Monday, June 25, 2012

EURO 2012 , UTANG YUNANI DAN KITA


Sinar Harapan, 23 Juni 2012
Restu Iska Anna Putri*)

Apa yang terjadi pada timnas Yunani di ajang Euro atau Piala Eropa 2012, berimbas di dunia politik. Sebagai juara Piala Eropa 2004, timnas Yunani semula diprediksi tersingkir lebih awal, mengingat  hasil di dua laga awal di Grup A yang tidak begitu menggembirakan. Yunani ditahan draw tuan rumah Polandia 1-1 pada laga perdana (8/6), kemudian dikalahkan Ceko 1-2 (13/6)

Namun pada partai ketiga yang menentukan melawan Rusia (17/6), Negeri Para Dewa itu membuat Rusia terluka dengan  menang 1-0 berkat gol Giorgios Karagounis. Berdasar aturan baru UEFA (khususnya head to head), Yunani akhirnya melaju ke babak perempat final, menantang juara Grup B Jerman.

Pemilu

Hasil yang menggembirakan di lapangan hijau itu rupanya berlanjut di lapangan politik. Sukacita kemenangan atas Rusia itu menjadi bekal bagi 9,8 juta rakyat Yunani untuk pergi ke berbagai tempat pemungutan suara (TPS) pada Minggu (17/6).

Pemilu kali ini memang menentukan masa depan Yunani apakah akan tetap atau keluar dari zona euro. Maka bagi banyak negara lain, ketegangan menanti  hasil  pemilu Yunani sama dengan ketegangan menonton tim favorit di ajang Euro. Maklum pemilu Yunani punya  implikasi yang besar terhadap zona euro dan kekhawatiran keluarnya Yunani dari negara-negara bermata uang tunggal (Graexit) akan memicu efek domino yang dahsyat. 

Meski ekonominya stabil, Jerman juga mulai kelimpungan karena ada cukup banyak kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) di dalam negri. Syukurlah ada ajang Euro, mengingat di Jerman banyak industri yang diuntungkan. Misalnya perusahaan produk olahraga terbesar Jerman mampu mencetak keuntungan hingga 3 miliar dolar AS serta  mampu menyerap 50 ribu pekerja selama berlangsungnya Euro.Jadi soccernomics  bisa menyelmatkan Eropa dari krisis, paling tidak untuk sementara waktu.

Yang jadi pertanyaan banyak orang, mengapa krisis utang Yunani menimbulkan efek domino? Pasalnya utang Yunani menjadi  sumber pendapatan Italia. Dan ini diperlukan Negeri Pizza itu untuk membayar utang pada Spanyol. Dan pembayaran dari Italia diperlukan Spanyol untuk membayar kewajiban utangnya pada Jerman, negara yang ekonominya paling stabil di Uni Eropa.Jadi krisis utang Yunani membentuk lingkaran krisis yang menyeret negar-negara lain.

Bukan hanya di negara-negara zona Euro, krisis utang Eropa juga menjalar ke mana-mana, termasuk ke negri kita. Simak selama berhari-hari apa yang terjadi di Yunani atau krisis utang Eropa juga membuat mata uang Rupiah tertekan dan mendekati Rp 10.000 per 1 dollar AS.

Pasar Lega

Syukurlah akhirnya Partai New Democracy keluar sebagai pemenang pemilu Yunani. Kemenangan partai pendukung “bail out” atau dana talangan  ini sungguh melegakan pasar global, paling tidak untuk sementara waktu. Partai yang dipimpin oleh Antonio Samaras itu berhasil memenangkan pemilu di Yunani 17 Juni kemarin dengan suara 30 persen atau 130 kursi.Partai ini bersama partai Pasok yang juga pro Uni Eropa akan cukup membentuk koalisi yang mayoritas, dengan total kursi mencapai 163 dari 151 yang disyaratkan.

Beberapa saat sebelm pemilu, kepada BBC, Samaras menegaskan akan memimpin negerinya  keluar dari krisis keuangan dan tetap berada di zona euro. Dia menyatakan menerima kesepakatan mengenai utang Yunani,tetapi dia akan melakukan perundingan ulang dan mencari jalan keluar dari krisis.

Sebagaimana diketahui, meski perekonomian Yunani hanya berkontribusi 0,4% atas perekonomian dunia, namun krisis utang di negri itu mengancam banyak negara ke dalam krisis juga. Sekedar ”flashback”, krisis  mulai mengancam Yunani   pada kuartal kedua 2009 dengan kontraksi ekonomi 0,4 persen. Utang nasionalnya mencapai 350 miliar euro, lebih besar dibandingkan dengan penghasilan negara itu. ”Bailout” atau dana talangan tahap pertama sebesar  110 miliar euro pada pertengahan Mei 2010 belum cukup untuk menyelamatkan Yunani dari deraan krisis. Written-off (pemutihan hutang) Yunani yang diusulkanpun masih banyak dipertimbangkan dan belum menghasilkan keputusan berarti. Negara-negara zona Euro mendesak Yunani menerima  ”bail out” tahap II.Kita masih akan melihat, bagaimana strategi pemerintah Yunani yang baru di bawah Samaras dalam mencari jalan keluar.

Meski dunia masih menunggu sepak terjang pemerintah baru, namun berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia  mengaku lega atas hasil pemilu Yunani. Pasalnya BI sudah menyiapkan antisipasi,bila Yunani keluar dari zona Euro. Dengan hasil pemilu seperti itu, berarti BI tak perlu terlalu pusing.

Namun, sebaiknya BI memang tetap meningkatkan pasokan valas di pasar sesuai dengan kebutuhan. Sebagaimana diketahui, krisis utang Eropa paling dirasakan tekanannya di pasar valas dan pasar keuangan kita. Ini terjadi karena posisi utang luar negri swasta Indonesia dari Eropa per April 2012 mencapai 21,6 miliar dollar AS dengan rincian utang berasal dari Belanda (57,3%), Inggris (10,7%), Jerman (6,4%) dan Prancis (2,5%).

Pesan Untuk Kita

Para penggemar filsafat di dunia, termasuk dari Indonesia amat menggemari pemikiran para filosof Yunani klasik seperti Socrates, Aristoteles, Plato, Epicuros dsb.Nah, pemerintah kita juga perlu belajar tentang utang dan dampaknya. Krisis Yunani harus memberi  pelajaran pada kita.

Seperti diketahui, total utang pemerintah Indonesia hingga Mei 2012 mencapai Rp 1.944,14 triliun rupiah, naik Rp 140,65 triliun dari posisi di akhir tahun 2011 yang nilainya Rp 1.803,49 triliun rupiah. Konyolnya ada kabar  pemerintah berencana menambah utang dengan total hingga Rp 134 triliun untuk pembiayaan anggaran. Memang rasio utang kita  terus menurun.Tahun 2000, total utang kita  Rp 1.234,28 triliun dengan rasio 89% dan 2011 lalu, total utang jadi Rp 1.816,85 triliun  dengan rasio 28,2%.Jadi masih aman.

Meski demikian, kita perlu belajar hati-hati. Utang yang besar, pasti akan menjadi kendala untuk mencapai kesejahteraan yang merata dan adil. Bunga yang besar, sebenarnya bisa dipakai untuk mengentas kemiskinan. Jadi perlu ada peninjauan terhadap kegemaran dalam berutang ini. Bila tidak perlu utang lagi, ya jangan berutang. Apalagi kesadaran betapa berbahayanya utang sering datang belakangan setelah nasi menjadi bubur, sebagaimana dialami Yunani.Kita berharap saja, pemerintah baru Yunani akan bisa menyelamatkan negri itu dari  krisis dan dunia, termasuk kita tidak terancam akan dampaknya.


*)Praktisi Keuangan dan Perbankan sekaligus Penggemar Bola di Balikpapan

EURO, KRISIS DAN IRASIONALITAS BOLA


Koran Tempo, Sabtu 23 Juni 2012
Restu Iska Anna Putri, Praktisi Keuangan-Perbankan dan  Bolamania di Balikpapan

Nyaris semua media memblow up perhelatan akbar Euro 2012 atau Piala Eropa yang digelar di Polandia dan Ukraina (8 Juni- 1 Juli 2012). Semua mata, khususnya pecandu bola rela memelototi satu pertandingan ke pertandingan lain, meski harus begadang atau melek malam hari.

Euro 2012 jelas  menjadi suguhan yang siap membebaskan kita dari rutinitas dan  banyak masalah pelik di dalam negri. Mari lupakan kisruh  dua PSSI di level atas persepakbolaan nasional serta fanatisme yang sampai merenggut nyawa di level bawah.  Sejenak gegap gempita perpolitikan kita yang kian memanas menjelang Pilpres-Pileg 2014, juga PilguB DKI terlupakan, karena Piala Eropa. Meski hanya menjadi penonton, serasa kita ikut bermain dan terlibat, tiap kali menonton di televisi.

Mengukir Sejarah

Dengan slogannya “Creating History Together”(“Mengukir Sejarah Bersama”), ajang Euro kali ini sudah mengukir. Sebab sejak digelar pertama kali pada 1960 di Prancis dengan Uni Soviet sebagai juara, ajang empat tahunan ini, digelar di Eropa Tengah dan Timur. Maklum, sebelumnya selalu diselenggarakan di Eropa Barat. Polandia dan Ukraina adalah dua negara yang dulu hidup dalam rezim komunis, tapi kini sudah menjadi negara kapitalis.

Lalu menurut otoritas sepak bola Eropa UEFA, Euro 2012 juga mencetak sejarah, mengingat untuk ketiga kalinya, dihelat bersama oleh dua negara yang saling berdekatan secara gografis. Seperti diketahui, Euro 2000 di Belanda dan Belgia, sedangkan  Euro 2008 di Swiss dan Austria.

Tak heran, Piala Eropa selalu ditunggu. Kini Piala Eropa mungkin hanya kalah bersaing dengan Piala Dunia, yang sudah digelar sejak 1930.Atau mungkin juga ada yang beropini, Euro malah lebih menarik daripada Piala Dunia. Pasalnya para pemain timnas negara yang bermain di ajang Euro, lahir dari liga-liga terbaik di dunia, entah liga Inggris, Spanyol, Italia atau Jerman.

Apalagi dari sisi peserta, jumlahnya juga semakin bertambah. Sejak 1960 hingga 1976, hanya empat negara yang tampil di putaran final setelah lolos dari babak kualifikasi.  Seiring dengan waktu, jumlah peserta putaran final meningkat menjadi delapan pada kurun 1980 hingga 1992. Dan jumlah peserta di putaran final meningkat menjadi 16 tim sejak 1996, sehingga makin meriah (Simak  logo Euro 2012).

Dengan maskotnya Slavek (Polandia) dan Slavko (Ukraina), diharapkan ajang Euro  2012 mampu menyedot lebih dari setengah juta penonton di 8 stadion di 8 kota, serta milyaran penonton tayangan langsung di televisi.

Yang heboh, dari sisi uang yang dibagikan ke 16 peserta, juga tak bisa disebut kecil. Union of European Football Association (UEFA) di bawah presiden Michel Platini menggelontorkan uang yang terbesar sejak 1960, yakni sebesar 196 juta euro atau setara dengan Rp 2,35 trililun. Coba bandingkan dengan dana pembangunan mega proyek untuk sport centre Hambalang sebesar  Rp 1,1175 triliun.

Adapun perinciannya, setiap peserta Euro entah kalah entah menang sudah dijatah 8 juta euro. Jika menang atau draw saja, kocek juga bertamabah. Bayangkan, untuk setiap kemenangan di penyisihan group mendapat 1 juta euro, draw setengah juta euro. Lolos ke perempat final dapat 2 juta euro, lolos ke semifinal dapat lagi 3 juta euro, sedangkan lolos jadi juara meraih 7,5 juta euro. Jadi jika perjalanan sebuah timnas dari babak penyisihan hingga final ada 6 pertandingan, maka total uang yang akan diraih sang kampiun Euro 2012 mencapai 23,5 juta euro arau Rp 282 miliar.

Krisis dan Irasionalitas

Yang mungkin tidak habis pikir bahwa perhelatan akbar Euro kali ini berlangsung di tengah krisis Eropa. Juara Piala Eropa 2008  Spanyol dan salah satu tim yang difavoritkan untuk jadi juara kali ini, tengah terbelit utang yang besar. Menurut laporan Barclays Capital, beban utang Spanyol akan anik dari level 68,5% pada 2011 menjadi 95% pada 2012.Italia, salah satu tim favorit juga di Euro, juga terancam mendapat dana talangan karena utangnya sudah mencapai 1,9 triliun euro.Kemarahan dan ketidakpuasan warga di negara-negara yang dilanda krisis seperti di Portugal dan Irlandia, kian membuncah di dalam dada.

Seperti diketahui akar dari krisis Eropa bermula dari kesalahan desain Uni Moneter Eropa (EMU) yang menggunakan euro sebagai alat tukar mulai 1 Januari 1999 bagi 17 negara anggota ditetapkan oleh Bank Sentral Eropa (ECB) yang didirikan tahun 1998. Mengingat  terikat pada satu mata uang euro, masing-masing negara anggota jelas tidak bisa  melakukan devaluasi eksternal dengan mengubah nilai tukar mata uangnya terhadap mata uang asing.

Krisis Eropa  bermula dari Yunani.Yunani memasuki krisis  pada kuartal kedua 2009 dengan kontraksi ekonomi 0,4 persen. Utang nasionalnya mencapai 350 miliar euro, lebih besar dibandingkan dengan penghasilan negara itu. ”Bailout” atau dana talangan tahap I senilai 110-miliar euro pada pertengahan Mei 2010 belum cukup untuk menyelamatkan Yunani dari deraan krisis. Written-off (pemutihan hutang) Yunani yang diusulkanpun masih banyak dipertimbangkan dan belum menghasilkan keputusan berarti. Kini sudah disiapkan ”bail out” tahap II, namun situasi di Yunani masih serba tidak pasti. Salah satu ketidakpastian muncul dari hasil Pemilu 17 Juni 2012, yang mungkin saja  saja menghasilkan pemerintahan baru  yang akan keluar dari zona mata uang Euro.

Maka Uni Eropa terus menekan Yunani agar tetap berkomitmen pada  ”bail out” tahap II atau kelaur dari zona Euro. Bila pemerintah baru Yunani memutuskan  keluar dari  zona euro (Grexit),  efek dominonya akan mengancam kemana-mana. Simak saja dampak dari krisis Eropa sudah membuat ekspor Indonesia turun.

Tidak heran, jika krisis seperti itu membuat sebagian kalangan di Eropa, khususnya yang tidak begitu suka pada sepak bola, tampak sinis pada perhelatan sepak bola Euro. Mereka menilai sungguh tidak bermoral, berpesta di tengah krisis ekonomi.Namun Presiden UEFA Michel berpendapat bahwa sepak bola jangan dicampuradukkan dengan masalah politik dan ekonomi. Bola memiliki hukumnya sendiri, meski harus diakui sepak bola kadang memang irasional.

”Euro 2012 must go on”, tandas Platini, anak imigran asal Italia, yang membela Prancis dan juara pada Piala Eropa 1984.Sementara beberapa pemain dari negara-negara yang dilanda krisis hebat seperti Yunani, Irlandia, Portugal dan Spanyol malah berargumen bahwa Euro bisa menjadi ajang hiburan di tengah krisis.Memang bagi yang berjaya atau meraih kemenangan, apalagi sampai juara, pasti ajang Euro bisa menjadi obat penawar krisis. Tapi bila malah tersingkir atau kalah, termasuk di putaran pertama, sebagaimana dialami Irlandia, jelas rasa sakit akan bertambah pedih.



TAYANGAN EURO 2012 DAN TANTANGAN KITA


Sinar Harapan, Sabtu 16 Juni 2012
TAYANGAN EURO  2012 DAN  TANTANGAN  KITA
Endang Suryadinata, alumnus Erasmus Universiteit Rotterdam

Perhelataan akbar Euro atau Piala Eropa 2012 (8 Juni s/d 1 Juli 2012) di Polandia dan Ukraina sedang menjadi perhatian publik dunia. Walau tidak ada timnas Indonesia yang bermain di ajang Euro, namun atmosfir Euro sungguh terasa di negri ini, berkat kebaikan RCTI. Jangan lupa, di banyak negara lain, bahkan di Eropa, nonton siaran langsung di televisi juga harus membayar (TV Per Game).

Bahkan di desa-desa pelosok dari Aceh hingga  Papua, semua membicarakan Euro. Di Pasuruan malah ada suatu kawasan yang memasang semua bendera dari 16 peserta Euro. Di Makasar juga ada satu kampung yang warganya memasang bendera para peserta Euro dan jalan kampong penuh dengan pernak pernik Euro.Di tempat kongkow di Surabaya seperti mal atau kafe, bukan hanya pria, tapi juga beberapa wanita lihai dalam menganilis Euro. Mereka juga sudah punya jago atau  tim favorit masing-masing. Ada yang menjagokan Spanyol, Italia, Belanda atau Prancis.

Bukan hanya mereka, tampaknya kalau kita temui setiap orang di jalan, sawah  atau di kantor, mereka tiba-tiba tampak ahli menjadi komentator bola, sebagaimana ditunjukkan oleh para politisi kita.

Memang Euro menjadi oase tersendiri di tengah dahaga bangsa ini akan prestasi bola yang tak kunjung tiba.Apalagi sepak bola kian remuk akibat kisruh dan terbelahnya kepengurusan PSSI. Namun, di tengah kondisi demikian, hadirlah siaran langsung Euro  yang menyenangkan dan menghibur sepanjang bulan ini.

Tantangan Kita

Meskipun kita masih hanya sebatas menjadi bangsa penonton, ada baiknya momentum Euro kita manfaatkan juga untuk berefleksi sebagai sebuah bangsa. Tentu kita tidak akan bangga bukan, jika hanya terus menerus menjadi bangsa yang hanya bisa menonton kebesaran bangsa-bangsa lain yang hebat dalam menorehkan prestasi bolanya? Ini jelas menjadi tantangan bagi kita yang sungguh peduli dengan keberlangsungan dan masa depan negri ini.Tantangan ini sebenarnya bisa dijawab lewat bola.

Apalagi sepak bola memang masih menjadi sarana paling efektif untuk merekatkan kita sebagai satu anak bangsa. Di tengah ancaman intoleransi dan kekerasan akibat beragam konflik yang bermotif SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) sepak bola, khususnya bila tim nasional kita bertanding, masih bisa menjadi kekuatan perekat atau pemersatu. Sepak bola memang menjadi ajang yang tepat untuk membangkitkan patriotisme dan nasionalisme bangsa.Sayang kisruh kepengurusan ganda PSSI, menjadi bukti sepak bola kita ternyata juga sudah menjadi korban dari kepentingan politik dan ekonomid ari segelintir elit di negri ini.

Memang umumnya para politisi, analis politik serta kolumnis bola di dunia sependapat bahwa sepakbola merupakan ajang terakhir nasionalisme, apalagi jika timnas yang ikut mewakili negara, bermain sebagaimana  16 timnas di ajang Euro 2012.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      
Sepakbola disebut sebagai benteng terkahir nasionalisme, hal ini tentu tidak lepas dari diskursus globalisasi. Meski sepakbola disebut sebagai bagian dari kapitalisme global, tapi nasionalisme yang muncul setiapkali timnas bermain melawan timnas negara lain, tidak bisa digempur oleh arus deras globalisasi. Ini memang terdengar seperti ada “contradicitio in terminis”.  Di satu sisi, sosiolog Richard Giulianatti dalam bukunya  “Sepakbola, Pesona Sihir Permainan Global”, menyebut sepakbola telah menjadi mesin-mesin kebudayaan massa dan menjadi bagian dari budaya pop global.Tapi di sisi lain, bisnis global yang sudah melabrak habis batas teritorial negara nasional tidak bisa menundukkan nasionalisme.

Dan sejarah sudah memperlihatkan pada kita sekarang bahwa nasionalisme kita dahulu lahir dari konteks melawan kolonialisme. Maka kalau kita bicara bangkitnya nasionalisme, jangan pernah  melepaskannya dari konteks kita saat ini juga tengah menghadapi gempuran neoliberalisme atau korporatokrasi global. 

Ada yang mengatakan bahwa korporatokrasi global  adalah ibu dari segala macam binatang buas zaman ini. Mereka membangkitkan kerakusan yang bercokol dalam hati setiap orang dengan cara licik dan lihai lewat iklan. Inilah yang disebut konsumerisme, yaitu nafsu yang dibangkitkan dalam diri manusia untuk ingin memiliki, memakan, dan menghabiskan lebih banyak. Cara lain dari korporatokrasi ini adalah membodoh-bodohi. Sering kali “pasar bebas” dan “persaingan bebas” dipaksakan kepada negara-negara miskin! Seperti Indonesia yang dipaksa membuka pasarnya atas nama “pasar bebas” dan “persaingan bebas”.

Sudah banyak bukti betapa kongkalikong kapitalis global dan kapitalis lokal sungguh mengeruk kekayaan alam Indonesia dengan luar biasa.Konyolnya sebagain elit negri ini yang punya kaitan dengan korporatokrasi justru tega hanya mencari untung untuk diri mereka sendiri sambil menjajah sesama anak bangsa.

Ini bisa terlihat dari kasus Papua yang terus menyuguhkan kekerasan akhir-akhir ini.Atau kasus pencaplokan tanah adat dan terpinggirnya suku-suku asli yang menggantungkan diri pada hutan, yang kini kian dieksplotasi demi kepentingan investasi, khususnya tambang. Memang dalam menghadapi korporasi atau korporatokrasi global, masyarakat kita sama sekali tidak terlindungi (Kompas 13/6/2012, hal 12).

Keunggulan Kompetitif

 Jelas kondisi tak terlindungi itu tak bisa dibiarkan. Kita perlu mencari jalan keluar.Nasionalisme yang kompetitif, mungkin bisa menjadi alternatif atau jalan keluar  menghadapi gempuran  korporatokrasi selalu aktual dan tidak pernah basi. Jika keunggulan kompetitif ini tidak pernah terbentuk, selama itu pula kita tidak akan pernah diperhitungkan di percaturan dunia.

Namun bila  kita punya keunggulan kompetitif, pasti kita masih bisa berkelit, merespons keadaan dan setiap perubahan dengan bijak atau berbuat sesuatu untuk kemandirian dan keberlangsungan negri ini.Tidak boleh terus menerus menjadi bangsa penonton.

SHOW EURO 2012 DAN KRISIS EURO, Jawa Pos, Senin 11 Juni 2012


Restu Iska Anna Putri*)

“Football is business and business is money “(Rinus Michels,1928-2005)

Itulah adagium yang dilontarkan pelatih asal Belanda Rinus Michels yang sukses menggondol banyak piala, di antaranya Piala Eropa untuk Belanda (1988). Adagium itu terasa kebenarannya, di era industri sepak bola dewasa ini.

Bahkan adagium itu relevan sekali dengan Euro 2012 kali ini. Lepas dari beragam kepentingan politik, adu gengsi atau motif lainnya, Euro merupakan ajang yang menyita dan menjanjikan banyak uang, khususnya bagi 16 negara peserta dan tentu saja bagi sang calon juara.

Bagi dua tuan rumah, uang untuk menghelat Euro jelas besar. Meski Polandia dan Ukraina masuk kategori ”developing country” (negara berkembang), mereka pasti tidak mau menyia-nyiakan kepercayaan, sejak ditunjuk sebagai tuan rumah oleh Union of European Football Association (UEFA) pada 18 April 2007.

Dan kepercayaan  membutuhkan uang. Ukraina menggelontorkan anggaran USD 25 milyar (Rp 225 triliun)  untuk membangun infrastruktur, seperti 4 stadion dan berbagai fasilitas pendukung.Sedangkan Polandia mengeluarkan USD 10,3 miliar (Rp 90 triliun).

Untuk insentif bagi 16 peserta dan juara Euro, UEFA di bawah presiden Michel Platini juga menyiapkan uang kompensasi menggiurkan, yakni sebesar 196 juta euro atau setara dengan Rp 2,35 trililun. Coba bandingkan dengan dana pembangunan mega proyek untuk sport centre Hambalang sebesar  Rp 1,1175 triliun.

Adapun distribusi untuk masing-masing peserta dan juara Euro sebagai berikut : untuk setiap peserta mendapat 8 juta euro. Lalu, setiap kemenangan di penyisihan group mendapat 1 juta euro, draw setengah juta euro. Lolos ke perempat final dapat 2 juta euro, lolos ke semifinal dapat lagi 3 juta euro, sedangkan lolos jadi juara meraih 7,5 juta euro. Jadi jika perjalanan sebuah timnas dari babak penyisihan hingga final ada 6 pertandingan, maka total uang yang akan diraih sang kampiun Euro 2012 mencapai 23,5 juta euro arau Rp 282 miliar.

Jumlah insentif sebesar itu bisa ditutup dari  beragam sponsor, tiket penonton, tayangan televisi dan internet. Bahkan panitia masih bisa untung besar. Bayangkan, hampir 90% Piala Eropa 2008 sudah menjadi sponsor Euro 2012. Belum lagi sejumlah brand global yang sudah menandatangani kontrak sponsorhip. Sedangkan untuk tiket, dalam perhelatannya yang ke-13 ini, panitia Euro menyediakan setidaknya 1,4 juta tiket untuk 31 pertandingan. Harga tiket Euro 2012 yang dibagi dalam tiga kategori. Harga tiket yang paling murah berkisar antara 30 euro atau sekitar 370 ribu rupiah. Sedangkan tiket termahal adalah 600 euro atau Rp 4, 45 juta.

Kita juga belum menghitung di sektor merchandising atau broadcasting dsb yang perputaran uangnya pasti tidak kecil.

Indonesia termasuk beruntung, karena kita bisa menikmati tayangan langsung gratis di televisi. Di banyak negara, termasuk di Eropa sendiri,  setiap penonton siaran langsung, juga harus keluar kocek sendiri Begitulah sepak bola Eropa sudah menjadi bisnis yang menggiurkan dengan perputaran uang yang luar biasa besar.

Krisis Utang dan Uang Eropa

Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana perputaran uang besar itu masih berjalan di tengah krisis utang di Eropa hari-hari ini? Pertanyaan inilah yang mendorong sebagian kalangan di Eropa melakukan protes. Mereka menilai Euro 2012 sebagai ajang pamer uang dan kekayaan yang tidak bermoral di tengah kondisi krisis utang yang terparah dalam sejarah Eropa.Bahkan krisis utang ini sekarang sudah menjalar menjadi krisis politik yang pelik.Jerman misalnya sedang menjaga jarak dengan Ukraina.Kanselir Jerman Angela Merkel tidak akan datang ke Ukraina, bahkan ketika timnas Jerman bermain.

Krisis terjadi karena kesalahan desain Uni Moneter Eropa (EMU) yang menggunakan euro sebagai alat tukar mulai 1 Januari 1999 bagi 17 negara anggota ditetapkan oleh Bank Sentral Eropa (ECB) yang didirikan tahun 1998. Mengingat  terikat pada satu mata uang euro, masing-masing negara anggota jelas tidak bisa  melakukan devaluasi eksternal dengan mengubah nilai tukar mata uangnya terhadap mata uang asing.Krisis ini bermula dari Yunani yang terjerat banyak utang, sebagaimana dialami Spanyol, Portugal dan  Italia. Krisis makin pelik, karena Yunani mencoba keluar dari EMU dan memakai mata uang lamanya ”drachma”. Rencana keluarnya Yunani dari zona euro (Grexit) akan menimbulkan banyak efek domino.

Simak saja krisis Eropa kini mulai menjalar ke negri kita. Ini terlihat pada transaksi barang dan jasa ataupun lalu lintas modal dalam neraca pembayaran kita, baik langsung maupun tak langsung, lewat mitra dagang, seperti India dan Tiongkok.Rupiah kita juga tertekan.Ekspor kita merosot, sedangkan impor terus melonjak.

Namun Presiden UEFA Michel Platini menegaskan ”Euro 2012 must go on”, sebab sepak bola adalah sepak bola. Krisis ekonomi atau utang Eropa tanggungjawab para pemimpin negara, bukan tanggung jawab UEFA. Sebagian dari kita mungkin sangat  setuju dengan Platini. Bila terus memikirkan krisis, kapan kita akan bisa menghibur diri? Euro 2012, ajang yang jelas menyuguhkan hiburan segar di tengah krisis dan masalah  apapun.

*)Praktisi Keuangan dan Perbankan sekaligus Penggemar Bola di Balikpapan


KERINGAT PARA BURUH DI EURO 2012


Endang Suarini*), Jawa Pos 8 Juni 2012

Sejak digelar pertama kali pada 1960 di Prancis dengan Uni Sovyet sebagai juara, ajang empat tahunan Piala Eropa atau Euro selalu menyita perhatian. Para penggemar sepak bola di dunia, termasuk di Tanah Air pasti tak akan melewatkan satu pertandinganpun di ajang Euro 2012 yang mulai berlangsung  8 Juni hingga 1 Juli 2012 di Polandia dan Ukraina.Inilah untuk pertama kalinya, dua negara Eropa Timur bertindak sebagai tuan rumah, mengingat sebelumnya perhelatan akbar bola ini selalu berlangsung di negara-negara Eropa Barat. Tidak heran slogan Euro kali ini adalah ”Creating History Together”( Rubrik Euro 2012, Jawa Pos, 1 Juni 2012, hal 21).

Para komentator atau analis bola ”dadakan” pasti akan banyak muncul, mengulas strategi, teknik dan prediksi pertandingan.Para politisi, pejabat pemerintah, akademisi, pengusaha, pasti akan membicarakan Euro. Bahkan pengurus di dua PSSI kita juga akan membicarakan Euro, di tengah  ancaman sanksi FIFA untuk negri kita.

Tentu saja para buruh di negri ini, khususnya yang doyan bola, akan berjuang mati-matian untuk bisa menyaksikan Euro. Mengingat rata-rata, pertandingan dimainkan tengah malam atau dini hari waktu Indonesia, dijamin akan banyak buruh tidak maksimal dalam bekerja selama perhelatan Euro.

Para buruh memang bukan pemain bola, yang ikut bermain di ajang sepak bola akbar Euro kali ini. Namun jangan lupa perhelatan sepak bola yang kerap disebut sebagai Piala Dunia mini itu, tak akan mungkin berlangsung tanpa kontribusi para buruh.Ini bukan melebih-lebihkan peran buruh. Ada cukup banyak jejak buruh yang bisa dilihat.

Serikat Buruh Solidaritas

Misalnya negara Polandia, bisa menjadi salah satu tuan rumah karena dibangun di atas perjuangan para buruh.  . Kita mungkin masih ingat, berkat perjuangan tanpa kekerasan dari Serikat Buruh "Solidarnosc" (Solidaritas) yang dipimpin Lech Walesa sepanjang dekade 1980-an,  rezim komunis bisa diruntuhkah. Kota Gdanks,salah satu dari empat kota tuan rumah Euro adalah saksi runtuhnya rejim komunis negri itu.

Bahkan dunia mencatat, Walesa yang semula buruh di bagian listrik di galangan kapal  kemudian dianugerahi Nobel Perdamaian (1983) dan menjadi Presiden (1990-1994). Ketika berkunjung ke negri kita pada 2010, Walesa pernah mengatakan, demokrasi tak ada artinya jika banyak pengangguran atau upah buruh terus rendah, karena para buruh sesungguhnya merupakan benteng terkuat negara.

Yang pasti berkat demokrasi yang dibangun di atas perjuangan para buruh, Polandia kini menjadi negara demokratis. Di tengah krisis utang negara-negara Eropa Barat, ekonomi Polandia ternyata cukup  stabil. Stabilitas ekonomi itu terlihat dari kemampuan Polandia membangun infrastruktur dan segala pernak-pernik untuk Euro. Untuk membangun 4 stadion di kota Warsawa, Gdansk, Poznan dan  Wroclaw beserta pengeluaran lainnya, pemerintah Polandia harus mengeluarkan sekitar USD 10,3 Milyar atau Rp 90 trilyun. Misalnya stadion Warsawa, yang secara resmi dibuka untuk publik pada 29 Januari 2012 lalu dan dipakai untuk partai pembuka Euro, kabarnya menelan biaya hingga 500 juta euro atau hampir Rp 6 triliun.

Ketika pembangunan stadion dan fasilitas pelengkap lainnya, di situlah banyak dimanfaatkan tenaga dan pemikiran para buruh, seperti kuli bangunan, tukang,dsb. Dengan etos kerja keras, para buruh Polandia sudah lama dikenal sebagai buruh yang menghargai pekerjaan.Terlebih didorong semangat nasionalisme, yakni apa yang para buruh  kerjakan demi keharuman nama bangsa, nyaris semua hal  yang dibutuhkan oleh Polandia selaku tuan rumah, mampu dipenuhi.

Memang pernah sempat merebak kecemasan ketika pada Hari Buruh awal Mei lalu, para buruh mengancam akan mengganggu jalannya Euro, bila pemerintah Polandia tetap meneruskan kebijakan  memperpanjang batas usia pensiun sekaligus  memotong beberapa hak pensiun para buruh.Namun Perdana Mentri Polandia Donald Tusk akhirnya bisa meredam amarah para  buruh, lewat dialog dengan para pemimpin serikat buruh.

Sukacita Bola

Ancaman amarah itu kini berubah jadi sukacita ketika perhelatan bersejarah Euro dilansungkan.Tentu sukacita bola bukan hanya milik para buruh Polandia atau Ukraina. Tapi juga para buruh di seluruh dunia. Maklum, menjadi olah raga favorit, sepak bola juga sudah menjadi industri yang menyerap banyak tenaga kerja di mana-mana.

Akhirnya, bagi para buruh di Tanah Air, Euro juga pasti akan membawa sukacita tersendiri. Perhelatan akbar bola ini akan jadi ”intermezzo” atau selingan yang menghibur di tengah bergam masalah, seperti  mahalnya harga-harga kebutuhan pokok, di tengah gaji buruh yang rendah. Makanya para buruh jangan bermimpi seperti  Christiano Ronaldo atau pemain bola Eropa yang digaji Rp 2 Milyar per pekan. Andai  gaji 100 buruh di sini  dikumpulkan semua sepanjang 100 tahun, masih tidak akan mampu mencapai jumlah Rp 2 Milyar itu.

Nah, daripada tidak bahagia memikirkan gaji rendah, mari kita nikmati saja semua laga selama Euro, yang ternyata juga ada sentuhan keringat para buruh.

*)Aktivis Buruh di  Sidoarjo

Sepak Bola, Agama Padang Rumput?


Thomas Koten ; Pembelajar Filsafat, Penggemar Sepak Bola
Sumber :  SUARA KARYA, 15 Juni 2012





Sepak bola modern, dengan segala suguhan teknik permainan tingkat tinggi, dus dengan daya seni dan keindahan yang menghipnotis dan menghibur, kemudian terus berkembang dalam balutan kepentingan politik, ekonomi, dan sosial budaya, seperti telah mengalahkan segala-galanya. Piala Eropa yang kini sedang berlangsung di Polandia dan Ukraina, serta Piala Dunia, misalnya, telah sanggup menenggelamkan manusia di seantero dunia dari rutininitasnya yang membosankan untuk ikut terlibat sebagai penonton, entah itu hanya lewat layar televisi maupun menonton langsung di stadion-stadion yang megah bagaikan gedung pertunjukkan seni.

Daya pikat sepak bola yang begitu tinggi, yang mampu mnghipnotis miliaran pasang mata di bawah kolong langit itulah, kemudian mampu menyedot selera dan keinginan orang untuk lebih mamilih menonton sepak bola ketimbang pergi mengikuti kebaktian di gereja. Di Eropa, khususnya di mana industri sepak bola begitu mendominasi, telah membuat para jemaat lebih suka menonton pertandingan sepak bola yang disuguhi tim-tim kesayangannya daripada pergi ke gereja pada akhir pekan.

Maka, kata sejumlah sosiolog, sepak bola dengan segala gebyarnya bukan saja semakin menggoda dan menghipnotis manusia, tetapi seakan telah mampu melindas ibadat keagamaan. Apalagi, dalam perhelatan-perhelatan sepak bola berskala besar seperti Piala Eropa, Piala Dunia atau Olimpiade, tersaji aneka acara baik pada pembukaan, penutupan maupun pada saat sedang berlangsungnya pertandingan, bak ritual keagamaan yang bernuansa sakral.

Michael Novack, dalam bukunya The Joy Sport (1976) mengatakan perhelatan olahraga akbar tidak lebih semacam liturgi atau upacara riligius agama-agama. Di sana ada tatacara yang nyaris sakral; ada askese, ada simbol-simbol kebesaran negara-negara seperti bendera, lagu kebangsaan, kostum, dan lain-lain, serta ada tempat sakral yang dikhususkan bagi para pemain, penonton, pelatih dan lain-lain yang tidak dapat diganggu gugat. Ketika si pemain mengenakan kostumnya, maka ia menjadi semacam 'imam' bagi para fansnya, yang tidak lebih merupakan 'wakil umat beriman' yang harus 'dihormati'.

Para pemain atau para bintang lapangan hijau yang mampu menjebol gawang lawan, yang memenangkan pertandingan, dan mengharumkan nama bangsanya, kerap digambarkan sebagai 'orang suci' dan 'penyelamat'. Sementara para fans mereka sering dilukiskan sebagai 'orang-orang beriman dan berbudi luhur' yang selalu dengan sepenuh hati berziarah ke stadion-stadion. Dan, stadion-stadion bak panggung teater atau gedung-gedung pertunjukkan seni seperti di Eropa, khususnya di Jerman yang sering disebut heiliger rasen, yang secara gamblang dapat diartikan 'lapangan rumput yang nan suci atau sakral'. Stadion-stadion sepak bola yang megah sering pula disebut 'katedral', Katedral Bernebeu, New Camp, Old Strafford, D Alfonso Henriques, Olympic Stadium, katedral Municipal, dan lain-lain.

Dan, siapa pun yang mengamati sepak bola akbar (ritual keagamaan) di stadion (tempat ibadah) akan mengakui ekspresi para penonton seperti orang yang sedang berdoa khuzuk atau bersorak memuji Sang Ilahi. Dan, para pemain tatkala menjebol gawang lawan, kerap juga memberikan tanda salib atau bersujud syukur di lapangan. Tak jarang terlihat juga para penonton terdiam, merentangkan tangan sambil mulut bergerak dalam doa hening. Semua itu seperti terbawa dalam daya rirual magnis nan dahsyat.

Itulah yang kemudian dikatakan Sindhunata dalam sebuah tulisannnya, bahwa berbagai peristiwa religious atau ritual di lapangan hijau, semakin menyadarkan akan kebenaran kata-kata yang sering diucapkan orang di tengah dunia sekuler ini, "Saya ini spiritual tetapi bukan religius." Lantaran meski di tengah hingar-bingar dan sorak-sorai menyaksikan serunya pertandingan sepak bola, orang terus menunjukkan perilaku keagamaannya sambil berdoa baik untuk keselamatan para pemain pujaannya atau bagi kemenangan timnya.

Maksudnya, pengalaman spiritual orang modern sekarang tidak lagi bisa ditangkap oleh wadah-wadah kereligiusan yang institusional. Sangatlah tidak bijaksana mengecap mereka tidak lagi mengenal Tuhan, melulu dari agama formal belaka. Alias mereka telah menciptakan lapangan hijau sebagai tempat berdoa, dan dalam moment tertentu, mereka menjalankan aktivitas keagamaanya, ibarat di padang rumput itulah mereka beragama, dan menunjukkan eksistensi keagamaannya.

Pencarian cara baru beriman yang dimaksudkan di sini dalam situasi tertentu memang semakin cocok di Eropa. Mengingat seperti ditulis Ibrahim Ado-Kurawa dalam Theorizing the Football Religion (2004), bahwa orang-orang Eropa kini lebih memilih menonton sepak bola daripada ke gereja. Di Inggris, jumlah jemaat yang datang ke gereja hanya sekitar 13 persen pada tahun 1992. Dan, kini jumlah itu terus menurun. Banyak riset konvensional juga menyimpulkan bahwa popularitas gereja kalah oleh popularitas sepak bola.

Para sosiolog yang mengamati dimensi sosial sepak bola menegaskan bahwa salah satu fungsi sepak bola memang mempertahankan dan mengembangkan tatanan sosial. Fungsi ini juga kerap diperankan oleh agama. Dalam ritual sepak bola lahir semangat kemanusiaan seperti kedamaian, persaudaraan dan solidaritas di antara pemain dan penonton. Bahkan dalam ranah politik, sepak bola semakin dikemas menjadi alat diplomasi politik.

Yang terakhir ini, memang sepak bola dan olahraga lainnya oleh banyak pemimpin dunia semakin dijadikan sebagai arena untuk menunjukkan eksistensi, kemuliaan dan kehormatan bangsanya. Bahkan, sejak 1960 Robert Kennedy di depan United Stated mengatakan, sepak bola dapat dipandang sebagai suatu ukuran yang menunjukkan sejauh mana suatu bangsa di mata internasional. ●

Ritualisme Piala Eropa


Thomas Koten ; Sarjana Filsafat dan Teologi
SUMBER :  MEDIA INDONESIA, 12 Juni 2012




SENI dan keindahan sepak bola modern, seperti yang sedang dihelat pada Piala Eropa 2012 di Polandia dan Ukraina sekarang ini, tampak semakin memesona. Atmosfer magnetnya pun begitu tinggi sehingga membuat permainan sepak bola itu sendiri tidak sekadar menghibur, tetapi juga menjadi sumber analisis dan bahan studi yang menarik.
Sebab, menganalisis sepak bola, menyitir Leter L Berger dan Hansfried Kellner (1985), `bukan hanya sebagai mana tampaknya'. Yang tampak nyata (manifesto) bukanlah merupakan seluruh cerita; ada yang tersembunyi (laten) yang harus dipelihara dan kemudian dapat dieksplorasi terhadap berbagai dimensi yang melingkupnya.

Dari dimensi fungsionalisme struktural, sepak bola modern dapat dikerling sejauh ia memiliki fungsi-fungsi positif yang memberikan sumbangan langsung atau sekadar inspirasi (football is an inspiration) bagi kemajuan di bidang ekonomi, sosial, politik dan budaya. Ia juga merupakan bagian dari sistem sosial yang mampu menambah nilai-nilai ekonomi, sosial, politik, dan budaya bagi masyarakat. Sepak bola juga memberikan semacam alternatif, yang lebih dari sekadar sebuah refleksi masyarakat simpel (football is more then simply reflection on society). Dengan sepak bola masyarakat bisa eksis dan menunjukkan eksistensi serta harga dirinya.

Di samping itu, sepak bola menyajikan semacam teori klasik yang merupakan sisi negatif dari olahraga ini. Selain sepak bola dianggap sebagai candu (football is opiate) bagi masyarakat modern, yang dapat menghilangkan atau menenggelamkan sejenak manusia dari segala macam keruwetan rutinitas hidupnya, ia juga memproduksi sejumlah perilaku fanatisme penonton yang akhirnya dapat membuncahkan berbagai perilaku anarkistis suporter, yang tidak hanya merugikan masyarakat secara materi, tetapi juga nyawa melayang sia-sia.

Di Belgia (Heysel) atau di Inggris (Shefield), bahkan tahun 1967 sepak bola berujung perang antara El Salvador dan Honduras. Ingat juga kerusuhan pada pertandingan di Port Said, Mesir, pada 2012 yang menewaskan 74 orang dan 1.000 luka-luka. Juga di Gana (2001) yang menewaskan 126 orang di Stadion Accra; Afrika Selatan (2001) 43 orang tewas; di Guatemala (1996) 82 orang tewas; di Nepal (1988) menewaskan 90 orang; di Bradford, Inggris, (1985) 56 orang tewas; Moskow, Rusia, (1982) 340 orang tewas; Skotlandia (1971) 66 orang tewas; Peru (1961) 300 orang tewas; dan masih banyak lagi.

Ritualisme Perhelatan

Lebih jauh, daya pikat sepak bola modern, dus acara-acara pergelaran yang semakin memesona, membuat sosok sepak bola semakin menarik untuk dielaborasi, khususnya dari sisi ritualisme yang disuguhkan, seperti pada upacara akbar Piala Eropa atau Piala Dunia. Michael Novack dalam bukunya, The Joy of Sports (1976), mengatakan perhelatan seperti Piala Dunia tidak lebih semacam `liturgi' atau upacara-upacara religius.

Mengapa? Karena di sana ada tata cara yang nyaris sakral; ada askese, yaitu disiplin yang menahan dan mengatur dorongan dari dalam diri demi aturan dan nilai permainan, ada pula simbol-simbol kebesaran seperti bendera, lagu kebangsaan, kostum dan lain-lain, serta ada tempat sakral yang dikhususkan bagi pemain, penonton, dan pelatih.

Secara spesifik, tulis I Bambang Sugiharto (2000), permainan sepak bola untuk saat ini merupakan ritual liturgis dunia birokrasi. Ia memberi simbol dan mendramatisasi bentuk masyarakat dengan pembagian kelas-kelas profesional dan elite teknokratnya. Kelas-kelas profesional disimbolkan pembagian kerja di lapangan, seperti penjaga gawang, gelandang, penyerang, dan lain-lain. Elite teknokrat disimbolkan tim pelatih, manajer, dan sebagainya. Sepak bola mencerminkan pula disiplin, strategi, semangat kelompok, dan kerja sama, ambisi, dan kekerasan dunia teknokratis.

Ciri ritual sepak bola kolosal juga diakui sosiolog R Real dalam bukunya, Exploring Media Culture: A Guide (1996). Dikatakannya, perhelatan sepak bola akbar seperti upacara ritual lainnya menuntut khalayak di stadion-stadion dan mereka yang menontonnya lewat tayangan TV untuk berpartisipasi sebagai pengamat sekaligus sebagai peserta yang mengidentifikasikan diri dengan tim favorit mereka. Para pemain tidak lebih sebagai sang idola yang dianggap sebagai dewa, sang penyelamat, yang menyelamatkan mereka keluar dari kejenuhan rutinitas hidup.

Memang, sejak zaman Yunani, sepak bola, khususnya, dan olahraga, umumnya, sudah dijadikan semacam religi. Pierre de Counbertain, pendiri Olimpiade modern, pada awalnya mendasarkan Olimpiade itu pada tujuan religius, yaitu guna mendamaikan berbagai jalur agama besar di dunia yang sering bertentangan. Untuk itu, dibuatlah Olimpiade semacam ritual religius. Jadi, misalnya, tempat Olimpiade dianggap semacam liturgi--tempat `ziarah'. Cara masuk para atlet ke lapangan juga harus semacam `prosesi'. Dan para panitianya seperti `imam-imam'. Janji atlet semacam ritus penyucian dan para artis melengkapi aksen `perayaan'.

Tujuan Eksternal Ritualisme

Perhelatan akbar Piala Eropa atau Piala Dunia kini pun benar-benar dibuatkan semacam Olimpiade, dengan mengedepankan sisi ritual religius. Hanya, kini semua itu lebih tepat diselenggarakan untuk menciptakan perdamaian, kebersamaan, dan solidaritas kemanusiaan, dus sebagai manifestasi kerinduan umat manusia akan satu dunia yang lebih damai dan harmonis.

Tujuan penyelenggaraan Piala Eropa, sama halnya Piala Dunia, yang semakin akbar dan kolosal ini, juga tidak lebih sebagai tujuan religius juga; menggapai kehidupan dan kemanusiaan yang utuh lahir batin adalah juga cita-cita agama. Dengan demikian, perhelatan akbar sepak bola itu, jika dikerling lebih ke dalam, juga untuk mendamaikan jalur-jalur agama-agama di dunia yang kerap bertentangan yang disulut rasa curiga.

Meskipun harus dicatat bahwa religiositas dalam olahraga, seperti Piala Eropa itu, hanya sebatas kemasan ritual lahiriah belaka. Energi dan emosi-emosi yang bernuansa religius bukan untuk memperdalam spiritualitas diri sebagai umat beragama, melainkan lebih dimanfaatkan untuk mengabdi kepentingan-kepentingan ekonomi, ideologi politik, sosial, dan budaya-sebagai tujuan eksternalnya-yang berujung pada degradasi berganda: religi menjadi tanpa Allah dan olahraga sepak bola menjadi pendewaan manusia-manusia perkasa (superstar sepak bola).

Namun, semua itulah yang membuat perhelatan akbar Piala Eropa menjadi menarik, bukan hanya menikmati seni dan keindahannya yang menghibur, melainkan juga sebagai media yang terbuka bagi analisis dan sumber pembelajaran.

Sekurang-kurangnya diharapkan, perhelatan akbar Piala Eropa empat tahunan seperti Piala Dunia itu semakin menjadi bahasa religius yang lebih subtil jika dibandingkan dengan bahasa ekonomi dan politik yang kering dan verbal semata, dus semakin menjadi magnet hubungan antarmanusia yang memberi inspirasi perdamaian umat manusia. ●