sebenarnya tengah memperkuat entitas-entitas lokal dengan cara yang tidak selalu bagus...”

 Perlawanan Terakhir

 Memilih mereaksi perlakuan rasis dengan meninggalkan lapangan merupakan perlawanan terakhir, ketika kampanye “Say No to Racism” belum mampu menyentuh hati mereka yang merasa diberkahi kemuliaan hanya karena berkulit warna tertentu.

 Tak sedikit contoh betapa fakta-fakta perlakuan itu menumpahkan air mata, menguak luka, dan menindas kepercayaan diri manusia.

 Hukuman organisasional berupa larangan bermain untuk beberapa laga, atau peradilan seperti yang dihadapi oleh John Terry, terbukti belum menjadi terapi penjera, karena antirasisme hanya akan efektif jika tumbuh menginternal sebagai sikap.

 Bukankah pelatih Spanyol di Piala Eropa 2008, Luis Aragones justru memperkuat paradoks lewat caranya memotivasi Jose Antonio Reyes, dengan menyebut pembanding Thiery Henry dari warna kulitnya? Fabio Capello juga digugat para aktivis di Inggris karena mempertahankan ban kapten John Terry yang diduga melecehkan Anton Ferdinand. Kini, walaupun beralasan murni pilihan teknis, keputusan pelatih Inggris Roy Hodgson membawa Terry dan menepikan Rio Ferdinand juga banyak dipertanyakan.

 Di satu sisi, dinamika menggembirakan muncul dari keputusan para pelatih yang membangun “taman bunga” seperti Prancis di Piala Dunia 1998, Piala Eropa 2000, juga tim Euro 2012; atau skuad Jerman di Afrika Selatan 2010 dan sekarang.

 Sikap Cesare Prandelli yang men-support ancaman Ballotelli juga menjadi angin segar bagi kesadaran melawan rasisme.

 Pada sisi lain, “luka” dari cemooh, cerca, dan sikap para pemain yang masih banyak meletupkan hipokritas, juga suporter-suporter ultras yang “sok putih”, memaparkan latar kenyataan lain betapa sepak bola masih menjadi ruang perjuangan untuk menjaga konsistensi stamina menyetarakan semua.

 Dalam masyarakat multikultural, tulis Richard Giulianotti dalam Sepak Bola: Pesona Sihir Permainan Global (2006), heterogenitas suara nasionalis khususnya sangat mencolok. Contohnya, saat Prancis memenangi Piala Dunia 1998 di Tanah Airnya, kemenangan itu disambut oleh berbagai corak pendapat etnis dan politis; rakyat keturunan Afrika Utara membentangkan bendera tiga warna bersama dengan bendera nasional Aljazair.

 Intinya adalah ketulusan keberterimaan. Pada saatnya, sikap antirasisme itu harus membentuk penghayatan: orang-orang di lingkungan industri sepak bola Eropa menerima ras berbeda bukan sekadar lantaran kehebatan skill dan gol-golnya melainkan karena para pemain yang “dibedakan” itu adalah bagian dari mereka.

 Sepak bola hanya forum kecil dari banyak medium penyadaran tentang keindahan persaudaraan sejati...

Sunday, June 24, 2012

Bola Mania by Yuswohady


Pengamat Bisnis dan Pemasaran Blog: www.yuswohady.com
SUMBER :  SINDO, 10 Juni 2012




“Bola Mania”, sebutan saya untuk para penikmat dan penggila sepak bola (“soccer consumer”),adalah pasar yang sangat menggiurkan tidak hanya bagi tim dan klub sepak bola, tapi juga bagi merek Anda.

Merek apa pun, mulai dari yang terkait dengan sepak bola (baju,sepatu, dan perlengkapan sepak bola); yang terkait secara tidak langsung (snack, kacang, minuman dalam kemasan, kamera, dan TV); hingga yang sama sekali tidak terkait (ponsel, mobil, laptop, bank, dan maskapai penerbangan). Ya, karena sepak bola adalah magnet yang luar biasa powerful dalam menarik perhatian jutaan konsumen. Semua orang kepincut pada olahraga satu ini.

 Di Indonesia misalnya hampir semua lapisan masyarakat suka bola. Ada yang hard core alias mereka yang fanatik mencintai bola sampai ke ubun-ubun. Ada yang cintanya angot-angotan, alias suka bola kalau pas ada World Cup atau Euro seperti sekarang. Karena itu, sebagai pemasar, Anda harus menggarap pasar Bola Mania ini secara superserius, bahkan kalau perlu fokus mengaitkan identitas merek (brand identitiy & association) Anda dengan para Bola Mania. Berikut ini adalah alasan-alasan strategis kenapa para Bola Mania adalah aset superberharga bagi merek dan produk Anda.

Fanatisme

 Banyak dari para Bola Mania memiliki fanatisme luar biasa kepada klub atau pemain yang dicintainya. Seringkali hubungan ini tak sebatas emosional (emotional connection), tetapi bahkan spiritual (spiritual connection) sehingga mereka menjadi pembela (evangelist) yang luar biasa.

 Dalam pemasaran, membentuk konsumen menjadi fanatik dan evangelist merupakan pekerjaan tertinggi sekaligus tersulit dalam proses membangun merek (brand building). Karena itu, ketika para Bola Mania ini sudah memiliki fanatisme dan evangelisme, tentu saja ini menjadi advantage bagi para pemasar. Pemasar bisa “mengambil alih” fanatisme dan evangelisme dengan mengidentikkan merek dengan pemain atau klub.

Melintas Status Sosial

 Bola Mania juga merupakan pasar yang luar biasa besar karena semua kalangan masyarakat masuk di dalamnya. Ya, karena pria-wanita, tua-muda, kaya-miskin, presiden hingga rakyat jelata, pegawai kantoran hingga petani, ahli agama hingga koruptor, semuanya menyukai bola. Tak hanya itu, dengan konsumen yang melintas status sosial, sepak bola identik dengan olahraga yang merakyat.

 Bagi merek-merek yang menarget pasar massal (mass market seperti fast moving consumer good atau FMCG, misalnya) citra merek yang bersifat universal dan merakyat semacam ini merupakan posisi ideal yang didambakan setiap pemasar. Dengan mengoneksikan merek Anda dengan para Bola Mania, dengan sendirinya merek Anda akan memiliki citra sebagai merek yang merakyat yang diterima semua kalangan.

Sustainable Seasonal

 Kebanyakan event olahraga bersifat musiman (seasonal). Maksudnya, demam para fansnya tergantung pada event besar yang sedang digelar. Badminton marak ketika Thomas Cup sedang digelar; basket demam ketika NBA sedang panas-panasnya; tenis menjadi hot ketika turnamen Grand Slam sedang dibesut.

 Sepak bola lain cerita. Turnamen sepak bola terus bergulir sepanjang tahun sambung-menyambung tanpa pernah kenal berhenti mulai dari World Cup, UEFA Euro, FA Cup, Liga Serie A Italia, La Liga, Liga Champion AFC, Liga Indonesia, hingga Liga Primer Indonesia. Itu artinya, “demam bola” praktis terjadi setiap saat dan berlangsung terus-menerus sepanjang tahun. Karena terus berlangsung sepanjang tahun, upaya pemasar menggarap pasar Bola Mania bisa dilakukan secara berkelanjutan sepanjang tahun, bukan bersifat musiman (seasonal marketing).

Komunitas

 Pasar Bola Mania juga strategis karena secara alamiah mereka telah membentuk sebuah komunitas solid. Kita tahu saat ini klub-klub top Eropa seperti MU, Chelsea, Real Madrid, Juventus, atau AC Milan telah memiliki komunitas fanatik yang tersebar di berbagai kota di Tanah Air. Mereka rutin melakukan berbagai aktivitas (community activation) untuk menghidupkan dan mempererat jalinan kedekatan antaranggota komunitas.

 Apa untungnya ini bagi merek? Ketika konsumen sudah solid terbentuk menjadi komunitas, upaya pemasar untuk menjadikan mereka sebagai pembela merek (evangelist) akan menjadi lebih mudah. Anda, para pemasar, harus aktif mendekati komunitas-komunitas Bola Mania ini agar fanatisme dan evangelisme mereka tak sebatas kepada pemain atau klub, tapi juga sedikit digeser ke merek Anda.

 Future Market

 Terakhir, jangan lupa bahwa sebagian besar para Bola Mania ini adalah kalangan anak muda. Riset di seluruh dunia menunjukkan bahwa secara rata-rata jumlah penggila bola ini sebesar 64% berasal dari kalangan anak muda (usia di bawah 44 tahun). Dalam pemasaran, kalau Anda menggarap pasar anak muda, dua keuntungan sekaligus akan didapatkan. Pertama, Anda mendapatkan pasar saat ini.

 Kedua, Anda berinvestasi untuk mendapatkan pasar masa depan. Ya, karena ketika Anda berhasil menggaet hati anak muda tersebut, sampai tua ia akan loyal pada merek Anda. Dengan kata lain, ketika Anda menarget pasar Bola Mania, sesungguhnya Anda berinvestasi untuk membangun pasar masa depan. Menarget pasar Bola Mania berarti menjamin keberlangsungan (sustainability) pasar masa depan.

 Melihat begitu ranumnya pasar Bola Mania di atas, saya cuma bisa mengimbau, mari kita jadikan Euro 2012 sekarang ini sebagai momentum kebangkitan kesadaran kita (kayak Sumpah Pemuda aja, hehehe...) untuk menggarap pasar Bola Mania secara lebih serius dan total.

Selamat begadang menonton Euro. Ingat, jangan sampai telat kerja apalagi bolos dengan alasan nonton Euro sampai subuh. Hidup Spanyol!!! ●

Berhitung Ekonomi di Piala Eropa


Abdullah Sammy ; Wartawan Republika
SUMBER :  REPUBLIKA, 09 Juni 2012




Bukan menjadi rahasia bahwa di setiap event olah raga memuat kepentingan ekonomi yang diusung setiap negara peserta. Dan, hanya ada tiga event olahraga di bumi ini yang bisa memberi keuntungan ekonomi sangat besar, yakni Olimpiade Musim Panas, Piala Dunia FIFA, dan Piala Eropa.

Khusus penyelenggaraan Piala Eropa 2012 di Polandia dan Ukraina kali ini, motif ekonomi akan makin dikejar oleh tiap negara peserta. Pasalnya, ekonomi Eropa kini sedang sakit parah. Bahkan, para pengamat ekonomi menyebut krisis perbankan yang kini melanda Eropa adalah yang terburuk sejak 1929.

Semua krisis yang menghantam Eropa itu melibatkan negara-negara yang berpartisipasi dalam Piala Eropa 2012. Yunani yang menghuni grup A adalah negara yang menyebabkan efek domino kejatuhan ekonomi Eropa.

Berbeda dengan strategi timnas sepak bolanya yang mengusung prinsip defensif, ekonomi Negeri Para Dewa itu justru ultra-offensive. Jika diibaratkan strategi sepak bola, negara Yunani memainkan all out attack dengan menguras dalam-dalam anggarannya untuk membiayai keuangan negara.

Pendekatan defisit anggaran dengan mengandalkan utang yang sangat besar menjadi pilihan Yunani untuk mengejar ketertinggalan ekonominya dari negara lain di zona Eropa. Strategi Yunani ini sempat membuahkan hasil manis dengan pertumbuhan ekonomi negara itu sepanjang awal 2000-an.

Namun, pertumbuhan Yunani tidak berbanding lurus dengan utang negara itu yang semakin menggila. Walhasil, saat utang itu jatuh tempo, seribu dewa Yunani pun tidak sanggup membayarnya.

Yang celaka, utang Yunani terkait dengan sumber pendapatan Italia, negara yang di Piala Eropa 2012 menempati Grup C. Padahal, pembayaran utang dari Yunani diperlukan Italia untuk membayar utang pada negara yang kini menjadi rival mereka di putaran grup Piala Eropa, Spanyol.

Walhasil, krisis Yunani merembet ke negeri Pizza dan Matador. Krisis pun makin parah, pembayaran utang yang macet dari Italia membuat Spanyol juga tidak mampu menyelesaikan kewajiban keuangannya pada Jerman. Padahal, Jerman butuh uang pembayaran dari negara yang menaklukkan mereka di final Piala Eropa 2008 itu untuk membiayai perekonomian dalam negeri.

Praktis, ekonomi Jerman tergoncang yang mengakibatkan sejumlah perusahaan harus memberhentikan pekerjanya.
 Sebagai kekuatan ekonomi utama di Eropa, goyahnya ekonomi Jerman juga mengakibatkan iklim ekonomi benua biru itu jadi lesu. Kini, seluruh pemerintahan negara yang berpartisipasi di Piala Eropa 2012 sedang berpikir keras soal bagaimana cara menyelamatkan ekonomi negaranya masing-masing.

Bagi Jerman, adanya ajang Piala Eropa mampu jadi penyelamat, terutama di sektor industri negara itu. Seperti dilansir Deutsche Welle, setiap ajang sepak bola seperti Piala Dunia dan Piala Eropa, perusahaan produk olahraga terbesar Jerman mampu mencetak keuntungan hingga 3 miliar dolar AS.

Perusahaan itu pun mampu menyerap 50 ribu pekerja selama berlangsungnya Euro. Banyak pesanan kostum kesebelasan negara peserta dan produk yang terkait, membuat keuntungan perusahaan Jerman itu melonjak tajam.

Pun halnya Italia dan Spanyol. Hampir selama tiga minggu pelaksanaan Piala Eropa, kedua negara itu dipastikan akan mendapat pemasukan yang fantastis dari pajak tempat hiburan. Banyak nya pendukung Azzurri dan tim Matador yang menyerbu bar, terutama kala negara itu bersua di laga perdana Grup C, dipastikan akan menghasilkan pemasukan besar.

Khusus bagi Yunani, ajang Piala Ero pa kali ini adalah kesempatan mereka untuk memperbaiki citra negara itu, seusai dihantam krisis ekonomi. Merujuk keberhasilan Yunani menjadi juara Piala Eropa 2008 yang berimplikasi pada melonjaknya keuntungan di sektor pariwisata, hal serupa kini coba diretas mereka di Polandia Ukraina.

Selama ini, sektor pariwisata jadi andalan Yunani untuk mendapat fulus pembayaran mega-utangnya. Status Yunani sebagai negara ketujuh tujuan utama turis dunia dengan pemasukan yang mencapai miliaran dolar, tentu ingin di pertahankan dengan adanya promosi yang baik. Dan, tidak ada promosi yang lebih baik ketimbang tampil baik di Piala Eropa 2012.

Dengan kenyataan ini, Piala Eropa pun jadi berkah yang tersembunyi di tengah krisis ekonomi yang menerpa Benua Biru. Syarat bagi negara peserta untuk mengeruk keuntungan ekonomi pun sederhana; cukup bertahan selama mungkin di kejuaraan atau kucuran dolar menghilang.

Euro, Euforia, Eureka


Agus Luthfi Rohman ; Mahasiswa Pascasarjana IAIN Sunan Ampel,
Alumnus Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo
Sumber :  REPUBLIKA, 20 Juni 2012



Tahun 2012 ini, Polandia Ukraina menjadi tempat perhelatan Piala Eropa (Euro), kompetisi sepak bola paling akbar antarne gara di Benua Biru itu. Pertarungan antarjawara telah lolos babak kualifikasi. Pesta sepak bola hanya terjadi empat tahun sekali di Benua Eropa.

Para suporter dari seluruh penjuru Eropa berbondong-bondong menuju satu titik di mana kompetisi itu dihelat untuk mendukung timnas mereka bahkan tidak sedikit juga suporter luar Eropa--dari seluruh penjuru dunia-yang ikut nimbrung untuk mendukung tim kesayangan atau untuk sekadar menyaksikan pertandingan menuju puncak tertinggi kejuaraan tersebut. Eropa saat ini menjadi “surga“ bagi para pesepak bola profesional. Hal ini tidak terlepas dari “nikmat-nikmat surga dunia“ yang mereka dapatkan sebagai “balasan“ atas apa yang mereka tunjukkan di atas lapangan.

Berangkat dari hal ini, banyak dari para pesepak bola seantero planet Bumi ini yang tergiur dengan iming-iming tersebut. Gaji selangit, popularitas, karier, dan hal-hal yang mampu membuat manusia seperti mabuk kepayang bisa mereka dapatkan hanya dengan bermodalkan keahlian dalam mengolah bola.

Apalagi setelah banyak bukti nyata dari para senior mereka yang telah lebih dulu terjun ke dalamnya yang mampu memperbaiki taraf hidup. Olahraga yang dulu hanya sekadar hiburan, kini telah menjadi industri. Pemain yang dulunya sangat miskin menjadi sangat kaya, dari anak jalanan menjadi anak gedongan, dari hidup yang penuh masalah kesederhanaan kini menjadi glamor dengan gelimang harta benda yang supermewah. Praktis hal ini semakin membuat para pesepak bola di luar benua tersebut iri dan kepincut untuk mengikuti jejak mereka.

Piala eropa yang dihelat Juni-Juli ini telah sukses mencuri perhatian dunia.
 Kompetisi yang merupakan ajang terbesar kedua setelah Piala Dunia mampu menyedot perhatian besar masyarakat. Kompetisi ini mampu mengalahkan kompetisi dari benua lainnya.

Hal ini, menurut penulis, adalah imbas dari banyaknya pesepak bola-pesepak bola top yang membanjiri dan merata di daratan Eropa. Disamping pengaruh image yang sudah terpatri di pikiran masyarakat bahwa liga-liga di benua Eropa adalah liga-liga yang berkualitas. Karena itu, banyak pesepak bola dari berbagai negara berebut untuk bisa bermain di liga Eropa, seperti Liga Primer Inggris, La Liga Spanyol, Bundesliga Jerman, Eredivisie Belanda, Liga Prancis, dan lainnya.

Bak sebuah keniscayaan bahwa pertandingan-pertandingan Piala Eropa selalu banyak disaksikan bahkan secara langsung maupun siaran tunda. Perhelatan Piala Eropa menjadi salah satu bentuk euforia tim yang telah lolos babak kualifikasi, yang klimaksnya adalah ketika salah satu tim berhasil menjuarai turnamen tersebut. Ketika hal itu terjadi maka atmosfer klimaks euforia itu tidak hanya terasa di Polandia-Ukraina tempat final Euro akan digelar saja, namun juga di negara tempat jawara itu berasal dan di penjuru dunia yang turut mendukung tim jawara.

Sepak bola pada masa kini menjelma menjadi salah satu olahraga yang paling populer dan digandrungi hampir seluruh penduduk Bumi. Di antara mereka ada yang terpengaruh oleh sekelilingnya, ada juga yang memang penikmat dan pecinta olahraga ini. Dan, ada pula yang hanya sekadar ikut-ikutan daripada menjadi orang asing di lingkungan sendiri. Situasi seperti ini dimanfaatkan dengan baik oleh orang-orang yang melek dan memiliki kepekaan tinggi dalam hal bisnis. Karena banyaknya demand, otomatis supply juga akan diperbanyak dan profit akan terus menanjak sehingga hal ini menjadi lahan penghasil uang bagi mereka.

Lagi-lagi, penulis ingin berandaiandai dengan menggambarkan sepak bola sebagai “agama baru“ yang muncul di muka bumi. Dalam “agama“ ini, tim-tim sepak bola menjadi sekte-sekte atau aliran-alirannya, pelatih tim berperan sebagai kiai atau pasturnya, asisten pelatih dan staf sebagai ustaz atau biarawannya, para pemain yang dilatih sebagai santri atau muridnya, fans sebagai pengikut aliran-aliran tersebut.

Holligan, Ultras, dan sebutan lain untuk suporter fanatik diandaikan sebagai pengikut garis kerasnya, lapangan sebagai tempat ibadahnya. “Agama“ ini menyerukan kekompakan, persatuan, dan menihilkan perbedaan walaupun pada praktiknya banyak sekali kasus yang terkait individualisme, perselisihan, dan rasisme.

Di dalamnya juga terdapat perintah dan larangan yang apabila dilanggar akan mendatangkan hukuman atau balasan, seperti perintah untuk berdisiplin dalam latihan yang apabila tidak dikerjakan akan mendatangkan “dosa“ yang berakibat pada hukuman berupa skors atau tidak dimainkan. Dan, seperti larangan untuk melakukan tackle keras yang bila dilakukan akan mendapatkan ganjaran berupa kartu peringatan.

Sepak bola bagaikan “agama“ unik yang statistik jumlah penganutnya terus meningkat yang terdiri dari berbagai agama dan elemen masyarakat, “agama“ yang menghibur dan menyenangkan para pecintanya. Bahkan, bisa membuat para suporter yang fanatik lupa akan kewajiban-kewajiban agamanya. ●

Spanyol, Kaya tetapi Miskin-Sindhunata

Sindhunata ; Wartawan; Pemimpin Redaksi Majalah Basis, Yogyakarta
Sumber : KOMPAS, 23 Juni 2012



Siapa mencintai sepak bola indah, dia harus memuja kesebelasan Spanyol. Jika dia mematok keindahan jadi normatif, dia harus rela Spanyol jadi juara. Dan dia harus ikhlas pula untuk mengacungkan jari, bahwa Spanyol-lah penemu sepak bola baru di awal abad ini.

Memang, siapa tak kagum akan tiki-taka? Teknik gemilang khas Spanyol ini bisa benar-benar membuat tegang saraf lawan. Mereka bisa menguasai bola dalam ruang sesempit apa pun. Operan bola-bola pendek Xavi, Iniesta, dan kawan-kawannya begitu cermat dan tak terduga, sampai lawan sulit memperkirakannya. Ya, Spanyol dengan tiki-takanya seakan mendegradasikan lawannya menjadi orang yang kurang mampu bermain bola.

Tapi sekarang masihkah Spanyol seampuh dulu? Tidak! Di Piala Eropa 2012 ini, lebih-lebih ketika melawan Kroasia, Spanyol belum berhasil mengembangkan permainannya yang khas. Di sana sini tiki-takanya macet dan, lebih parah lagi, mandul.
Malah, hampir saja mereka terjungkal. Koran-koran Spanyol mengakui hal itu, dan menulis, untung mereka diselamatkan ketidakcermatan wasit Stark, yang seharusnya menghadiahkan dua penalti bagi Kroasia.

Tulis koran Marca: Siapa mau jadi juara Eropa, dia harus menderita. Tak pernah Spanyol gemetar seperti ini walau seperti biasanya mereka selalu menang. Dan tulis harian As: ”La Roja” seperti Barca tanpa Messi: banyak kontrol bola, unggul di atas lawan, tapi nyaris tanpa peluang gol.

Dalam babak pertama Piala Eropa ini, Spanyol seperti telah kehilangan aura ketakterkalahannya. Kendati menang atas Kroasia, pemain-pemain Spanyol meninggalkan lapangan tanpa selebrasi berlebihan, seperti biasa dilakukan tim yang lain karena kegembiraannya. Ini seakan sebuah indikasi bahwa mereka bermain jauh di bawah target yang mereka inginkan.

”Tim-tim lain tampak gembira, saling berpelukan, tapi kami tidak. Kami beranjak dari miskin menuju kaya dengan terlalu cepat dan kami tidak bisa menghargai apa yang kami miliki,” kata Vicente del Bosque.

Kiranya Del Bosque mengiaskan dengan baik kondisi Spanyol saat ini. Memang sekarang Spanyol seakan menjadi korban dari kesuksesannya sendiri. Setelah mengamati kembali permainan pemainnya ketika melawan Kroasia, Del Bosque berpendapat, sesungguhnya permainan mereka tidaklah jelek.

Tapi Del Bosque sadar, permainan sekadar itu bukanlah khitah Spanyol. Bermain tak sesuai dengan khitah itu, walau menang, berarti kegagalan. Mereka seperti orang kaya yang tak bisa menghargai kekayaannya. Mungkin karena mereka jadi kaya dengan terlalu cepat. Ini ada benarnya, sebab baru dalam dekade terakhir ini Spanyol meraih prestasi luar biasa. Sebelumnya, mereka selalu kandas dalam percaturan dunia bola.

Para pemain asuhan Del Bosque berharap lawan memainkan dan mengembangkan permainannya sehingga mereka juga bisa leluasa memainkan tiki-takanya. Ternyata, menghadapi Spanyol, tim lawan hanya berusaha bagaimana membela diri agar Iniesta, Xavi, dan kawan-kawannya tidak sampai mengobrak-abrik pertahanannya. Maka, melawan Spanyol, Kroasia yang adatnya ofensif menjadi tim yang lebih mengandalkan serangan balik.

”Rasanya seperti seluruh dunia melawan Spanyol,” kata Iker Casillas. ”Menghadapi kami, lawan-lawan kami melakukan apa yang tidak pernah mereka lakukan,” tambah Casillas. Singkatnya, ”melawan Spanyol, kamu tak lagi memainkan yang kamu inginkan, tapi yang dapat kamu lakukan”.

Itu juga diakui Pelatih Kroasia Slaven Bilic. ”Melawan juara dunia, kami tidak dapat mengharap bahwa kami akan menciptakan lima atau enam kans. Jika kami maju ke depan, kami membuat diri sendiri terbuka. Kuncinya, kami harus membela diri baik-baik. Kami harus melakukan penetrasi secepatnya, tapi itu pun tergantung keberuntungan,” begitu Bilic merumuskan taktik yang akan diterapkannya.

Kroasia kalah, tetapi mereka dianggap berhasil. Spanyol menang, tapi dianggap gagal. Tim lain boleh bertahan habis dan bermain defensif. Tapi kalau Spanyol melakukannya, mereka dianggap berkhianat terhadap khitahnya, tiki-taka. Kalau Spanyol menang, tapi tidak bertiki-taka secara maksimal, mereka pun dianggap bermain dengan menderita. Kalau mereka total bertiki-taka, tapi miskin gol, mereka pun dikatakan Barca tanpa Messi. Begitulah, Spanyol harus diukur dengan skala ukuran yang sama sekali berbeda dari ukuran yang normal. Dalam arti itulah mereka disebut menjadi ”korban dari kesuksesannya sendiri”.

”Kami dapat menjadi contoh bagi lawan-lawan Spanyol,” kata pemain Kroasia, Danijel Pranjic. Dan Pelatih Perancis Laurent Blanc mengakui itu. ”Kroasia telah menunjukkan bagaimana orang harus menghadapi Spanyol,” kata Blanc. Blanc sendiri mengatakan, Spanyol datang terlalu pagi bagi Perancis. Ia sadar, menghadapi Spanyol, Perancis akan sulit menguasai bola.

Apalagi, untuk sampai ke perempat final ini, Perancis harus berjalan tertatih-tatih. Siapa mengira mereka digebuk Swedia 0-2? Sekarang pun Blanc masih prihatin karena lini depan Perancis sangat tumpul. Mereka kurang ofensif. Umpan-umpan dan pasing-pasing bolanya tidak jitu. Nasri dan Benzema tak banyak menciptakan peluang, malah cenderung bermain individualistis.

”Tapi hari demi hari kami makin percaya diri,” kata Blanc. Buat Blanc, rasanya tak ada cara lain untuk melibas Spanyol kecuali memakai resep Kroasia: membuat Spanyol gagal dalam kesuksesannya, miskin dalam kekayaannya, tak percaya diri dalam tiki-takanya. Tidakkah di luar bola Spanyol juga sedang krisis di dalam, walau tampak kaya di luar?

Friday, June 22, 2012

Indonesia’s religious (in)tolerance

Angel Damayanti ; A Lecturer at the School of Social and Political Sciences
at the Indonesian Christian University, Jakarta
Sumber : JAKARTA POST, 18 Juni 2012



It is interesting to study the results of a Centre for Strategic and International Studies (CSIS) survey regarding Indonesia’s inter-religious relations (The Jakarta Post, June 6). Regardless of its validity and reliability due to the lack of respondent representation, one thing needs deep consideration.

The survey points out that the government is not the only cause of religious intolerance in Indonesia, but that society is also to blame. As seen by the respondents’ answers, religious intolerance is evident among communities.

The Indonesian government may fail to enforce the law and uphold the principle of “Unity in Diversity” through many ways. This is not to mention the unwillingness of the government to act firmly against perpetrators of religious intolerance.

Yet, the problem itself, according to the survey, lies in society. Reluctance among communities to acknowledge other’s rights, particularly freedom of religion, has led to such intolerance.

Despite the fact that the government guarantees freedom of religion, society in the survey shows that this is not true, particularly when it comes to building places of worship of different faiths.

As a predominantly Muslim country, the assumption of intolerance seems to be directed toward Muslim communities.

Some observers may think this true as there is a tendency of “santrinization” (“madrasa-ization”) as confirmed by Azyumardi Azra (in his paper Islam in Southeast Asia: Tolerance and Radicalism, presented at the University of Melbourne, April 6, 2005).

A classic study by Clifford Geertz in 1960s, published in his book Religion of Java, proves that Islam in Indonesia is not monolithic. There are at least three major societies of Islam in Indonesia, particularly in Java. These are Abangan, Santri and Priyayi. The Islamic society grouping certainly creates different behavior.

Both Abangan and Priyayi criticize madrasa students who think very highly of themselves regarding morality based on Islamic values. This can be understood as Abangan and Priyayi call themselves Muslims, but in practice they tend to make the religion congruous with animistic beliefs.

Yet, Abangan and Priyayi have different social statuses. While the Priyayi hold a higher social, political and economic level in society, the Abangan usually live in rural areas and work as farmers as well as laborers.

On the other hand, the madrasa students firmly adhere to Islamic law and practice their way of life accordingly. Most of them live in urban areas and work as merchants.

“Santrinization,” according to Azyumardi, happens in the light of Islamic schools and madrasa that are widespread in urban areas. The presence of Islamic educational institutions certainly changes the worldview of Muslims and plays an important role in modernizing Muslim society.

This is in accordance with a strong tendency toward Islamic lifestyles, emulated by Muslims. The significant number of annual pilgrims demonstrates this.

In line with an improvement in their economic standing, Muslims obviously want to demonstrate their obedience to the fifth pillar of Islam.

In addition, an increasing amount of religious alms and donations are distributed to poor Muslims. This is not to mention a tendency to establish Islamic institutions in Indonesia, such as Islamic banks, known also as sharia banks, Islamic insurance and Islamic credit unions.

However, there are at least two reasons to debunk the perception that Muslim society is the only cause of religious intolerance in Indonesia.

First, the increasing number of madrasa students does not necessarily lead Muslims to act hostile toward other religious groups.

There is another psychological mechanism that leads to a “hater” becoming a perpetrator of violence. Kumar Ramakrishna calls this a “situated individual personality.” (Radical Pathways: Understanding Muslim Radicalization in Indonesia, 2009). They may dislike other groups but they do not necessarily participate in violence.

According to the Situationists, it does not matter “who you are but where you are”. They believe that radicalization is a product of interaction between identity, culture and personality that resulted from environment and small group context.

Second, religious intolerance in Indonesia is an action-reaction process. Muslims are not the only community in Indonesia. Other ethnic and religious groups live in coexistence with Muslim society, such as Christians.

Like Islam, Christianity in Indonesia is also diverse. There is Presbyterianism, Lutheranism, Methodism, Pentecostalism, Charismatic and so forth (Robbie B.H. Goh, Christianity in Southeast Asia, 2005). Accordingly, they act and practice their faith differently based on their culture and doctrine.

Their diversity consequently leads each group to establish its own places of worship. This explains why in the same region there can be more than one church, even though the congregation is not many.

The principle of so-called church denomination has created this situation. Each group perceives its doctrine as the best. This subsequently triggers polarization among Christians.

Worse, the Christ’s Great Commission has been misconstrued. To some extent, it is assumed to collect as many congregation members as possible.

This situation arguably is perceived as a threat by other societies, mainly Muslims. This undoubtedly triggers religious intolerance.

Here, the role of religious leaders is important. Inter-religious dialogue is certainly needed.

Yet, it should not be merely talk among religious leaders. The substance has to be passed onto their congregations and implemented.

In addition, intra-religious dialogue should not be neglected. Dialogue is vital, in particular on the Christian side, to establish unity as well as to implement policies to support religious harmony.

Certainly, this would all be complementary to government efforts to maintain religious harmony in this country. ●