Thursday, March 15, 2012

Humanisme Mangunwijaya Buku yang Terbuka


Jumat, 20 Maret 2009 | 05:26 WIB

Berbicara tentang Mangunwijaya berarti berbicara tentang humanisme, sebuah topik yang senantiasa aktual, tidak lekang, dan terus diperjuangkan. Humanisme menuntut pembaruan hidup, terlebih-lebih sikap terus menjadi manusiawi, ziarah kehidupan dari hominisasi menuju humanisasi menurut istilah Drijarkara.

Melalui pergulatan pemikiran, penghayatan, dan hidup keseharian dalam kategori sebagai arsitek, novelis, aktivis LSM, pendidik dan pastor, Romo Mangun melakukan peziarahan tanpa kenal lelah. Rekam jejaknya amat liat, merasuki segala bidang kehidupan dengan fokus penghargaan tinggi terhadap harkat manusia, yang tidak terbebas dari kekurangan, tetapi memperoleh kedudukan tertinggi di atas segala ciptaan.

Lewat karya-karya yang bernapas humanis, dia meninggalkan warisan secara fisik dalam novel, bangunan arsitektur, dan buku-buku referensi.

Keberpihakannya pada mereka yang miskin (tidak selalu dalam arti ekonomis) dan terpinggirkan sangat signifikan. Kritik kerasnya tentang kebangkitan dari rasa rendah diri, inlander bangsa kuli, disampaikan dengan segala cara, bahkan sering berkesan sarkastis.

Mengenai praksis pendidikan, sebuah istilah yang selalu dia sampaikan mengutip kosakata temuan Paulo Freire, sikapnya jelas: praksis pendidikan selama ini membelenggu anak didik. Dari semua jenjang pendidikan, terpenting adalah pendidikan dasar, terutama sekolah dasar. Fasisme Jepang dan militerisme era Orde Baru menjadi sasaran tembak kritisnya. Pendidikan harus membebaskan, kata panelis Supratiknya, sehingga ia melakukan uji coba SD Mangunan.

Arsitektur di mata Mangunwijaya bukanlah sekadar perwujudan rancang bangun, melainkan juga bangunan kehidupan. Menurut panelis Eko Prawoto— salah satu arsitek pengikut fanatik gaya arsitektur Romo Mangun—substansi arsitektur yang terutama adalah perkara nilai, gagasan, dan sikap batin. Arsitektur merupakan rangkaian relasi yang majemuk.

Dari semua karya fiksinya, kata panelis Ayu Utami—novelis yang belum pernah bertatap muka dengan Romo Mangun—tidak pernah ditampilkan manusia yang sungguh-sungguh keji. Tokoh Durga yang dalam alam pikir orang Jawa adalah tokoh ”hitam” dia balikkan sebagai tokoh ”putih” yang senantiasa muncul dalam semua novelnya, tidak hanya dalam novel Durga Umayi.

Konsep kemanusiaan yang padu, demikian Ahmad Syafii Maarif, membuat kehadiran Romo Mangun mengatasi ruang dan waktu. Kekaguman Romo Mangun tentang pemikiran dan praksis politik Sutan Sjahrir karena keduanya menempatkan sisi kemanusiaan sebagai fokus, menurut Maarif, kemanusiaan Sjahrir dilengkapi dengan pengalaman getir hidup dalam masa penjajahan Belanda, Jepang, dan kemudian di bawah rezim otoritarian Orde Baru. Bertemulah konsep dunia dan manusia yang tidak pernah hitam putih dalam Sjahrir maupun Mangunwijaya.

Humanisme yang dikembangkan Mangunwijaya ibarat buku yang masih terbuka, masih koma, belum titik. Humanisme dengan fokus jati diri manusia yang abu- abu, tidak hitam-putih, masih perlu terus dikembangkan. Tidak mudah memang sebab masih berkembang subur kultur budaya feodalisme yang telanjur mendarah daging, pencampuradukan ”milikku” dan ”milik negara” warisan feodalisme khas Jawa maupun warisan sebagai bangsa terjajah. Memang, walaupun belum terjabar luas, Romo Mangun menawarkan konsep manusia humanis dengan istilah manusia Pasca-Indonesia, Pasca-Nasional, Pasca-Einstein.

Yang dicita-citakan adalah sosok manusia Indonesia yang terbuka pada nilai-nilai kemanusiaan universal.

Di tengah karut-marut bangsa Indonesia saat ini, humanisme Mangunwijaya menjadi relevan. Dia ibarat menawarkan tempat menengok pada saat kehidupan berbangsa dan bernegara belum menempatkan manusia sebagai fokus, di tengah praktik dehumanis yang hadir dalam keseharian kita. (STS)

No comments: