Sunday, May 31, 2009

INSPIRASI DARI DAHLAN ISKAN

INSPIRASI DARI DAHLAN ISKAN-Tabloid Gloria edisi 370 IV September 2007,
Tom S Saptaatmaja

Bagi Pembaca Harian Jawa Pos dan jaringannya, sejak edisi 26 Agustus 2007 lalu dan seterusnya mendapat sharing menarik dari Dahlan Iskan yang baru melakukan cangkok liver di Tiongkok. Banyak hal yang menarik dalam pergulatan Pak Dalan dalam menghadapi penyakit, penderitaan dan kemiskinan pada masa kecilnya.Dalam menghadapi kondisi seperti itu, ternyata terjadi dan tanya jawab batin antara Pak Dahlan dengan Tuhan. Benar-benar terjadi pergulatan eksistensial, karena menyangkut keberadaan atau hidup mati beliau. Yang mengejutkan rasa humor Pak dahlan tidak hilang, meski berada dalam kondisi yang sulit dan berat. Secara pribadi, penulispun diperkaya. Pembaca Gloria ada untungnya jika menyimak pengalaman beliau, karena toh tabloid ini juga masuk dalam kelompok Jawa Pos Group.

Seperti ditulis Pak Dahlan sendiri, mulai 6 Agustus 2007 lalu, beliau hidup dengan liver barunya. Liver lamanya dibuang karena terkena sirosis akibat virus Hepatitis B. ”Kelihatannya akan baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda kegagalan seperti yang dialami Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh yang digadang-gadang menjadi salah satu calon presiden) yang menjalani transplantasi liver di Tiongkok pada 19 Juli 2004”(Jawa Pos,
26/8/2007).

Keberanian Memanggul dan Mati di Salib

Mengapa Pak Dahlan berani melakukan operasi ganti liver? Ditulisnya lagi, bahwa beliau biasa membuat keputusan berani, keputusan besar, dan keputusan yang cepat di perusahaan ikut memengaruhi keberanian membuat keputusan dengan kualitas yang sama untuk dirinya. Beliau juga yakin mampu me-manage hal-hal yang rumit selama ini, tentu juga akan mampu me-manage kerumitan persoalan yang ternyata ada di dalam tubuhnya.

Apakah tidak ada kekhawatiran sama sekali akan gagal dan kemudian meninggal? Tentu ada. Tapi, amat kecil. Pak Dahlan tahu kapan harus ngotot dan kapan harus sumeleh. ”Keluarga saya yang miskin dan menganut tasawuf Syathariyah sudah mengajarkan sejak awal tentang sangkan paraning dumadi (dari mana dan akan ke mana hidup dan semua kejadian)”. Ini membuatnya akan ngotot melakukan apa pun untuk berhasil, tapi juga tahu batas kapan harus berakhir. Apalagi banyak keluarga Pak Dalan mati muda, sehingga beliaupun sudah siap sejak kecil akan mati muda.

Jadi ternyata keberanian menaggung resiko termasuk berani menghadapi maut, bisa membuat kita justru kuat dalam menaggung apapun.Yesus, teladan kita juga tahu bahwa Dia harus disalib dan siapa yang mengklaim sebagai muridNya harus berani memanggul salib. Keberanian menghadapi segala realita, sepahit apapun, apalgi jika kita tanggung dalam salib Yesus, sebenarnya justru akan memberikan kita kekuatan dan penghiburan di masa-masa sulit seperti saat menghadapi bencana, masalah rumah tangga atau sakit penyakit serta 1001 persoalan lain.

Doa dan Email Pak Dalan

Yang istimewa bahwa Pak Dahlan mendapat dukungan doa dari beragam kalangan agar beliau selamat dalam operasi liver itu.Umat Islam, Kristiani, Budha hingga Aliran Kebatinan Sapto Darmo ikut berdoa. Ini menunjukkan sosok beliau yang diterima semua kalangan. Dan doa memang bisa menjadi sumber kekuatan. Vincentius A Paulo, tokoh Prancis abad 16 yang peduli pada kaum miskin pernah berkta:”Berilah aku seorang pendoa, maka aku akan bisa melakukan segalanya”. Kalau ada yang berdoa bagi kita di masa-masa sulit, itu jelas menjadi keberuntungan kita.

Cuma dalam hal doa ini, Pak Dahlan punya pendapat yang berbeda dengan penulis, karena doa dalam pandandan beliau seperti memerintah Tuhan. Beliau tak mau seperti itu. Maka ketika akan operasi ganti liver itu,Pak dalan berdoa: ” Tuhan, terserah engkau sajalah! Terjadilah yang harus terjadi. Kalau saya harus mati, matikanlah. Kalau saya harus hidup, hidupkanlah! Selesai. Perasaan saya tiba-tiba lega sekali. Plong. Kereta pun tiba di depan ruang operasi”(Jawa Pos 28/9).

Berikut ini antara lain email penulis pada Pak Dahlan tanggal 6 September lalu untuk membicarakan masalah doa tersebut:” Saya merasa beruntung membaca sharing Panjenengan.Saya ikuti, kata demi kata,kalimat demi kalimat.Luar biasa dan harus saya apresiasi.Saya semakin kagum dengan Panjenengan, mahluk Tuhan yang unik dan memperkaya wawasan saya.

Tapi jujur saja saya tidak sependapat soal doa yang identik dengan memerintah Tuhan.Doa dalam iman katolik saya adalah sebuah komunikasi antara Sang Pencipta dengan ciptaan yang paling berakal yakni manusia. Dan relasi Allah dengan manusia, bukan relasi antara atasan-bawahan.

Doa dalam pandangan pribadi saya seperti hubungan antara Allah sebagai sumber air –sumber nafas-sumber hidup.Kalau kita tidak berdoa, tidak punya relasi dengan Tuhan, kita akan kehilangan nafas, kehausan dan mati, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara rohani. Saya suka menghayati doa atau hubungan saya dengan Allah, sebagai relasi antara seorang ibu yang sedang menyusui dengan si jabang bayi (jabang bayi itu saya).Saya merasa tenang, damai, tidak mikir apa-apa, walaupun hidup di dunia penuh masalah”.

Penulispun juga menyinggung dalam email ke Pak Dahlan itu agar kita tidak begitu mendewakan akal kita sendiri, seolah kita mau menyelami jalan pikiran Tuhan.Tapi kita juga tidak mungkin bisa memahami jalan pikiran Tuhan, kita hanya berharap apa yang kita lakukan sesuai dengan kehendakNya. Agustinus yg sekuler (sebelum jadi katolik) pernah berjalan di pantai, lalu melihat seorang anak. Anak itu membuat kolam kecil di tepi pantai. Lalu dia memasukkan air laut ke kolam itu dengan gayung kecil,berulang kali.
Agustinus bertanya:"Apa yang kau lakukan?"
Si anak menjawab :"Aku sedang mencoba memasukkan air laut ke
Kolamku"
"Itu mustahil dan konyol"
Si anak yang ternyata seorang malaikat menjawab :"Lebih konyol lagi adalah manusia yang otaknya begitu kecil tapi coba memasukkan kemahabesaran Allah dam kesempitan pikirannya"

Email saya ternyata dibalas Pak Dahlan seperti berikut:
"Trims pak atas emailnya.
Kalau saya perhatikan email bapak, rasanya saya memang kurang pandai
memilih kata dalam tulisan saya. seharusnya saya membedakan term doa dalam
islam dan kristen. kalau saya lihat (saya sering hadir dlam kebaktian di
gereja kristen maupun katolik tapi tidak ikut dalam sakramennya), memang
ada sedikit perbedaan term "doa". Di gereja, kalau saya tidak salah
menangkap, semua bentuk pujian kepada Tuhan disebut "doa".
Di Islam "doa" lebih pada term permintaan kepada Tuhan. Sedang untuk
pujian2 kepada Tuhan disebut "dzikir" atau "dzikr", atau kalau orang Jawa
menyebutkan "dikir". Jadi doa dan dzikr agak beda. Yang saya maksud dalam
tulisan saya dengan "doa" adalah khusus mengenai "permohonan". Di Islam
memang ada perintah perbanyak dzikir, tapi tidak ada perintah yang sama
untuk doa.
Dengan demikian rasanya perbedaan pendapat tidak ada lagi.
Atau masih?
salam
Dahlan Iskan”

Semoga tulisan ini memberi inspirasi bagi umat Tuhan dalam menghadapi setiap masalah khususnya sakit dan penderitaan. Pak Dahlan memang bukan Tuhan atau seorang santo, demikian juga penulis bukanlah juru bicara Tuhan atau sosok yang istimewa.Hanya penulis juga pernah sakit parah dan banyak orang mengira saat sakit itu hidup saya sudah berakhir. Sepi sendiri dalam pergulatan batin dan raga yang lara. Lewat doa dan kesabaran serta cinta kasihNya, penulis bisa bangkit lagi dan melanjutkan kuliah, bekerja dan hingga saat ini masih menikmati damai sejahtera, sukacita dan 1001 anugrahNya. Tak ada yang hendak saya pamerkan,selain pamer dan bangga akan kasih Yesus yang membuat kita kuat menanggung segala perkara.

No comments: